Sejarah Itu Mitos

•9 Desember 2008 • 3 Komentar

MITOS SEJARAH INDONESIA:

Dilema Mitologisasi vis-à-vis Demitologisasi dalam Sejarah Indonesia

Aditya N. Widiadi

Abstrak: Sejarah Indonesia adalah sejarah yang penuh dengan mitos. Kecuali historiografi tradisional yang memang secara sadar memasukkan mitos dalam historiografinya, ternyata sejarah modern dan posmodern yang diusahakan secara rasional ternyata terjebak ke dalam mitos pula. Tulisan ini mengafirmasi pemikiran Max Horkheimer tentang dilema usaha manusia rasional, yang ternyata juga dijumpai dalam usaha manusia ketika mencoba merekonstruksi sejarahnya secara rasional.

Kata kunci: Sejarah Indonesia, Mitologisasi, Demitologisasi,

Sejarah itu bukan mitos!. Demikian salah satu definisi sejarah secara negatif menurut Kuntowijoyo (1999:7). Diktum ini merupakan kata-kata sakti yang harus dipegang teguh oleh para sejarawan profesional. Kelompok ini—yang oleh Sutherland (2008:34) disebut sebagai sejarah profesional modern (modern professional history)—menekankan pada peran penting penggunaan ilmu pengetahuan Barat sebagai metode untuk menyusun sejarah “nyata.” Sejarah “nyata” adalah rekonstruksi dari “apa yang sebenarnya terjadi” yang dipelopori oleh Leopold von Ranke.

Kelompok sejarawan profesional dengan tegas menuntut dipisahkannya mitos dengan fakta, sebagai antitesis atas keberadaan sejarah tradisional yang seringkali mengawinkan mitos dan fakta. Kaum sejarawan profesional tidak mengakui sama sekali hubungan kekerabatan antara mitos dan fakta, dengan berusaha menciptakan “missing link” antara keduanya. Mereka seolah lupa bahwa secara genetikal, sejarah merupakan anak turun mitos setelah melalui berbagai tahap evolusi dalam menghadapi seleksi jaman. Sejatinya, sejarah merupakan hasil evolusi dari mitos yang dirasionalisasi, bahkan gen-gen dalam sejarah dewasa ini masih mengandung unsur mitos.

Tulisan ini sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Max Horkheimer (dalam Sindhunata, 1983) mengenai kegagalan usaha manusia rasional yang macet dan gagal, sehingga terjebak dalam keirasional-irasionalan yang baru. Menurut Horkheimer, mitos yang irasional ternyata merupakan usaha manusia yang rasional, sedangkan usaha manusia yang rasional ternyata mitos yang irasional. Dengan demikian, usaha manusia rasional tidak akan berhasil menghilangkan mitos, malah secara niscaya usaha itu pasti akan mengakibatkan mitos.

Tulisan ini secara afirmatif mencoba untuk membuktikan pemikiran Horkheimer dalam ranah sejarah, khususnya sejarah Indonesia. Sejarah Indonesia adalah sejarah yang penuh dengan mitos. Ketika historiografi tradisional dominan, yang ditandai dengan keberadaan babad, hikayat, tambo, dan sebagainya, mitos tidak diperlakukan sebagai unsur yang najis dalam historiografi mereka. Namun pada masa historiografi modern mengambil posisi sentral, dan historiografi tradisonal terlempar ke periphery, maka historiografi yang disebut pertama memperlakukan mitos sebagai dosa besar yang wajib dihindari dalam penulisan sejarah. Saat ini ketika kemapanan historiografi modern digugat dan didekonstruksi oleh aliran posmodernisme, tampaklah bahwa usaha historiografi modern sebenarnya masih menghasilkan mitos-mitos baru dalam wajah manifestasi yang rasional. Pada titik ini, kelak kita akan melihat bahwa posmodernisme sendiri ternyata akan menghasilkan mitos-mitos baru yang irasional dalam sejarah Indonesia.

Dinamika Mitos dalam Sejarah

Mitos berasal dari bahasa Yunani mythos, yang berarti dongeng (Kuntowijoyo, 1999:7). Lama sebelum manusia menulis sejarah secara ilmiah, mitos telah lebih dulu hadir dan mampu menjawab pertanyaan “wie es eigentlich gewesen,” yaitu bagaimana sesuatu sesungguhnya bisa terjadi (Kartodirdjo, 1982:16). Dengan kata lain, secara historis, sebenarnya mitos adalah nenek moyang sejarah. Keduanya sama-sama berupaya menceritakan masa lalu dengan caranya masing-masing.

Kuntowijoyo (1999:8) membedakan mitos dan sejarah hanya pada dua titik singgung. Pertama, mitos memiliki unsur waktu yang tidak jelas. Berbeda dengan sejarah yang menekankan pada keberadaan unsur waktu yang kronologis, justru mitos mengabaikan peranan waktu sama sekali. Mitos tidak memiliki perhatian pada awal, akhir, kapan suatu peristiwa terjadi, atau suatu urutan masa tertentu yang kronologis. Ia sengaja tidak menjelaskannya secara tegas karena bagi mitos bukan waktu yang terpenting dalam menjelaskan kapan suatu peristiwa terjadi, melainkan lebih mengutamakan apa dan bagaimana sesuatu terjadi. Kartodirdjo (1982:16) menilai, mitos lebih berfungsi untuk membuat masa lalu bermakna dengan memusatkan kepada bagian-bagian masa lampau yang mempunyai sifat tetap dan berlaku secara umum, karenanya dalam mitos tidak ada unsur waktu yang jelas.

Titik singgung yang kedua, terletak pada anggapan bahwa mitos memuat kejadian yang tidak masuk akal—menurut sudut pandang orang masa kini. Pada titik inilah, sejarawan modern dengan arogan menganggap mitos tidak layak menjadi bagian dari sejarah. Sejarah modern mengklaim bahwa ia mampu menjelaskan masa lalu menurut standar rasio yang berlaku di masa sekarang. Mitos yang seringkali menjelaskan masa lalu yang kabur dari pandangan manusia, akhirnya dibalut dengan berbagai takhayul untuk menjelaskan suatu fenomena. Inilah usaha manusia rasional untuk menjelaskan masa lalu. Sebagai contoh kasus, ada mitos dogmatis—yang diimani oleh agama-agama besar saat ini—bahwa manusia pertama yang ada di dunia adalah Adam dan Hawa yang diciptakan dari tanah. Namun kapan Adam dan Hawa diciptakan dan kapan mereka diturunkan ke dunia? tidak terdapat petunjuk waktu yang jelas untuk menjawab pertanyaan ini. Pun pertanyaan, bagaimana tanah bisa menjadi manusia juga tidak akan pernah bisa dijawab oleh rasio manusia dewasa ini. Meski demikian, manusia yang beriman bisa menjelaskan tentang bagaimana mereka diciptakan dan mengapa mereka diturunkan ke dunia secara lengkap dan mendetil walau tanpa disertai penunjuk waktu kapan peristiwa itu terjadi.

Menurut Horkheimer (dalam Sindhunata, 1982:123-124), mitos adalah keirasionalan, takhayul atau khayalan, pendeknya sesuatu yang tak berada dalam kontrol kesadaran dan rasio manusia. Yang perlu dipahami, bahwa mitos sebenarnya merupakan percobaan-percobaan manusia untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya tentang alam semesta, tentang dirinya sendiri. Dalam mitologi Yunani, seperti yang dituturkan dalam syair-syair Heseidos, Pherekydes, dan Homeros, memang mereka sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia tentang alam semesta itu, tapi jawaban yang diberikan justru dalam bentuk mitos yang meloloskan diri dari tiap-tiap kontrol pihak rasio. Baru pada abad enam sebelum Masehi, mitos digebrak oleh rasio, dan sejak saat itu orang mulai mencari-cari jawaban rasional tentang problem-problem yang diajukan alam semesta. Logos (akal budi, rasio) sudah mengemansipasikan diri dari mitos. Horkheimer lebih menunjuk titik ini sebagai awal aufklarung bukan abad kedelapan belas Masehi. Maka otoritas dewa-dewa dalam mitos secara perlahan digusur oleh pengertian rasional manusia. Bagi Anaxagoras, pelangi bukan lagi merupakan titian dewi jelita yang sedang bertugas sebagai duta bagi dewa-dewa lain, tapi pelangi adalah pantulan cahaya matahari dalam awan-awan (Sindhunata, 1982:69-70).

Ketika rasional diutamakan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia akan diri dan alamnya, maka terjadilah revisi total melalui proses demitologisasi. Demitologisasi merupakan upaya-upaya sadar untuk menghilangkan mitos dengan cara memberi jawaban alternatif yang lebih rasional dan diterima oleh logika manusia. Tentu setiap peradaban memiliki periode yang berbeda-beda sebagai titik peralihan tahap mitos ke rasional.

Hubungan mitos dengan sejarah dengan demikian mengalami pasang surut sesuai dengan jiwa zaman yang berlaku. Pada awalnya, mitos dengan sejarah tidak bisa dibedakan dengan tegas karena keduanya berupaya untuk menjelaskan masa lalu sesuai dengan kemampuan dalam eksplanasi yang bisa dijangkau manusia kala itu. Ketika mitos dinegasikan akibat menguatnya posisi rasio dalam menjelaskan masa lalu, mitos akhirnya dicampakkan oleh sejarah. Bahkan sejarah tidak mengakui hubungan kekerabatannya dengan mitos. Sejarah akhirnya memadu kasih secara monogami dengan rasio, untuk menjelaskan masa lalu manusia. Ironisnya, rasio yang dipakai manusia dalam menjelaskan masa lalunya, terkadang—untuk tidak mengatakan selalu—terjebak dalam upaya untuk menciptakan masa lalu sesuai dengan harapannya. Secara tidak sadar, manusia menciptakan mitos-mitos baru dalam penulisan sejarahnya. Mengenai bukti bahwa manusia secara tidak sadar—maupun sadar—menciptakan mitos dalam sejarah yang rasional, akan dibahas pada bagian berikutnya dengan contoh kasus pada sejarah Indonesia.

Kondisi yang semacam ini, adalah sejalan dengan pemikiran Horkheimer. Menurutnya, usaha manusia rasional adalah mitos, sebab usaha manusia rasional tidak dapat berdiri sendiri, tidak otonom, tidak dapat mengenal dirinya sendiri: usaha manusia rasional itu terjadi, ada, dan mengenal dirinya hanya berkat dan di dalam mitos. Dengan kata lain, usaha manusia rasional itu niscaya atau tidak dapat tidak adalah mitos sendiri. Sebaliknya, pada hakekatnya mitos itu adalah usaha manusia rasional, sebab tanpa usaha manusia rasional mitos tidak akan mengenal dirinya sebagai mitos. Baru dengan usaha manusia rasional mitos terjadi, ada dan mengenal dirinya sebagai mitos. Jadi mitos juga tidak otonom, tidak dapat berdiri sendiri, tidak dapat mengenal dirinya sendiri: mitos terjadi, ada, dan mengenal dirinya sendiri hanya berkat dan di dalam usaha manusia rasional. Dengan kata lain, mitos niscaya atau tidak dapat tidak adalah usaha manusia rasional sendiri (Sindhunata, 1982:124).

Bukti yang lain, adalah keberadaan aliran posmodernisme yang mengkritik habis sejarah yang mengklaim dirinya rasional dan terbebas dari mitos, ternyata mengandung berbagai mitos sebagai upaya pengagungan terhadap masa lalu dan dirinya sendiri. Dekonstruksi yang ditawarkan oleh posmodernisme, membawa harapan rasional yang baru untuk menghapuskan mitos dalam sejarah modern. Celakanya, posmodernisme kelak akan terbukti hanya membawa mitos baru belaka.

Mitologisasi dalam Sejarah Indonesia

Pada bagian ini penulis akan mencoba untuk memaparkan bukti-bukti adanya mitos dalam sejarah dengan mengambil kasus pada sejarah Indonesia. Sejarah Indonesia yang dimaksud dalam tulisan ini adalah segala hasil penulisan sejarah yang terkait dengan Indonesia, baik yang dibuat sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka. Tentunya dengan pengecualian terhadap sejarah Indonesia yang dihasilkan historiografi tradisional, karena unsur mitos dalam historiografi tradisional tidak dinegasikan bahkan melebur dengan fakta sejarah. Maka tentu beberapa mitos yang coba diuraikan dalam ruang yang terbatas ini adalah sejarah Indonesia hasil historiografi modern yang mengklaim dirinya telah melepaskan diri dari mitos dan bekerja sepenuhnya dengan fakta.

Untuk memudahkan pembahasan, maka mitologisasi dalam sejarah Indonesia ini dipaparkan dalam tiga bagian berikut:

1. Mitos dalam Sejarah Neerlandosentris

Sejarah Indonesia yang dihasilkan oleh historiografi dengan perspektif Neerlandosentris atau yang yang disebut juga dengan historiografi kolonial adalah sejarah yang dihasilkan oleh sejarawan-sejarawan Barat, khususnya Belanda, yang dihasilkan pada masa pra kemerdekaan mengenai keadaan historis negeri Hindia-Belanda. Para sejarawan ini dapat dikategorikan sebagai sejarawan profesional hasil didikan berbagai universitas ternama di Eropa dan berbagai penjuru dunia, sehingga layak dikategorikan sebagai sejarah profesional modern.

Mereka dengan sadar mengagung-agungkan rasio dan sebagian lagi mengujat habis-habisan mitos dalam historiografi tradisional yang dihasilkan pribumi. Sejarawan profesional ini sama sekali tidak menyadari bahwa usaha rasional mereka ternyata juga menghasilkan mitos-mitos baru dalam historiografinya. Beberapa mitos yang dihasilkan oleh sejarah neerlandosentris ini diantaranya adalah sebagai berikut.

a. Mitos Peranan Bangsa Eropa

Historiografi kolonial bertitik puncak pada karya lima jilid dari Stapel, Geschiedenis van Nederlandsch-Indie, 1938-1940. Dua jilid bercerita tentang kerajaan-kerajaan lama di Jawa yang berdasarkan Hindu dan Islam, lantas situasi berubah dengan tiba-tiba dengan kedatangan Belanda. Jilid ketiga dan seterusnya menjadikan Belanda sebagai pemain utama, sedangkan penduduk pribumi terpinggirkan. Belanda menjadi pelaku utama yang mewakili pencerahan, kemajuan, dan kemampuan melindungi kepentingan penduduk asli (Nordholt, Purwanto, Saptari, 2008:7).

Historiografi kolonial dengan sendirinya selalu menonjolkan peranan bangsa Belanda dan memberi tekanan pada aspek politis, ekonomis, dan institusional. Hal ini merupakan perkembangan secara logis dari situasi kolonial di mana penulisan sejarah terutama mewujudkan sejarah dari golongan yang dominan beserta lembaga-lembaganya. Interpretasi dari jaman kolonial cenderung untuk membuat mitologisasi dari dominasi itu, dengan menyebut perang-perang kolonial sebagai usaha pasifikasi daerah-daerah, yang sesungguhnya mengadakan perlawanan untuk mempertahankan masyarakat dan kebudayaannya (Kartodirdjo, 1982:19-20).

Historiografi Neerlandosentris dengan demikian, sebesar apapun mereka mengaku mengutamakan rasio dan logika dalam penulisan sejarah, ternyata juga terperosok dengan usaha menciptakan mitos dalam sejarah. Upaya mengagungkan diri dan bangsanya untuk kemudian melegitimasi perannya sebagai penguasa di Hindia-Belanda pada hakekatnya adalah upaya mitologisasi dalam sejarah. Hal ini mengindikasikan bahwa usaha rasional mereka terjebak dalam penciptaan mitos.

b. Mitos Peranan Bangsa Pribumi

Berkebalikan dengan pencitraan diri sendiri, maka penggambaran bangsa pribumi dalam historiografi Neerlandosentris selalu diposisikan sebagai warga kelas paling bawah, masih biadab sehingga layak untuk diperintah dan diperadabkan, pencitraan pribumi malas, dan sebagainya. Dalam historiografi Neerlandosentris, pribumi hanya mendapat peran figuran dalam panggung sejarah. Secara sistematis, terstruktur, dan masif sebenarnya pencitraan semacam ini adalah upaya membuat mitos dalam usaha rasional mereka menciptakan historiografi yang mereka cap modern.

c. Mitos Penjajahan 350 Tahun

Mitos yang paling sering didengungkan oleh pihak pemerintah Hindia-Belanda dan mewarnai historiografi Neerlandosentris adalah mengenai “fakta” bahwa Belanda telah menjajah Indonesia selama 350 tahun. Mitos ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh pernyataan Gubernur Jenderal B.C. de Jonge yang pada 1936 menyatakan “Kami orang Belanda sudah berada di sini tiga ratus tahun dan kami akan tinggal di sini tiga ratus tahun lagi.” Ucapan ini secara implisit sebenarnya adalah ucapan yang seakan-akan menantang kaum pergerakan kebangsaan waktu itu (Lapian dalam Resink, 1987:xi).

Pernyataan de Jonge, secara letterlijk, sebenarnya benar apabila yang dimaksud bahwa orang Belanda telah menginjakkan kaki di wilayah tertentu Nusantara semenjak tiga ratus tahun sebelumnya. Ambillah sebagai patokan datangnya armada de Houtman pada 1596 atau pendirian VOC pada 1602. Namun pernyataan tersebut adalah berlebihan bila dimaksudkan sebagai Belanda telah menjajah Indonesia selama 300 tahun. Permasalahan yang muncul adalah berkisar pada realita bahwa semenjak orang Belanda pertama menginjakkan kaki di Nusantara, mereka tidak langsung menjajah tapi hanya mengadakan hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan setempat. Kedua, permasalahan bahwa Belanda tidak menjajah keseluruhan wilayah Nusantara selama tiga ratus tahun. Masih terdapat vorstenlanden tertentu yang belum menyatakan tunduk hingga awal abad keduapuluh.

Menurut Asvi Warman Adam (2007:9-13), peruntuh mitos penjajahan 350 tahun ini adalah Resink. G.J. Resink (1987), berdasarkan studi hukum internasional, telah membuktikan bahwa sesungguhnya Belanda tidak berada di sini selama tiga ratus tahun apabila yang dimaksudkan dengan “di sini” adalah sebagai seluruh kepulauan Indonesia. Resink secara tidak sengaja menemukan sejumlah pernyataan ahli ilmu hukum dari tahun 1870 dan 1910, yang pada masa antara 1910 dan 1950 banyak diabaikan oleh kebanyakan pengarang. Dalam Regeeringsreglement 1854 pasal 44 memberi kewenangan kepada Gubernur Jenderal untuk menyatakan perang, mengadakan “perdamaian dan perjanjian-perjanjian lain” dengan raja-raja dan bangsa-bangsa Hindia dengan memperhatikan perintah-perintah raja. Dari perundingan-perundingan mengenai pasal ini dalam Parlemen Belanda dapat disimpulkan, sebagai mana dinyatakan Menteri Jajahan kala itu, bahwa “di dalam atau berdekatan” dengan Hindia Belanda terdapatlah “raja-raja Hindia yang merdeka,” biarpun jumlahnya “amat sedikit.” Dari pernyataan tersebut sebenarnya sudah mengindikasikan bahwa sampai awal abad keduapuluh sekalipun, Belanda masih tidak menguasai keseluruhan Hindia-Belanda sepenuhnya.

Apapun bantahan Resink dan berapa pun lama penjajahan Belanda di Nusantara, tulisan ini tidak terlalu menaruh perhatian. Penulis lebih berminat untuk menunjukkan bahwa terdapat mitos dalam sejarah Neerlandosentris meski sudah menekankan pada rasio dan ilmu pengetahuan modern. Termasuk dalam pembuatan mitos bahwa Belanda sudah menjajah Nusantara ratusan tahun, untuk itu masih berhak memerintah ratusan tahun lagi.

Mitos ini, terlepas dari benar-tidaknya secara faktual, ternyata juga mempengaruhi dan diyakini oleh bangsa pribumi. Namun dengan semangat yang berkebalikan bahwa penjajahan ratusan tahun itu harus segera dihentikan. Kecuali itu, mitos ini juga sudah bersinergi dengan mitos lokal dari ramalan Jayabaya yang meramalkan bahwa bangsa penjajahan Belanda akan segera berakhir dengan kedatangan “bangsa kulit kuning yang hanya akan menjajah seumur jagung.”

Demikianlah maka sebenarnya dalam sejarah Neerlandosentris masih belum bisa melepaskan dirinya dari mitos dan menggunakan rasio secara murni. Bahkan mereka sengaja menciptakan mitos mengenai superioritas bangsa Belanda dan mitos minderwaardigheid bangsa Indonesia. Mitos yang diciptakan berfungsi membuat masa lalu bermakna dan berguna bagi kepentingan pihak penguasa, adapun mengenai penekanan pada aspek waktu adalah urusan belakangan.

2. Mitos dalam Sejarah Indonesiasentris

Sejarah Indonesiasentris adalah antitesis dari sejarah Neerlandosentris. Apabila versi arus utama Belanda mengenai sejarah Hindia-Belanda mengagung-agungkan pasifikasi dan kemajuan. Sebaliknya, narasi nasionalis berpusat pada perjuangan untuk mewujudkan negara demokrasi sekuler yang berakar dalam identitas bersama (dan baru). Sementara, dari sisi hal yang ditekankan dan struktur, sebenarnya kedua perspektif sejarah itu sebagian besar identik satu sama lain. Hal yang dilukiskan sebagai keburukan (kejahatan atau fanatik) dalam narasi Belanda menjadi kepahlawanan dalam versi nasionalis (perjuangan tanpa pamrih). Namun, fokus utama tetap sama, yakni negara dan pengalaman kolonial (Sutherland, 2008:40). Sebagaimana visi Neerlandosentris, visi Indonesiasentris juga mencari legitimasi dengan cara menjanjikan pembangunan.

Wujud sejarah Indonesiasentris dalam sejarah Indonesia bermetamorfosis menjadi Sejarah Nasional. Sejarah nasional menggunakan dekolonisasi sebagai prinsip dasar dari Indonesiasentrisme untuk membangun wacana sekaligus perspektif yang menjadikan historiografi sekedar sebagai alat penghujat dan menggunakan masa lalu sebagai tameng pembenaran (Purwanto, 2006). Segala yang berbau kolonial adalah salah, dan segala yang bercitarasa nasional adalah kebenaran.

Pada awal kemerdekaan, ketika euforia revolusi masih mewarnai langit Indonesia, sejarah Indonesiasentris menjadi satu-satunya cara untuk mewadahi semangat kemerdekaan dalam sejarah. Tidak boleh tidak, mereka yang dianggap pahlawan pada sejarah Neerlandosentris harus turun kasta menjadi penjahat dan pecundang. Sebagai contoh, sebutlah nama Hendrik Merkus de Kock (1779-1845), sebagai Letnan Gubernur Jenderal dan panglima tertinggi pasukan militer Hindia Belanda selama perang jawa, tentu dimasukkan sebagai pahlawan dalam perspektif Neerlandosentris karena berjasa memadamkan perang jawa. Sebaliknya, ketika Indonesiasentris berjaya, de Kock adalah penjahat perang yang menjajah Indonesia. Gambaran yang serupa juga dialami oleh Diponegoro. Hanya saja yang terjadi sebaliknya, pada perspektif Neerlandosentris Diponegoro dianggap sebagai pemberontak namun perspektif Indonesiasentris menganggapnya sebagai pahlawan.

Kondisi yang semacam ini jelas membuktikan bahwa manusia dalam menuliskan sejarahnya masih belum bisa menggunakan rasionya secara penuh. Ia masih terbelenggu untuk menciptakan mitos dalam sejarah. Manusia menggunakan masa lalu yang dibungkus mitos untuk melegitimasi kondisi masa kini dengan harapan bisa memperoleh keuntungan di masa depan.

3. Mitos dalam Sejarah Orde Baru

Pada masa orde baru, perspektif historiografi dalam sejarah Indonesia masih dalam pola Indonesiasentris. Hanya saja, karena jiwa jaman tidak lagi dipenuhi euforia revolusi pasca kemerdekaan, maka sejarah Indonesia tidak lagi terlalu menghujat segala sesuatu yang berbau Barat pada umumnya, Belanda pada khususnya. Saat itu sejarah sengaja dipakai sebagai alat untuk melegitimasikan posisi penguasa. Penguasa di sini adalah Soeharto beserta militernya. Dalam kondisi yang demikian, lagi-lagi sejarah digunakan digunakan untuk menciptakan mitos-mitos baru melalui penulisan sejarah modern dalam bentuk grand narrative (Sutherland, 2008:34), sebuah narasi dominan yang menampilkan sejarah yang berpuncak pada kejayaan modernitas negara-bangsa atau pada pribadi dan institusi tertentu pada negara-bangsa tersebut.

Mitos dalam sejarah Orde Baru berpusat pada “kesucian” militer sebagai institusi dan Soeharto sebagai pribadi. Menurut Nordholt (dalam McGregor, 2008:xviii), ciri dari historiografi nasional yang dibentuk selama masa Orde Baru Soeharto adalah sentralitas negara yang diejawantahkan oleh militer. Sejarah nasional disamakan dengan sejarah militer dan produksi sejarah dikendalikan oleh negara dan militer. Beberapa dampaknya ialah bahwa, misalnya, cerita tentang revolusi nasional akhirnya memfokuskan pada peran menentukan dari militer dengan menyingkirkan pelaku sejarah yang lain. Menurut pandangan sejarah ini, revolusi kemerdekaan ditentukan militer, dan sepanjang periode tahun 1950an militerlah yang menyelamatkan bangsa dari “disintegrasi,” dengan mengabaikan fakta bahwa militer memainkan perang penting dalam pemberontakan-pemberontakan di daerah. Pada akhirnya versi militer tentang kejadian di tahun 1965 mendominasi historiografi periode tersebut dan melegitimasi naiknya rezim Orde Baru.

Menurut Katharine E. McGregor (2008), upaya mitologisasi sejarah yang dilakukan pemerintah Orde Baru telah berlangsung sejak awal berdirinya rezim sampai jatuhnya Soeharto, dan peran sentral dalam pembuatan sejarah yang semacam ini adalah tanggung jawab Nugroho Notosusanto dan Pusat Sejarah ABRI. Terdapat beberapa hal yang menunjukkan bahwa militer—khususnya Angkatan Datar—berusaha untuk mencitrakan dirinya sebagai pihak yang paling benar dan tidak pernah salah. Pertama, mengeluarkan berbagai penulisan sejarah terkait peristiwa percobaan kudeta 1965 (McGregor, 2008:119-132). Salah satu tulisan Nugroho Notosusanto (1968) yang ditulis bersama Saleh, dijadikan versi resmi negara sekaligus sebagai buku putih—terlepas dari warna sampulnya yang memang putih—adalah “The Coup Attempt of the ‘September 30 Movement’ in Indonesia.” Berdasarkan bukti di persidangan, buku ini menyimpulkan bahwa semua yang terlibat dalam Gerakan 30 September adalah anggota PKI atau dikelola PKI.

Usaha kedua adalah melalui usaha mengabadikan peristiwa sejarah—versi militer tentunya—dengan cara membuat berbagai monumen dan museum. Sebagai contoh, adalah pendirian Museum Monumen Pancasila Sakti, yang secara ironis mengabadikan Lubang Buaya untuk membuktikan kekejaman-kekejaman PKI sekaligus jasa militer dalam menumpas gerakan tersebut (McGregor, 2008:168-173). Di samping itu adalah pembuatan diorama dan relief dalam berbagai monumen dan museum, yang diciptakan sesuai dengan tafsiran militer atas masa lalu. Ketiga, memanfaatkan film untuk memitoskan diri militer dan Soeharto, seperti dalam film Pengkhianatan Gerakan 30 September (McGregor, 2008:173-179), Janur Kuning, Serangan Fajar, Mereka Kembali, Bandung Lautan Api, dan Pangsar Soedirman.

Keempat, untuk mengabadikan mitos-mitos yang telah dibuat rezim Orde Baru maka diperlukan sarana pendidikan untuk mewariskan sejarah yang telah diciptakan kepada generasi muda. Usaha ini dilakukan melalui penyusunan buku babon Sejarah Nasional Indonesia dalam enam jilid, dimana upaya mitologisasi sejarah sangat terasa pada jilid terakhir. Kecuali itu, pewarisan mitos peran militer ini juga mendapat porsi besar dalam pendidikan dengan menciptakan mata pelajaran baru yang bernama Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Upaya-upaya ini dilakukan dengan peran dan tanggung jawab besar di tangan Nugroho Notosusanto.

Asvi Warman Adam (2008: 118-124) juga mengakui terjadinya proses militerisasi dalam sejarah Indonesia. Namun Asvi lebih menunjuk Jenderal A.H. Nasution daripada Nugroho Notosusanto sebagai “aktor intelektual” dibalik proses militerisasi sejarah Indonesia. Asvi menunjukkan bahwa meski Nugroho Notosusanto mengetuai berbagai proyek militer atas sejarah, namun inisiator utamanya adalah Nasution. Pendapat Asvi mungkin ada benarnya, terlebih tokoh Nasution sendiri juga mulai dimitoskan dewasa ini, terbukti dari didirikannya Museum Nasional Nasution yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla pada 3 Desember 2008 (Jawa Pos, 4 Desember 2008). Namun tulisan ini tidak terlalu memusingkan siapa penanggung jawab utama dari mitologisasi militer dalam sejarah Indonesia. Tulisan ini cukup membuktikan bahwa masih terdapat mitos dan mitologisasi dalam sejarah Indonesia, termasuk pada masa Orde Baru dimana penguasa memanfaatkan sejarah sebagai penopang kekuasaannya.

Demitologisasi dalam Sejarah Indonesia: Angin Surga Posmodernisme

Melalui uraian diatas, terlihat nyatalah sekarang bahwa sejarah Indonesia dipenuhi mitos dan mitologisasinya pun dilakukan secara struktural, sistematis, dan masif. Kecuali historiografi tradisional yang memang secara jujur dan terang-terangan mencampurkan mitos dalam sejarah untuk diakui sebagai fakta sejarah, upaya mitologisasi ini justru semakin menemukan bentuknya oleh historiografi modern yang mengklaim diri telah melepaskan mitos dari fakta, namun ternyata justru terperosok dengan upaya penciptaan mitos-mitos baru.

Harapan akan berakhirnya mitologisasi dalam sejarah ini datang dari aliran baru yang menamakan diri posmodernisme. Istilah posmodernisme ini sangat susah untuk didefinisikan secara tunggal, karena ia selalu mengelak untuk bisa difenisikan secara memadai sebab ia sendiri selalu menyuarakan ketidakpercayaan terhadap segala bentuk grand narratives (Sugiharto, 1996: 23-28). Menurut Arief Budiman (1999:21), posmodernisme lebih merupakan aliran pemikiran sekaligus menjadi gerakan yang bereaksi terhadap kegagalan manusia menciptakan dunia yang lebih baik, dan didasarkan pada rasa kecewa terhadap janji kosong yang diberikan oleh peradaban modern yang mendasarkan diri pada pengetahuan rasional. Istilah ini memiliki keluasan wilayah dan bertebaran di mana-mana, mulai dari bidang seni musik, seni rupa, fiksi, film, drama, fotografi, arsitektur, kritik sastra, antropologi, sosiologi, geografi dan filsafat (Sugiharto, 2008:23), tentu tidak mau ketinggalan dalam bidang sejarah.

Posmodernisme dalam sejarah, dengan tegas membedakan masa lalu (the past) dengan sejarah (history), karena masa lalu (res gestae) tidak sama dengan cerita sejarah (historum rerum gestarum). Maka masa lalu sebenarnya tidak pernah memasuki historiografi yang berupa teks kecuali secara retoris atau teoritis saja (Syamsuddin, 2007:343-343). Posmodernisme benar-benar mendekonstruksi segala kemapanan grand narratives yang dibangun sejarah modern. Ia menganggap bahwa interpretasi dari masa lalu hanya diciptakan berdasar apa yang ditemukan, sehingga tidak ada sejarah yang benar-benar faktual atau mutlak benar karena sejarah diimajinasikan dan kiasan. Akhirnya posmodernisme dalam sejarah, menurut Sjamsuddin (2007:346), cenderung mengarah kepada metahistory dan puisi sejarah.

Sejarawan yang mengusung posmodernisme dalam sejarah di Indonesia, adalah Bambang Purwanto. Ia menggugat konstruksi sejarah Indonesia yang telah dibangun selama ini dan menilai historiografi Indonesia telah berada di ujung tanduk (Purwanto & Adam, 2005:1). Salah satu persoalan yang melingkupi historiografi Indonesia adalah mitos kandungan penting dari masa lalu untuk dapat disebut sebagai sejarah dan mitos objektivitas sejarah (Purwanto & Adam, 2005:43). Kebenaran sejarah, sama halnya dengan kebenaran karya sastra, adalah kebenaran relatif. Kebenaran sebagai realitas, maka sejarah sebenarnya hanya ada di masa lampau dan tidak mungkin dijangkau oleh sejarawan yang ada di masa kini (Purwanto, 2006:3-4).

Purwanto mendekonstruksi kemapanan sejarah modern yang bertumpu pada grand narratives. Melalui kesadaran dekonstruktif, maka kehidupan sehari-hari seharusnya juga merupakan bagian integral dari proses sejarah (Purwanto & Adam, 2005:49). Oleh karena itu, sejarah bukan hanya milik dan monopoli para great man namun untuk semua “ukuran” manusia. Dalam sejarah modern, banyak orang baik sebagai individu maupun kelompok tidak memiliki sejarah atau dianggap tidak berhak memiliki sejarah, walau mereka semua memiliki masa lalu. Sejarah menjadi elitis dan formal yang tidak memberi ruang pada keseharian, kemanusiaan, dan sesuatu yang terpinggirkan. Bahwa hanya segala sesuatu yang memiliki kandungan penting yang berhak menjadi sejarah, adalah mitos yang diciptakan oleh sejarah modern.

Mitos lain yang tercipta dalam sejarah modern adalah klaim bahwa dirinya paling objektif. Dengan keyakinan posmodernisme bahwa kebenaran itu relatif (Purwanto, 2006:4), maka otomatis keobjektivitasan dalam sejarah adalah mitos. Dalam mencitrakan diri sebagai objektif, sejarah modern melakukannya melalui penggunaan teori sekaligus metodologi yang dipinjam dari ilmu sosial yang lain. Sayangnya, teori dan metodologi itu tidak lebih dari sekedar pajangan daripada alat analisis untuk menjelaskan berbagai dimensi yang terkandung dalam suatu peristiwa (Purwanto & Adam, 2005:40).

Kritik Bambang Purwanto yang paling tajam adalah serangannya terhadap historiografi Indonesiasentris, sekaligus menunjukkan mitos-mitos yang dikandungnya. Berlagak objektif, historiografi Indonesiasentris ternyata justru cenderung menjauh dari prinsip-prinsip objektif karena berkembangnya prinsip dekolonisasi historiografi yang bersifat ultra nasionalis dan lebih mementingkan retorika (Purwanto, 2006:11). Mitos yang muncul ini lahir dari upaya untuk mencitrakan bangsa sendiri sebagai pihak yang paling benar dengan mencela pihak penjajah. Lahirlah pahlawan-pahlawan yang selama hidupnya tidak pernah mengenal entitas Indonesia, diklaim sebagai tokoh yang telah berjuang demi Indonesia. Untuk menggantikan Indonesiasentris dalam sejarah Indonesia, Purwanto menawarkan paradigma baru yang ia sebut sebagai neo-Indonesiasentris atau post­-Indonesiasentris (Purwanto & Adam, 2005:51).

Demikianlah, aliran posmodernisme mengacak-acak segala kemapanan sejarah modern melalui dekonstruksi terhadap grand narrative yang telah tersusun mantap. Posmodernisme telah menunjukan segala kemunafikan sejarah modern yang mengklaim diri sebagai “sejarah suci” yang berjubahkan kebenaran, karena telah membuang mitos dari fakta. Namun ternyata, disadari atau tidak, sejarah modern di Indonesia—baik itu dengan visi Neerlandosentris maupun Indonesiasentris—ternyata secara sistematis, terstruktur, dan masif menciptakan mitos-mitos baru untuk melegitimasikan dirinya sendiri sebagai pihak yang paling benar.

Dilema: Mitologisasi Posmodernisme

Kehadiran posmodernisme merupakan pencerahan baru bagi penulisan sejarah Indonesia untuk lepas dari mitos. Ia benar-benar membabat habis sejarah modern dengan menunjukkan segala kebobrokannya. Namun, lagi-lagi usaha manusia rasional menemui jalan buntu dan terjerumus ke lembah mitos baru. Horkheimer (dalam Hardiman, 1993:197) sudah mengigatkan “mitos sudah merupakan pencerahan, dan pencerahan berbalik menjadi mitologi.” Jalan buntu ini juga ditemui oleh posmodernisme dalam sejarah yang rupanya juga menyajikan mitos-mitos baru belaka.

Terjadinya mitologisasi posmodernisme ini sebenarnya dipicu oleh faktor internal dalam tubuh posmodernisme itu sendiri yang berupa cacat bawaan sejak lahir. M. Arief Hakim (1999:306-307) menunjukkan beberapa cacat bawaan posmodernisme. Pertama, watak posmodernisme yang penuh dengan paradoks, kontradiksi, inkonsistensi, ambivalensi, sikap dilematik dan sebagainya. Misalnya saja, posmodernisme mendewakan relativitas dengan mengatakan bahwa yang pasti adalah “ketidakpastian” itu sendiri, tetapi pada sisi lain posmodernisme memproklamasikan dirinya sebagai suatu alternatif yang “pasti”. Dalam kasus sejarah Indonesia, posmodernisme selalu menggugat visi Neerlandosentris maupun Indonesiasentris yang berwujud grand narratives. Ironisnya berbagai alternatif yang ditawarkannya secara “asal beda” dianggap sebagai alternatif yang niscaya harus ada sebagai pengganti tradisi historiografi sebelumnya.

Cacat kedua yang terdiagnosis dalam tubuh posmodernisme adalah sikap eklektisismenya yang ternyata tidak sesuai dengan sikap lain yang tekankannya: “biarkan masing-masing nilai bergerak menurut jalur dan arahnya sendiri-sendiri!” Pada sisi lain, ketika ia memproklamasikan kematian rasio dan akal budi manusia, namun ternyata dengan penuh keyakinan ia sendiri mengumumkan produk pemikiran rasio dan akal budi manusia yang bernama: posmodernisme (Hakim, 1999:306). Dalam kasus sejarah Indonesia, bukan rahasia lagi kalau posmodernisme menuduh perspektif sejarah modern tidak mampu menggunakan rasionya yang telah “mati” dalam menyusun historiografi, dengan bukti merebaknya bau mitos dalam sejarah Indonesia. Namun ia sendiri berusaha secara “sok rasional” dalam menafsirkan sejarah menurut seleranya sendiri.

Cacat ketiga, adalah sikap posmodernisme yang dalam batas tertentu bisa menuju kutub ekstrem. Sikap relativismenya yang berlebihan misalnya, bisa menggiringnya menuju nihilisme, dengan ungkapan apologis “apa saja boleh, pokoknya terserah anda! Yang penting kita saling menghargai nilai-nilai yang kita anut masing-masing!”. Dengan membiarkan masing-masing nilai bergerak menurut arahnya sendiri, sembari berlindung dalam slogan anti-dominasi, posmodernisme kelihatan apriori (anti) dialog (Hakim, 1999:306). Padahal melalui dialog, masing-masing aliran sejarah akan benar-benar teruji keabsahan, keefektifan dan kebenarannya secara argumentatif. Hal ini bisa kita lihat pada sikap posmodernisme yang enggan berdialog dengan sejarah modern, kecuali mengkritik habis tanpa ampun.

Cacat terakhir yang disebutkan di sini—yang berarti masih banyak cacat lain—adalah upaya dekonstruksi mereka terkesan retorika belaka. Ibarat lempar batu sembunyi tangan. Posmodernisme menghujat habis sejarah modern, baik yang berperspektif Neerlandosentris ataupun Indonesiasentris, namun ia tidak bisa menunjukkan alternatif konkret yang seperti apa yang diharapkan posmodernisme dalam penulisan sejarah. Tuduhan ini bisa saja kita tujukan pada Bambang Purwanto misalnya, dimana ia menggugat historiografi Indonesiasentris, lalu ia menawarkan post-Indonesiasentris. Namun sayangnya seperti apa post-Indonesiasentris itu tidak dijelaskan secara detil dan tidak dicontohkan secara langsung melalui penulisan sejarah Indonesia dengan perspektif alternatif ini.

Penutup: Refleksi Diri

Sebagai penutup dalam tulisan ini, penulis menyimpulkan bahwa terjadi mitologisasi dalam sejarah Indonesia, baik oleh sejarah modern maupun posmodern. Meski dilakukan secara rasional, namun usaha mereka kembali menciptakan mitos baru secara berulang-ulang. Hal ini sesuai dengan pemikiran Horkheimer bahwa usaha manusia rasional adalah mitos.

Penulis mencoba untuk menutup tulisan ini dengan merendah hati, sembari mengingatkan bahwa tulisan ini mungkin juga merupakan sekedar mitos belaka.

Daftar Rujukan

Adam, Asvi Warman. 2008. Militerisasi Sejarah Indonesia: Peran A.H. Nasution. Dalam Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto, & Ratna Saptari (eds), Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (hlm.111-124). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KITLV-Jakarta, & Pustaka Larasan

Adam, Asvi Warman. 2007. Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Anonim. “SBY-Kalla Resmikan Museum Pak Nas,” Jawa Pos, 4 Desember 2008, p.3

Budiman, Arief. 1999. Posmo: Apa Sih?. Dalam Suyoto (eds), Posmodernisme dan Masa Depan Peradaban (hlm.21-24). Yogyakarta: Aditya Media

Hakim, M. Arief. 1999. Sinyal ‘Kematian’ Posmodernisme. Dalam Suyoto (eds), Posmodernisme dan Masa Depan Peradaban (hlm.303-309). Yogyakarta: Aditya Media

Hardiman, Budi. 1993. Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu, Masyarakat, Politik, dan Posmodernisme menurut Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius

Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: suatu alternatif. Jakarta: Gramedia

Kuntowijoyo. 1999. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya

McGregor, Katharine E. 2008. Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia, terjemahan oleh Djohana Oka. Yogyakarta: Penerbit Syarikat

Nordholt, Henk Schulte; Bambang Purwanto, dan Ratna Saptari. 2008. Memikir Ulang Historiografi Indonesia. Dalam Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto, & Ratna Saptari (eds). Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (hlm.1-31) Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KITLV-Jakarta, & Pustaka Larasan

Notosusanto, Nugroho & Ismail Saleh. 1968. The Coup Attempt of the ‘September 30 Movement’ in Indonesia. Jakarta: Pembimbing Masa

Purwanto, Bambang & Asvi Warman Adam. 2005 Menggugat Historiografi Indonesia. Yogyakarta: Ombak.

Purwanto, Bambang. 2006. Gagalnya Historiografi Indonesiasentris!?. Yogyakarta: Ombak

Resink, G.J. 1987. Raja dan Kerajaan yang Merdeka di Indonesia 1850-1910, terjemahan KLTIV dan LIPI. Jakarta: Djambatan

Sindhunata. 1983. Dillema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyrakat Modern oleh Max Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt. Jakarta: Gramedia

Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak

Sugiharto, I. Bambang. 1996. Posmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius

Sutherland, Heather. 2008. Meneliti Sejarah Penulisan Sejarah. Dalam Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto, & Ratna Saptari (eds), Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (hlm.33-66) Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KLTIV-Jakarta, & Pustaka Larasan

Sejarah itu Berulang: kajian atas pengulangan pengalaman dalam kepanikan

•1 Desember 2008 • 1 Komentar

SEJARAH ITU BERULANG:
Kajian Atas Pengulangan Pengalaman dalam Kepanikan

Secara etimologis mungkin kita semua bisa mendefinisikan apa itu “panic” melalui kamus bahasa Inggris-Indonesia. Tapi pernahkah kita memikirkan, mengapa suatu situasi tertentu yang rumit bisa disebut dengan satu kata sederhana saja, panik!
Melalui tulisan ini, saya bisa mengungkapkan mengapa kata panik itu bisa muncul. Pengalaman ini terjadi dua kali dengan sebab yang sama dan menimbulkan suasana yang sama pula, serta sangat susah untuk diungkapkan dengan sekedar kata-kata untuk mendefinisikan apa itu panik. Sehingga menimbulkan dugaan bahwa sejarah tidaklah einmaliq!
Pertama, terjadi beberapa tahun yang lalu ketika masih kelas 5 SD, sekitar tahun 1994 silam. Kejadian bermula dari keikutsertaanku dalam rombongan tour ziarah wali songo. Sebagai anak-anak dan sebagai pengalaman pertama, maka otomatis kesempatan ini tidak kusia-siakan sebagai petualangan sekaligus wahana bersenang-bersenang.
Ikut ziarah? Jangan tanya, secara fisik memang aku mengikuti rombongan untuk menziarai makam-makam wali namun secara rohani yang ada di otak dan hatiku adalah bagaimana caranya untuk mencari kesempatan lepas dari rombongan yang melakukan ritual membosankan, karena melakukan prosesi yang sama di setiap makam.
Kesempatan kabur itu baru aku dapatkan di Tuban, tempat makam Sunan Bonang. Kala itu, tempat parkir bus masih belum dibuat khusus di sekitar 1 kilometer selatan alun-alun Tuban, dan bus masih bisa diparkir di sekitar alun-alun. Kebetulan, bus kami parkir di sebelah utara alun-alun tepatnya di jalan menuju ke pantai.
Bagiku, daripada menziarahi makam lebih baik menikmati pemandangan alam pantai tuban nan elok itu. Ketika semua rombongan menuju makam, aku malah menuju pantai. Pikirku, tak perlulah mendatangi makam sunan sebab yang lebih penting adalah napak tilas sejarah sunan. Dengan dalih, mencari tempat Sunan Bonang menancapkan tongkatnya ke pantai sehingga “metu banyu” (baca: keluar air) tawar yang menjadi dasar munculnya nama Tuban yang legendaris itu, maka berangkatlah aku dengan seorang kerabat yang masih seumuran tapi memiliki derajat kenakalan kanak-kanak yang sama.
Selang beberapa lama menikmati keindahan pantai, semilir angin, birunya air laut (yang kami jarang—bahkan gak pernah—kami dapati di pantai kota kelahiranku, Pasuruan), dan putihnya pasir, maka kami memutuskan untuk kembali ke bus. Tentunya dengan estimasi waktu bahwa pasti rombongan telah selesai berziarah dari makam.
Alangkah terkejutnya kami, ketika mendapati bus telah berjalan keluar dari sarang parkir semula menuju jalan raya. Panik, itulah kata yang pas untuk mewakili perasaan kami kala itu. Bayangan kami, dalam usia sekecil itu harus tertinggal di kota yang baru pertama kali kami kunjungi, haruskah kami menjadi gelandangan yang terlantar di kota santri ini, haruskah kami tidak jadi menikmati lokasi lain yang akan kami kunjungi, karena selain makam para wali ada satu lokasi kunjungan yang menjadi motif utama dan penambah semangatku untuk mengikuti ziarah ini, yakni stupa Borobudur. Celaka, kunjungan perdana ke Borobudur harus gagal karena sebab yang memalukan, ketinggalan bus!
Sambil berlari sekuat tenaga kami mencoba mengejar bus yang sebenarnya sudah aku yakini tidak akan terkejar lagi oleh kami, mengingat jarak antara kami dengan bus yang jauh sekaligus beda kecepatan kaki kami dengan mesin bus. Tidak lupa, kami berteriak—entah sampai berapa oktaf—menyebut kata “hoiii….bis….bis…bis!. Dalam hati, tega-teganya rombongan bisa meninggalkan kami sebatang kara tanpa kata perpisahan, bukankah diantara mereka ada anggota keluarga kami pula. Jangan-jangan mereka sengaja karena kami telah “murtad” melarikan diri dari rombongan.
Ketika semua telah menjadi jelas bahwa bus tak terkejar lagi, semua kepanikan menjadi kepasrahan. Kecepatan lari kami kurangi berganti menjadi jalan kaki. Sudahlah, toch kami masih bisa pulang ke rumah walau entah bagaimana caranya.
Kepasrahan akhirnya berbuah kebahagiaan. Ketika kami sampai di ujung jalan, tepatnya di pertigaan antara jalan raya Tuban dengan jalan menuju pantai. Pandangan mata kami mengobati segala gundah, bus ternyata hanya pindah parkir ke depan masjid Agung Tuban agar rombongan tidak perlu berjalan jauh.
Kejadian kedua dan lebih menegangkan, adalah sejarah kontemporer dalam periodisasi sejarah hidupku, karena berlangsung beberapa jam lalu ketika tulisan ini dibuat. Celakanya, diktum yang kuagung-agungkan dan kuanggap benar secara apriori adalah salah besar. “Sejarah itu einmaliq” tak lebih dari sekedar doktrin dari para dosen sejarahku, dan sempat menambah keyakinanku atas kebenarannya ketika membaca tulisan A. Sartono Kartodirdjo.
Nyatanya sejarah itu berulang! Meski dalam manifestasi yang berbeda. Kejadian ini terjadi tepat pada hari pahlawan tahun 2008. Siang itu, muncul kabar dari seorang teman bahwa kuliah Dr.Anhar Gonggong kosong karena beliau masih di Yogyakarta. Tak pikir panjang karena memang telah direncanakan dengan matang, aku segera pulang kampung akibat rindu yang tak tertahankan. Secepat kilat aku segera menuju terminal Rawamangun, Jakarta Timur. Diantara pinangan tiga agen bus, akhirnya kuterima lamaran untuk menggunakan jasa bus Kramat Djati.
Awal dari petaka ini adalah saat bus memasuki rumah makan langganan bus Kramat Djati yang bersebelahan dengan rumah makan Taman Sari (langganan Lorena) di daerah Pamanukan. Kulirik jam tanganku, masih menunjukkan 17.20 padahal berdasarkan catatan di My Chronicle (nama buku harianku) rekor paling cepat yang tercatat adalah tiba pukul 17.35. Perkiraanku meleset. Padahal waktu maghrib di Jakarta adalah 17.49, sementara aku dalam keadaan puasa sunnah. Hendak kubatalin namun sayang. Akhirnya, selama di rumah makan itu kerjaanku hanya buang air kecil dan wudhu.
Pukul 17.47 adalah awal dari menit-menit yang menegangkan. Dengan pertimbangan selisih jarak Pamanukan-Jakarra, aku putuskan untuk berbuka puasa meski tak terdengan adzan maghrib. Dengan lahab aku menghabiskan nasi yang menumpuk di piring. Klimaks berlangsung 17.55 ketika kulihat bus meninggalkan pelataran rumah makan dan telah menyentuh bibir aspal jalan raya. Tuh kan apa kubilang, sejarah memang berulang!
Perasaan yang sama persis dengan yang terjadi 14 tahun yang lalu muncul. Dan kata yang bisa mewakili perasaan ini adalah….. PANIK. Aku segera menghampiri petugas kontrol yang salah menghitung jumlah penumpang. Dia beralasan “karena tadi di dalam bus ada banyak anak-anak, sehingga kukira sudah genap.” Memang dia gak patut disalahkan, yang salah adalah aku sendiri karena justru asyik makan ketika penumpang sudah pada naik bus. Petugas kontrol menawarkan agar aku menumpang bus berikutnya. Kubilang gak bisa karena di bus ada barang berhargaku!. Entah apa yang ada dipikiran petugas itu ketika aku menyebut “barang berharga”, mungkin dia mengalami perasaan yang sama dengan skala richter kepanikan yang lebih kecil karena bagaimanapun dia membuat salah perhitungan penumpang, hal ini terlihat dia sibuk menelepon sambil mengabarkan ada penumpang yang tertinggal. Yang pasti bukan menelepon kru bus, karena dia mengatakan tidak memiliki nomor kru yang bisa dihubungi. Solusi yang ditawarkannya agar aku naik bus berikutnya akhirnya mentah dengan alasan ada barang berhargaku di dalam bus. “Wah kalau gitu susah, jadi gak enak kalau pakai bus berikutnya” ujarnya.

Aku memaksa dia agar mengantar aku mengejar bus pakai motor, toch bus baru berangkat. Pengalaman adalah guru yang baik, pengalaman historisku mengajarkan bahwa mengejar bus sambil berlari adalah sia-sia. Kali ini kucoba mengejar pakai motor. Ternyata, petugas itu hanya mengantarku pada seorang tukang ojek yang masih muda, kira-kira seusia denganku. Dengan kecepatan penuh ditambah dengan jiwa muda yang masih membara, jadilah kami melesat dengan kecepatan penuh yang bisa dicapai oleh motor sekelas Honda Supra Fit. Lagi-lagi, aku menggunakan kata sakti “ada barang berhargaku didalam bus, tolong tambah kecepatan” untuk membujuk tukang ojek tadi. Ketika dia mulai terlihat agak menyerah seraya berujar, “kalau bus baru keluar pasti bisa terkejar, tapi ini…!!!.” Kata saktiku keluar lagi “tolong bang, di dalam bus ada barang berhargaku.” Aku memang tidak berbohong ketika menyebut kata ini, karena di dalam bus memang ada tas kerja merk eiger yang berisi celana dalam, charger notebook, dan beberapa buku. Dan memang buku itulah hartaku yang paling berharga, apalagi buku itu masih baru dan belum selesai kubaca. Yang paling aku syukuri adalah notebook, my chronicle, dan beberapa dokumen penting lain tetap kumasukkan dalam tas punggung eigerku yang tetap nangkring di punggungku.
Perjuangan mencapai antiklimaks ketika motor kami kehabisan bensin, padahal adegan ini lebih menegangkan daripada film. Petualangan yang berlangsung selama 20 menit itu berakhir di tepi jalan daerah Eretan, Indramayu, sambil mendorong motor mencari kios bensin. Mas tukang ojek agaknya masih bersemangat untuk mengejar setelah bensin terisi, namun aku sudah pasrah. Kuputuskan untuk putar balik!

Namun, sekali lagi perlu ditekankan di sini bahwa sejarah itu berulang meski dalam manifestasi yang berbeda. Justru pada titik kepasrahan inilah segalanya menemui berkah. Beberapa tahun lalu kepasrahan telah menyadarkan kami bahwa ternyata bus hanya pindah parkir, sedang kali ini kepasrahan baru menyadarkan kami ketika putar balik bahwa bus telah menungguku di agen daerah Patrol. Kami tidak menyadari sebelumnya bahwa bus telah terparkir di tepi jalan, karena kami fokus mengejar bus yang berjalan ditambah kenyataan kondisi jalan yang ramai ketika melewatinya. Ternyata petugas kontrol tadi menghubungi agen bus Kramat Djati daerah Patrol untuk menghentikan bus Jakarta-Denpasar.
Nah, pembaca yang budiman silahkan menyimpulkan apakah sejarah itu einmaliq atau tidak dengan merenungkan pengalaman ini atau pengalaman pribadi anda sendiri. Kesimpulan hakekat waktu yang linear. Tetapi substansinya tetaplah sama dalam manifestasi yang berbeda.
Selamat merenung!

Sastra Orba 3

•1 Desember 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Silahkan cari dan temukan zeitgeist yang menunjukkan cerpen ini ditulis pada masa Orba!

CERPEN SEBELUM RAPAT

Oleh:

M. Widiadi

Balai desa tampak temaram. Meskipun sebuah petromaks telah kugantungkan di tengah ruangan sjak usai maghrib tadi. Masih sepi.

Memang sudah menjadi kebiasaanku untuk datang paling awal setiap ada pertemuan pengurus dan anggota Karang Taruna. Aku harus menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari susunan acara rapat sampai tempat duduk undangan. Aku tidak ingin bila setiap pertemuan mengalami kegagalan. Bukannya aku sok penting. Tapi kedudukanku sebagai penulis itulah taruhannya.

Untuk mengusir rasa sepi, kubuka-buka Anggaran Dasar Karang Taruna yang baru. Kemarin AD ini baru kuterima dari Pembimbing Sosial Kecamatan. Sebagai penulis aku harus menguasai semua yang tertera didalamnya.

“Sendiri saja, mas…..”

Kudengar suara lembut menyapa. Ah, hati ini tiba-tiba berdesir hangat. Mengapa? Apa sebabnya?

“Hm, ya…..” sahutku singkat.

“Yang lain kemana, mas?”

“Belum datang dong! Kan sekarang masih jam setengah tujuh”.

Percakapan tadi terhenti sampai disini. Dia, gadis ayu itu duduk di depanku. Kutatap sejenak. Sederhana sekali, rambutnya diekor kuda dan bedak diusapkan tipis diwajahnya yang bulat telur. Bibirnya resik, merah asli. Walau demikian dia tetap ayu menawan.

Kulihat dia asyik membaca susunan acara yang tadi kutulis di papan. Menatap gadis itu, tiba-tiba saja mengingatkan pertemuanku dengannya. Dua bulan yang lalu.

Siang yang terik aku berdiri di teras pasar Kraton. Tidak seperti biasanya, hari itu sepi sekali. Tempat parkir, yang biasanya berisi jajaran dokar-dokar kini lengang. Yang ada hanya kotoran kuda, yang kadang-kadang terbang bersama debu. Menerpa wajahku membawa udara panas. Setengah jam menanti datangnya dokar, amat membosankan. Hendak kutempuh dengan jalan kaki, jarak 3 km pada saat panas begini terasa jauh sekali.

Membuang rasa bosan, kupandang jalan raya. Kendaraan bermotor saling adu cepat berpacu dengan waktu. Sebuah bis berhenti disana. Pintu belakang terkuak, seorang gadis meloncat, lincah. “Dandanan remaja kota besar”, pikirku.

Kuamati gadis itu, t-shirt berwarna merah muda dan jeans yang dikenakan serasi sekali. Ditangannya yang mungil tergenggam koper yang cukup besar. Tas sekolah tergantung dipundaknya. Alangkah manisnya.

Ketika sudah berada di depanku, “Mau narik, kang?”. Sejenak aku terpukau. Sambil kutarik makin ke dalam topi bututku aku menjawab, “Ya. Non mau kemana?”. Dalam hati aku tertawa geli.

“Krapyakrejo. Berapa ongkosnya kalau hanya seorang?”

“Tentu saja lebih mahal, Non”.

“Berapa kang, dua ratus?”

“Kalau hari terik begini seribu lima ratus, mau?”

“Ah, yang bener kang!” Serunya.

“Lho, Non mau apa tidak? Kalau nggak mau kan saya tidak memaksa!”

“Ya…..mau deh!” Jawabnya dengan kesal, “Ngomong-ngomong dokarnya mana kang?”

Dengan tersenyum kusorongkan kedua tanganku dihadapannya.

“Lho…….???” Rasakan, heran dia.

“Non tadi kan tanya pada saya, apakah saya mau narik,…ya, saya mau menarik nona. Yang saya pergunakan narik tentu saja tangan ini. Benarkan?” Jawabku sambil kubuka topi bututku. Kulihat dia terpana. Kemudian rona merah terbias di pipinya yang putih, ketika memandangku. Tapi, kemudian bibirnya tersenyum manis. Kini giliranku, tiba-tiba saja jantung ini berdetak semakin kencang melihat senyum itu.

“Ah……..mas nakal sekali!”

“Salah sendiri, mengapa orang segagah ini disangka kusir.” Aih senyumnya makin lebar, meledaklah tawanya, yang merdu. Hatiku makin tak keruan. Ketika di atas dokar yang membawa kami pulang senyumnya belum menghilang jua.

Aku dilahirkan dan dibesarkan di desa Krapyakrejo, yang kuherankan mengapa belum pernah tau gadis ini. Ataukah dia sedang berkunjung kepada kerabatnya? Tapi mustahil aku tak mengetahuinya sama sekali. Hm, pusing.

“Nona ke Krapyakrejo, kalau boleh saya tahu hendak berkunjung ke rumah siapa?.” Tanyaku untuk menghilangkan pusing. Daripada susah-susah.

“Tidak berkunjung koq mas, mau pulang.”

“Pulang, memangnya orang sana?” tanyaku keheranan.

“Ya, mas. Saya tidak akan pulang ke Krapyakrejo kalau rumah saya tidak di sana!”

“Krapyakrejo sebelah mana nona?” Tanyaku penasaran.

“Sebelah selatan mas, tepatnya di pedukuhan Jolodaran.”

“Ngg…..putrinya pak Prayitno, ya?”

“Bukan mas, pak Haji Sapii.”

“Apa?” Sentakku kaget.

Dia tersenyum bijak agaknya mengerti mengapa aku tersentak tadi. Memang janggal sekali bila pak haji punya puteri seperti ini keindahannya.

“O ya, mas. Nama saya Hanifah, panggil saja Aan.” Kembali aku terpana, alangkah agresifnya dia.

“Aku Widi.” Jawabku.

Bermula dari kejadian yang lucu itu kami kemudian akrab. Aku sering berkunjung ke rumahnya. Santai bersamanya sungguh asyik. Ternyata ia puteri pak Haji Sapii yang bungsu. Sejak kecil ikut pamannya di Malang. Bersekolah di sana. Dia pulang sebab telah berhasil lulus SMEA dengan baik. Dia ingin ikut serta memajukan usaha ayahnya, berdagang dan bertani.

Selain santai di rumah, kami sering menyusuri bulak panjang dan pematang sawah. Berkejaran sepanjang tepi kali. Saling melempar bunga turi dan putik-putik randu yang terjatuh sepanjang bulak. Ketika kami sedang menengok sawah masing-masing.

Sewaktu seksi keputrian Karang Taruna ditinggalkan Endang, atas usahaku dalam rapat yang lalu lowongan itu diisi Aan.

“Koq belum ada yang datang mas?”

“E….hmm, ya Anggaran Dasar yang baru.” Dan meledaklah tawanya.

“Mas melamun ya?,” aku terdiam saja, bibir ini keluh untuk mencari jawaban yang bisa mengelakkan aku dari perasaan malu.

“Habis apa dong, kalau begitu?” lagi-lagi dia mengajukan pertanyaan yang menyudutkan posisi harga diriku.

“Berpikir!.” Jawabku sekenanya, berusaha mempertahankan harga diri melalui muslihat diplomatis.

“Mikir apa mas?.”

Setan, dia memojokkan aku terus. Awas ku skak nanti. Kucoba secepat mungkin menemukan strategi untuk menjatuhkan pertahanan hatinya.

“Ehm, mikir anu. Kira-kira pemuda mana yang kira-kira sedang Aan pikirkan saat ini.”

Nah, dia diam. Rona merah terbias di pipinya. Aku berdiri, kemudian duduk di sampingnya.

“Marah ya? Maaf saja deh kalau begitu.”

“Mas mau tahu siapa yang kupikirkan?”

“Kalau Aan nggak keberatan.”

“Nggak, ah!”

“Kenapa?”

“Malu!”

“Siapa?”

“Mas sendiri!”

“Koq…………saya?”

Dia tersenyum manis. Mimpi apa aku semalam, bahagia sekali. O dewa, aku tak bertepuk sebelah tangan.

Ketika sang ketua datang kusambut dia dengan ceria. Sangat ceria. Ketuaku heran. Kubiarkan saja. Hatiku ringan, melambung tinggi. Mulutku menyiulkan lagu kuno, Cintanya Bimbo. Sang ketua makin melongo. Biarin, rasain deh.

Hari-hari selanjutnya bulak panjang makin indah. Walau pohon turi tak lagi berbunga. Dan randupun kini meranggas. Tapi hati kami semakin mekar dalam rimbunan cinta.

Sastra Orba 2

•1 Desember 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Silahkan cari dan temukan zeitgeist yang menunjukkan cerpen ini ditulis pada masa Orba!

TEMPE

Oleh

M Widiadi

Makan angin sore hari begini memang menyenangkan. Pikiran yang lalah karena kerja bisa terhibur. Segar. Esok dapat kerja lebih giat. Ya, walau itu hanya sekedar jalan-jalan. Atau pun duduk-duduk di serambi sambil ngobrol bersama keluarga.

Seperti yang kulakukan pada sore hari ini. Hati ini amat bahagia. Betapa tidak, menyaksikan anak laki-lakiku disuapi ibunya. Tubuhnya gemuk, pipinya montok. Melonjak-lonjak meraih piring yang dipegang ibunya. Sambil merengek, “Maem……… maem,,,,,” Ibunya repot menahannya, “Nah…..Agung diam, awas kalau nakal tidak ibu suapi…..”

Rupanya mengerti juga si kecil. Lalu dia duduk dengan tenang di pangkuan ibunya. Secara lahap disambutnya suapan demi suapan. Tiba-tiba meraih piring, dan seiris tempe digenggamnya. Tempe.

Memandang tempe di tangan Agung. Aku ingat kembali riwayat hidupku. Bermula dari makanan itulah, kemudian aku bisa hidup bersama ibunya Agung. Dan menjadi juragan tempe yang terkenal sekecamatan.

Sejak lulus SMP aku bercita-cita menjadi pegawai negeri. Untuk itu aku ke kota. Bersekolah di SMEA yang kuanggap melancarkan cita-cita. Kost di kota dan jarang pulang ke desa.

Aku berjuang keras agar studiku sukses. Pulang kampung jika libur semester saja.

Pada tahun ketiga, semester lima sudah kujalani dengan tekun. Saat itu raport sudah kuterima. Usai sekolah aku pulang.

“Hore kak Wid datang…….” Teriak adik-adikku. Mereka berebut tas yang kubawa.

“Mana oleh-olehnya kak?”

“Sabar……..Sabarlah nanti semua dapat bagian. Dita buku bacaan, Andri kotak pensil, dan Alit karena masih nol besar dapat sekotak kue. O ya…serta masing-masing sebatang permen cokelat. Bagaimana kalian senang?”

“Hore…..senang! Kak Wid baik……!.” Adik-adikku yang lucu, mereka bersama-sama membawa tasku ke dalam, tak lagi berebut seperti tadi.

Saat makan siang. Mereka menunggu aku membagikan oleh-oleh. Nikmat sekali makan di rumah sendiri. Walau lauk pauknya tak mewah, tapi bergizi. Kugigit sepotong tempe. He….begini gurih. Kuamati tempe itu. Rupanya tempe asli. Murni kedelai.

Biasanya jarang di kampungku ada tempe murni. Orang kampung bila membuat tempe pasti dicampur jagung dan pepaya muda diiris kecil-kecil.

“Bu….. Ibu, beli dimana tempe ini?” Tanyaku.

“Kenapa? Enak ya? Habiskan saja, untuk lauk malam nanti bisa dibeli lagi.” Ibu tidak menjawab melainkan menyuruhku menyikat habis tempe di piring.

“Tanggung deh…… tapi terangkan beli dimana, bu?”

Adikku Dita yang duduk di bangku SMP kelas I menjawab, “Pak Mul, kak. Tetangga baru di pertigaan sana. Oya….penjualnya manis kak, cocok deh….. kalau berpasangan dengan kakak.”

“Hust……!” Bentak Ibu.

Aku tertawa sampai tersedak. Kuhabiskan sisa nasi di piring. Sambil membasuh tangan aku bertanya, “Memangnya Dita kenal dia?”

“Tentu saja kak. Tiap hari kami ke sekolah bersama.”

“Lho……dia sekolah?”

“Ya…….di SMP, sekarang masih kelas tiga.”

“Namanya siapa Dit?”

“Ah……..kak Wid. Kenalan sendiri kan lebih seru, tunggu saja besok pagi kak!”

Sebelum subuh aku sudah bangun. Kebiasaanku di kota sehabis mandi dan sholat aku belajar. Tapi hari pertama di desa kugunakan menghirup udara segar pedesaan. Aku berjalan-jalan ke pertigaan. Aku penasaran terhadap ucapan Dita kemarin. Seperti apa gadis penjual tempe itu. Apakah seperti Susi yang secara agresif menarik simpatiku?

Rumah pak Mulyo sederhana saja. Tapi bersih. Heran aku, pendapatku akulah yang bangun paling pagi. Ternyata halaman rumah pak Mul sudah resik dan asri. Rupanya baru saja ada tangan trampil membersihkannya. Gadis itukah?

Ketika aku menikmati the manis buatan Ibu. Di luar kudengar teriakan merdu, “Bi……tempe, bi!” Cepat kuletakkan galas. Aku bergegas keluar. Terngangalah aku melihat gadis yang berdiri di hadapanku. Gadis itu tertunduk, kaget melihat aku keluar.

Rambut hitam panjang sebahu. Alisnya indah bak rembulan tanggal satu. Kedua pipinya ranum bagai sepasang apel. Tubuhnya semampai hampir ceking. Tak kukira gadis ini demikian manisnya.

“Hai……mbak Muji, koq diam saja biasanya panggil-panggil.” Suara Dita tiba-tiba meledak di belakangku, “Oya mbak….Ini kakakku yang baru tiba dari kota……”

“Stop……Dita ini bagaimana sih. Kemarin aku kamu suruh kenalan sendiri. Sekarang koq kamu akan memperkenalkannya.” Aku memprotes tindakan adikku.

“Habis kalian pada bengong gitu sih. Baiklah…..kenalan sendiri tuh. Cepat kak, mbak Muji masih banyak tugas lho!”

Kudekati gadis itu, kuulurkan tangan dia menyambut ragu-ragu. Kusebut namaku, “Widi…kakak Dita nomor dua.”

“Mujiasih……..” jawabnya lirih.

“Asih, sungguh nama yang indah.”

Tapi dia tidak menanggapi komentarku.

“Beli berapa, Dit?”

“Empat mbak.”

“Tidak tambah satu Dit, kalau aku sudah tahu penjualnya manis sekali. Pasti tempenya semakin gurih rasanya.” Godaku.

Hari-hari liburku makin ceria. Setiap sore aku bertandang ke rumahnya. Sambutannya ramah tamah tak malu-malu lagi.

Kejadian pagi hari itu berkesan bagiku. Sejak itu aku punya kebiasaan baru. Aku kembali ke desa setiap sabtu siang. Tidak lagi enam bulan sekali.

Aku lulus SMEA, Asih pun lulus SMP. Tapi sayang Asih lebih memilih membantu orang tua daripada sekolah. Adik-adiknya masih menunggu kesempatan lebih baik darinya. Kesempatan beaya.

Setahun aku menanti kabar lamaranku. Tapi satu pun dari berpuluh lamaran yang kubuat mendapat jawaban. Nasibku terkatung-katung. Daripada nganggur aku membantu bapak di sawah.

Lucunya lamaran orang tuaku kepada pak Mul malah disambut dengan gembira. Begitulah. Aku kawin muda. Masih dua puluh dua. Sedang Asih delapan belas. Aku tak mampu menolak tradisi orang kampung. Kawin muda. Walau aku pernah hidup di kota. Tragis bukan?

Keahlian pak MUl mertuaku diwariskan kepada Asih. Ditopang ilmu Management Perusahaan dan Ilmu Ekonomi lainnya, dari SMEA dahulu. Usaha kami maju pesat. Kini, Asih isteriku yang manis tidak perlu keliling kampung menawarkan dagangannya.

Langgananku banyak, mereka gilir berganti datang ke rumah. Aku membuat pula keripik tempe yang gurih dan renyah. Sambal goreng tempe yang awet lama. Soal rasa, goyang lidah! Semuanya laris tak ada barang tersisa sedikit jua.

Harapanku adik-adik dan anak-anak kami kelak tidak seperti aku dan Asih. Aku ingin mereka bernasib lebih baik lagi. Tidak kawin muda, dan punya kedudukan yang nyaman.

“Mas ambilkan minum……!”

“Eh…….apa ‘yang?”

“Hayo melamun! Ada simpanan ya, mas?” gurau Asih manja.

“Memang, aku punya simpanan kau mau apa……!” bentakku garang.

“Benar, mas? Kalau begitu pulangkan saja aku!”

“Lihat!” kataku sambil menunjukkan buku Tabanas yang sejak tadi kupegang, “simpananku ada di Bank.” Isteriku tertawa tergelak-gelak karena gurauanku.

“Oya, Pemda menerima pegawai baru, mas tidak melamar?”

“Tidak aku sudah puas hidup seperti ini.”

Aku puas. Siapa pula yang akan jadi wiraswasta bila semua pemuda menjadi pegawai negeri. Aku hendak menunjukkan kepada generasi muda. Bahwa dengan tempe kita bisa hidup lebih baik.

Sore sudah lenyap. Adzan terdengar merdu, menyentuh kalbu. Aku segera ambil wudlu. Untuk kesekian kalinya, kusyukuri nikmat Allah terhadapku dan keluargaku.

Sastra Orba 1

•1 Desember 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Silahkan cari dan temukan zeitgeist yang menunjukkan bahwa cerpen ini ditulis pada masa orba!

HARGA SEBUAH KEBEBASAN

Oleh:

M. Widiadi

Diambilnya sejumput dupa. Harum mewangi menusuk hidung setelah dupa terbakar bara. Mulutnya yang keriput, komat-kamit. Mantera andalan dirapal. Mata terpejam rapat. Sementara air putih di baskom tenang saja. Kembang telon terapung bisu.

Anam memperhatikan semua tingkah laku dukun tua. Wajahnya tegang penuh asa. Anak kecil disampingnya acuh saja. Sudah biasa.

“Hah…..!” bentak dukun tua. Matanya terbuka lebar memandang baskom

“Hai…..manusia celaka, muncullah…..muncullah wajahmu di permukaan air bening. Sebening kaca. Bwe…..!” Dukun tua menyemprotkan ludah ke dalam baskom.

“Itu dia! Saya melihatnya, pak!” Si anak kecil berkata kepada Anam.

“Mana?” Anam melotot ke dalam baskom. Yang ada disana hanya air putih beriak kecil. Kembang telon terangguk-angguk. Hanya itu.

“Mana…. Aku tidak melihatnya! Teriaknya penasaran.

“Tenanglah anak muda. Air itu hanya bisa menampakkan bayangan kepada anak kecil. Anak kecil adalah cermin bening, ibarat dunia tanpa noda dan dosa” Dukun tua menerangkan penuh wibawa.

“Lalu……bagaimana saya bisa tahu?”

“Anak itu akan mengatakannya”

“Katakan. Cepat katakanlah nak!” Anam mendesak tak sabar. Rupanya dia ingin segera tahu siapa pencuri sapinya.

“Seorang laku-laki……” anak itu berhenti sejenak.

“Ya……lalu bagaimana ciri-cirinya?”

“Sabarlah nak, kalau didesak terus belum habis dia berkata bayangan itu akan lenyap” Dukun tua kembali menengahi.

“Mukanya lonjong……alisnya tebal…..rambut lurus pakai kopyah….ada sedikit kumis….bajunya hitam berbadan kurus……eh……dia membawa cambuk…..dan anunya….. wah gambarnya hilang!”

“Bangsat…..bajingan…..tak salah lagi itu adalah si bangsat Sumo kerempeng!” Sumpah serapah meluncur dari mulut Anam.

Sumo duduk di depan rumah bambunya. Setelah memberi minum dan mengganti rumput di kandang. Dihisapnya rokok keretek, nikmat walau tinggal separoh.

Pikirannya melayang, memikirkan keaadaan ekonomi keluarganya. Timbul dalam pikirannya jika pepatah nenek moyang yang selama ini dipegangnya. Kosong melompong. Bagai slogan kosong, tak bermakna.

“Banyak anak banyak rejeki,” begitu ujar neneknya setiap saat ketika mengasuhnya.

Tapi apa lacur. Begitu dia kawin. Dalam jangka sepuluh tahun anaknya sembilan. Maklum non stop!

Yang Sumo rasakan setiap anaknya bertambah. Keluarganya semakin kembang kempis. Tanpa tanda-tanda rejekinya akan bertambah. Kenyataan dia harus ngebon ke sana ke mari untuk memenuhi tuntutan keluarga.

Seandainya sedari dulu dia sadar akan peranan KB. Nasibnya tak akan seperti ini. Ketika penyuluh KB mengadakan ceramah di Balai Desa pertama kali dulu. Sumolah yang memberi suara sumbang. Menentang!

Kini Sumo menghidupi keluarganya dengan hasil cucuran keringat. Setiap hari pasaran dia harus jalan kaki 10 sampai 19 kilometer. Menuntun sapi-sapi titipan untuk dijualnya di pasar hewan Ranggeh atau Wonorejo.

Isteri dan anaknya turut bekerja pula. Entah di sawah, pembantu rumah tangga, menumbuk padi dan pekerjaan lain yang bisa dikerjakannya. Sampai anaknya yang enam tahun sering juga kerja mengantar makanan ke sawah. Upah sebungkus nasi amat berarti bagi anak-anaknya yang kecil.

Gedung SD Inpres dan TK di sebelah rumahnya. Belum pernah diinjak anaknya. Bagi mereka sekolah merupakan hal mewah. Hidup rasanya lebih berarti diisi dengan kerja. Uang bisa didapat dengan andalkan tenaga bukan encernya otak.

Sebuah suara membangunkan lamunan Sumo, “Mo….Sumo” Anam memasuki halaman rumahnya bersama Joyo Jagabya dan seorang polisi.

“O, pak Joyo…..mari-mari, pak. Silahkan pak Anam dan ..eh…pak Polisi mari masuk, pak!”

“Tidak usah, Mo. Kami hanya ada keperluan sebentar saja”.

“Silahkan, pak. Saya bersedia membantu bila dibutuhkan”.

“Kapan pak Sumo terakhir kali ke pasar?” Polisi sudah mulai menginterogasi.

“Seperti biasa pak. Hari Jumat saat pasaran Ranggeh”. Sumo yang tidak menaruh curiga menjawab. Mata Anam bersinar marah.

“Tepat, pak! Inilah orangnya!” kata Anam.

“Baiklah sebaiknya pak Sumo ikut saya ke kantor saja. Di sana kita beromong-omong santai dan bebas”.

Pintar juga polisi muda berdiplomasi. Tentu saja dia tidak bisa melakukan interogasinya dengan disaksikan orang lain. Sudah biasa Serpice macam begitu banyak berpraktek. Omong santai yang dikatakannya tak lain omongan keras. Memaksa pengakuan.

Sumo pamit kepada isterinya. Si bungsu yang sedang demam lagi menetek mengisap putting yang kering. Sumo meraba dahi si kecil masih panas.

Dengan langkah berat, ditinggalkannya keluarga dan sapi-sapinya.

Seminggu Sumo meringkuk di kamar pengap. Orang kampung banyak mempergunjingkan nasibnya. Benarkah dia mencuri sapi milik Anam? Tetangganya yang kaya raya.

Di hari kelima dia menerima kabar duka. Si bungsu tak tertolong lagi. Anak kecil tanpa dosa berangkat ke alam baka tanpa diiring bapaknya. Sumo terenyuh. Ia tak kuasa pergi ke alam bebas. Semoga si bungsu berjalan sendiri dengan damai.

Tibalah hari kebebasan. Hari ketujuh. Seorang berkaos putih bersarung hitam, menggantikannya. Tubuhnya gempal berotot, matanya bersinar tajam. Jahat. Janggut lebat menutup dagu yang bundar. Rambut berombak panjang.

“Pak Sumo…..boleh keluar!”

Sumo pun keluar tanpa tanya ini itu. Begitu juga saat dia dinyatakan bebas. Hatinya tawar. Tak sebersit jua kegembiraan di wajahnya. Hanya dadanya tak lagi sesak. Bebas. Betapa segar udara alam kebebasan.

Tiba di kampung kabar angin mengatakan bahwa si kaos putih itulah pencuri sebenarnya. Tapi mau apalagi dia? Menuntut? Atau melabarak Anam kaya raya itu? Tidak Tak satu pun yang dia lakukan. Ia lebih baik menerima nasibnya.

Sore hari Anam datang ke rumahnya, “Lho…..pak Sumo sudah datang? Apa kabar, pak?” Ia menyapa ramah dibuat-buat.

Sumo memaki dalam hati, “Bangsat! enak saja menanyakan kabar”, hanya dia berkata, “Baik, pak. Mari silahkan.”

Anam duduk di balai bambu. Diam, sejenak menikmati cerutu.

“Kedatangan saya kemari sekedar menyerahkan ini, pak Sumo”. Kata anam sambil meletakkan lima lembaran Diponegoro.

“Anggaplah itu tanda kekeliruan saya tempo hari. Harapan saya diantara kita tidak ada persoalan lagi. Maklum yang salah adalah dukun tua itu”. Anam menerangkan duduk perkaranya. Sumo tahu jika Anam hanya mencari kambing hitam.

Ketika tetangganya menjenguk, banyak yang menyarankan agar dia menuntut Anam. Sumo menjawab, “tak berguna. Seorang melarat seperti aku tak akan menang melawan dia. Kalian tahu kabarnya di kota besar keadilan dapat dibeli dengan uang. Sedang bagiku perkara ini sudah habis. Biarlah, Tuhan jua yang akan mengadili makhluk-Nya kelak dengan seadil-adilnya.”

Sumo pasrah. Meskipun kepasrahannya amat mahal. Sama halnya dengan menelan segelas empedu. Pahit. Sangat pahit sekali.

Di kubur anaknya, Sumo mengubur dendamnya. Bila dia ingat si bungsu serasa dendam itu diungkit lagi. Dikirimnya doa tulus seorang bapak yang kehilangan, “Anakku, andai bapakmu tidak mengalami musibah itu. Kau pasti masih berkumpul dengan saudaramu. Maafkan bapakmu, nak. Bapakmu tak kuasa mendobrak ketidak-adilan dunia. Tenanglah kau di alam sana. Bapak percaya kuburmu bercahaya terang. Cahaya kasih Tuhan”.

Mirip penyesalan doa itu. Memang Sumo menyesal terhadap tindakan manusia yang tak menghargai kebebasan sesamanya. Juga polah manusia dalam menghadapi kesulitan. Lari ke dukun. Padahal Yang Kuasa menggenggam nasib umat. Termasuk nasib Sumo, bukan?

ANALISIS BUKU LAMA: Pendekatan Agama dalam Filsafat Sejarah

•1 Desember 2008 • 1 Komentar

ANALISIS BUKU:

PENDEKATAN AGAMA DALAM FILSAFAT SEJARAH[1]

A. Pendahuluan

Ketika pertama kali berjumpa dan berkenalan dengan buku yang berjudul “Pendekatan Agama dalam Filsafat Sejarah” karya Mastury ini, yang terlintas dalam pikiran adalah perasaan sinis. Bagaimana mungkin filsafat sejarah yang cenderung mencari kebenaran secara objektif mencoba untuk dipahami melalui perspektif agama yang cenderung subjektif?. Bukankah ilmu dan agama cenderung memiliki prosedur yang berbeda antara pembuktian dengan kepercayaan? Jika ilmu cenderung dibuktikan dulu baru dipercayai kebenarannya vis-a-vis agama yang cenderung percaya dulu, masalah pembuktian atas kebenarannya adalah urusan belakangan!. Dan bagaimana mungkin agama hendak turut campur dalam urusan sejarah?

Perasaan buruk sangka inilah yang menghiasi hati penulis ketika pertama kali berjumpa dengan buku karya Mastury ini. Perjumpaan pertama penulis dengan buku ini terjadi pada 14 Februari 2003, yang konon kata orang merupakan hari kasih sayang—valentine day. Namun yang muncul adalah benih-benih sinis dan kebencian. Bagaimanapun didorong oleh rasa penasaran dan keyakinan “uit de slechte boeken is altijd noch wat te leren!”—bahwa dari buku terjelek sekalipun pasti masih ada yang untuk dipelajari—maka terbacalah semua isi buku ini. Apa yang terjadi? Dari benci tumbuh cinta! Dari buku inilah, penulis tersadarkan bahwa agama dan sejarah memanglah tidak bisa dipisahkan, meski diusahakan untuk dipisahkan. Kalaupun dipisahkan keduanya pada hakekatnya tak terpisah.

Dengan latar belakang yang semacam inilah, maka pada kesempatan ini penulis berusaha untuk memaparkan isi dan analisis terhadap buku karya Mastury ini. Mungkin pada sebagian pembaca buku ini akan terasa absurd dan menolak mentah-mentah apa yang disampaikan oleh Mastury. Namun bagi sebagian orang, buku ini akan menyadarkan pembaca bahwa ada benarnya pula apa yang telah ditulis oleh Mastury.

B. Pendekatan Agama dalam Filsafat Sejarah

Satu pernyataan yang paling berkesan terus dalam jiwa penulis ketika membaca buku ini adalah kutipan Mastury dari Martin Buber—seorang ahli Filsafat Yahudi—yang berkata “All religion is history”. Inilah inti sari dari keseluruhan isi buku ini! Hanya ini, tidak lebih! Selebihnya hanyalah pengembangan dari yang tidak lebih!

Landasan lain, adalah keyakinan bahwa sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan, filsafat dianggap sebagai induk ilmu (mater scientiarum), sedangkan agama merupakan sumber filsafat. Namun dalam perkembangannya semua menjadi terpisah, tercerai, dan berdiri sendiri seolah tak mau menyapa!

Filsafat sejarah merupakan ilmu yang mempelajari serta menyelidiki teori yang berkenaan dengan perkembangan manusia sebagai makhluk sosial, dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Metafisika Sejarah (filsafat sejarah spekulatif) yang mempelajari latar belakang sejarah, dasar-dasar hukumnya, arti dan motivasi dalam sejarah. Kedua, Logika Sejarah (filsafat sejarah kritis) yang disebut juga metodologi sejarah yang menekankan pada studi tentang kebenaran dari fakta dan data sejarah, mencitakan keobjektifan sejarah, dan mengadakan interpretasi dan eksplanasi terhadap peristiwa sejarah.

Filsafat sejarah yang menjadi titik perhatian dalam buku karya Mastury ini adalah pada filsafat sejarah spekulatif, yang menekankan kajian dari segi mempelajari makna dan tujuan dari proses sejarah. Pertanyaan tentang makna sejarah adalah persoalan hidup yang selalu dihadapi oleh manusia; darimana asalnya dan hendak kemana tujuannya dari sejarah hidup manusia ini. Hal ini menyangkut proses sejarah. Dicarinya hubungan antara fakta untuk sampai pada asal dan tujuan; kekuatan apa yang mendorong sejarah ke arah tujuannya. Bagaimanakah akhirnya dari proses sejarah itu?

Filsuf sejarah telah menghasilkan berbagai pemikiran tentang filsafat sejarah. Filsafat sejarah dilihat dari segi strukturnya ada tiga pola. Pertama, pemikiran tentang sejarah yang menggambarkan proses perkembangan sejarah secara linear (garis lurus). Perkembangan sejarah yang menuju ke titik akhir yang konkret (pandangan yang disebut eschaton), bahwa manusia dan dunia/alam berakhir pada hari kiamat/kematian. Kedua, pemikiran yang melihat sejarah sebagai suatu proses perkembangan yang bersifat mekanis dan materialis, seperti yang terlihat dalam aliran materialisme, historis materialisme dari Karl Marx (eschatologis sosial). Ketiga, pemikiran yang melihat sejarah sebagai suatu proses perkemabangan hidup yang bersifat biologis (organisme biologis) atau yang bersifat cyclis morphologis seperti peristiwa biotis yang terdapat sehari-hari.

Telah nyata bahwa hubungan antara filsafat dengan ilmu sejarah terjalin erat, begitu pula hubungan antara agama dan sejarah (dengan sendirinya juga dengan ilmu sejarah) ternyata ada hubungan yang erat, karena semua agama pasti terkait sejarah. Karena demikian eratnya hingga hampir tidak dapat dipisahkan. Lantas bagaimanakah filsafat sejarah bila dilihat dari pendekatan agama?

1. Filsafat Sejarah dalam pandangan Agama Hindu dan Budha

Manusia bagi agama Hindu merupakan gambaran yang kompleks, inti manusia terdapat pada pandangan terhadap atman-atman, yakni jiwa yang diangapnya kekal. Orang Hindu percaya bahwa jiwa itu kekal, sempurna tak akan mati, tak akan menemui ajal. Apabila orang mati karena sakit atau sebab lainnya, jiwa itu tetap abadi. Jiwa itu hanya berpindah dari satu badan ke badan yang lain, sebagaimana orang berganti pakaian. Menurut kitab Bhagavat Gita “Ia (jiwa) tidak pernah dilahirkan, juga tidak pernah akan mati, tidak pernah diciptakan, juga akan tetap ada. Ia tidak dilahirkan dan besifat abadi. Ia tidak terbunuh apabila badan itu dibunuh”.

Menurut pengamatan Prof.Dr.C.J. Bleeker “…Atman sama dengan Brahman. Pada ujudnya manusia sama dengan dunia sendiri. Kebenaran ini disimpulkan secara pokok dalam perumpamaan yang termasyur: tat tvam asi”. Sedangkan dunia sendiri dikatakan maya/illusi.

Kematian menurut agama Hindu adalah berhentinya kerja jiwa yang ada dalam badan manusia, atman/jiwa yang telah pisah itu tetap bekerja diluar tubuh menurut rencana berdasar Karmaphala (hukum karma) dan tak ada seseorang terhindar dari karmaphala itu. Dalam kitab Mahabarata dinyatakan bahwa tiada sesuatupun dapat membebaskan diri dari karmaphala ini. Dewa-dewa pun mesti mengalami akibat-akibat dari perbuatannya. Perbuatan yang dilakukan manusia, dimana perbuatan itu dinilai merugikan orang lain maka pada saat itu juga ia telah terikat oleh karma. Karma atau perbuatan menentukan perpindahan atau kelahiran baru dari pada jiwa.

Kehidupan manusia di dunia berlangsung secara cyclis (lingkaran) artinya lingkaran yang hampir tak ada ujung dan pangkalnya. Proses cyclis itu ialah seperti pengeluaran (kelahiran) dan pralaya (dissolution-penghancuran) ini berlaku kepada semua yang ada dan terjadi sewaktu-waktu. Hidup manusia di dunia ini hampir tidak punya tujuan, tapi merupakan ulangan perkembangan dan kematian yang terus menerus. Dunia ini didiami oleh makhluk yang bermacam-macam termasuk dewa. Manusia hidup di dunia bukan hanya satu kehidupan tetapi melalui banyak eksistensi, karena kehidupannya dikuasai oleh karmaphala. Setelah badannya mati, jiwanya (atman) akan terlahir kembali dalam bentuk baru. Yang baik akan terlahir dengan lebih tinggi kualitasnya, sedang yang jelek akan terlahir dalam kualitas yang lebih buruk. Di sini tampak bahwa kehidupan manusia akan mempunyai arti apabila dalam kehidupannya itu selalu dilatar belakangi dengan moral dan kehidupan spirituil serta keyakinan yang berdasar mythologis.

Pandangan agama Hindu tentang waktu yang merupakan faktor penting dalam sejarah menyatakan waktu itu berlaku secara siklis yang seolah-olah tidak ada awal dan tidak berakhir, bahkan merupakan siklis yang besar yang didalamnya terdapat berbagai siklis individual dalam eksistensi yang beragam.

Masa-masa kehidupan manusia di dunia ini bukan merupakan sesuatu yang harus disyukuri, tetapi merupakan samsarathe passage of the soul in the cycle of births and deaths. Untuk supaya terhindar dari dari tekanan siklis ini dianggap tidak berarti; agar supaya dapat moksa, maka diadakan pelajaran batin dan fisik yang merupakan jalan pemusatan (raja—yoga), Jnana-Yoga adalah jalan melalui latihan fisik.

Adapun proses perjalanan sejarah menurut agama Budha ada kesamaan prinsip yaitu bahwa seluruh kejadian dalam sejarah itu merupakan ulangan belaka yang bersifat siklis. Sebab-sebab adanya ulangan itu adalah karena karma, perbuatan yang baik akan menghasilkan kebaikan dan sebaliknya. Orang dapat lepas dari lingkaran kelahiran yang kemudian ke Nirwana. Lingkaran lahir adalah samsara. Untuk dapat mencapai nirvana dan atau moksa, maka manusia harus melaksanakan ajaran yang dibawa oleh sang Budha Gautama.

Ajaran yang yang dibawa antara lain mengenai aryasatyani, atau empat kebenaran utama, yakni:

a. Hidup adalah menderita (samsara).

b. Samsara ada karena ada kama/trsna.

c. Samsara dapat dihentikan dengan jalan menindas kama.

d. Kama dapat ditindas melalui astavidha (delapan jalan kebenaran): yang meliputi kemauan yang baik, maksud yang baik, ucapan yang baik, perbuatan yang baik, cara hidup yang baik, daya upaya yang baik, merenung yang baik, dan tafakur yang baik.

2. Filsafat Sejarah dalam pandangan Agama Kristen dan Islam

Dalam filsafat sejarah terdapat aliran yang dinamakan “redemptive philosophical viewpoint” terutama berakar pada keyakinan dan dogma agama Kristen, yang menafsirkan segala kejadian di dalam sejarah itu semata-mata sebagai kehendak Tuhan, dimana manusia dalam panggung sejarah itu menjalankan sekedar peranan penebus dosa belaka (“to redeem” artinya menebus), menuju ke arah peningkatan nilai-nilai kemanusian.

Hakekat manusia dalam agama Kristen seperti tercermin dalam kitab Injil, Kejadian I:27 “Maka Allah menjadikan manusia itu menurut gambar-Nya: yaitu menurut gambar Allah dijadikan-Nya dia; laki-laki dan perempuan dijadikan-Nya mereka”. Dari sini dapat disimpulkan bahwa manusia itu selain terbuka untuk dunianya juga terbuka untuk Tuhannya. Manusia adalah manusia dalam kemanusiaannya, tetapi manusia tidak hanya “manusia dalam dunia” juga manusia dalam gambaran Tuhan. Manusia sebagai manusia mencintai sesama manusia, manusia sebagai gambar Tuhan mencintai Tuhan.

Aspek dari “segambar” dengan Tuhan itu juga dapat berarti bahwa manusia itu memiliki/menerima kekuasaan di dunia ini sebagai gambaran dari kekusaaan Tuhan. Manusia dijadikan mempunyai kemampuan menaklukan dan menguasai dunia. Hal ini tercermin dalam kitab Kejadian I:28…..dan penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukanlah dia…..

Pandangan Kristen tentang Tuhan adalah Tuhan itu Esa yang dapat dibedakan dalam tiga cara berbeda: sebagai Bapak, sebagai Putera, dan Roh Suci yang berada dalam satu ikatan kasih dari kekal ke kekal.

Manusia diciptakan segambar tetapi telah jatuh ke dalam dosa sejak Nabi Adam; menurut Agama Kristen dosa itu dilakukan dalam sorga yang abadi, akibatnya hasil dosa itu abadi (dosa waris). Manusia terseret kedalam pemberontakan terhadap Tuhan. Pemberontakan merupakan sumber segala kejahatan manusia, dosa itu demikian radikalnya.

Menurut Kristen untuk keselamatan manusia dari keadaan itu meningkatkan nilai-nilai moralnya, maka Tuhan mengutus Jesus Kristus ke dunia ini. Putera Tuhan menjadi manusia. Ia menebus dosa manusia dan mendirikan kerajaan Tuhan di dunia ini. Di akhir zaman Kristen akan menyempurnakan Kerajaan itu. Dengan demikian Kristus itu Vere Deos dan Vere Humos. Karena dosa itu abadi hanya dapat ditebus dengan yang semisal abadi. Proses sejarah menurut agama Kristen bersifat linear. Makna sejarah terletak pada penebusan dosa. Kristus lebih berat diartikan pada Penebus Dosa dari pada sebagai Nabi yang membawa ajaran, ajaran yang didalamnya terdapat nilai-nilai berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu dalam dunia Kristen, Theologi Kristen lebih berkembang dibanding dengan aspek lain-lainnya.

Hakekat manusia menurut pandangan Islam dapat dijelaskan antara lain seperti yang tersebut dalam Al-Quran surat al-Baqarah:30 yang menyatakan sebagai berikut

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi, orang yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dari sini tampak terdapat gambaran jelas dua status manusia. Pertama, manusia dijadikanTuhan—manusia ciptaan Tuhan—manusia hamba Tuhan. Kedua, manusia sebagai khalifah di dunia—manusia bertanggung jawab—manusia pendukung ilmu dan kekuasaan. Dalam ayat itu pula dialog antara malaikat dengan Allah terdapat beberapa pengertian antara lain:

a. Dugaan para malaikat bahwa manusia yang akan diciptakan itu akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi ini, karena yang menduga malaikat, maka hasil dugaannya tidak mutlak benarnya juga salahnya.

b. Malaikat yang termasuk makhluk Allah memiliki intensitas ketaatan dan kejujuran yang tinggi, sehingga apa saja yang diperintahkan Allah tidak ada yang tertinggal dan tidak dilaksanakan.

c. Manusia yang tidak menyadari statusnya secara utuh, manusia hanya sebagai pendukung ilmu dan kekuasaan serta atheist akan berakibat kerusakan dan penumpahan darah.

d. Allah Maha Mengetahui, karena lebih mengetahui sekedar apa yang diduga oleh para malaikat.

e. Manusia yang menyadari betul-betul statusnya kemudia mereka beramal saleh, berperanan sesuai dengan kedudukannya, maka ini berarti telah berfungsi.

Dari status manusia sebagai ciptaan Allah mengandung makna yang dalam, kehidupannya selalu ditandai dengan hubungan antara manusia sebagai hamba Allah, hubungan yang berdasarkan keyakinan bahwa Allah itu Esa. Dalam proses perjalanan sebagai seorang muslim ditandai dengan kesaksian dua kalimat syahadat “Tiada Tuhan melainkan Allah—dan Muhammad adalah utusan Allah”. Hal ini mengandung pengertian bahwa proses perjalanan hidupnya selalu dijiwai ke Tauhidan (meng-Esa-kan Tuhan). Karena dasar keyakinan ke Tahuhidan ini, terpencar dari dasar ini keyakinan penuh bahwa hanya kepada Allah-lah kita menyembah dan kita memohon pertolongan dan kepada Allah kita memohon petunjuk. Allah menurut agama Islam berlawanan dengan konsep dari Deisme. Oleh karena itu terdapat tendensi yang kuat dari pandangan Islam bahwa Allah itu tetap apa yang disebut dengan “cretario continua”. Allah tetap bersama dengan hamba-Nya yang percaya. Allah itu immanent in power, bukan immanent in being atau in essence.

Status manusia yang kedua sebagai khalifah: oleh karena itu segala perbuatan manusia di dunia ini pantas dimintai pertanggungan jawab, mau atau tidak mau—per se—dalam proses perjalanan hidup manusia amal perbuatannya baik atau buruk akan dimintai pertanggungan jawab kelak diakhir zaman. Semua hasil-hasil perbuatannya akan dipertunjukkan, bukan hanya sekedar dipertunjukkan saja tapi lebih berat amal perbuatannya.

Status sebagai seorang khalifah didunia ini menuntut keharusan untuk mempelajari agamanya dan berfikir, merenungkan serta memahami dan mengenal gejala-gejala di dunia ini, tegasnya mengembangkan ilmu, tuntutan ini bukan hanya berlaku pada usia belajar, tetapi sepanjang usianya.

Karena manusia dapat bertanggung jawab dan mempunyai daya kemampuan berfikir yang baik, maka dunia dan isinya ini disediakan untuk kepentingan manusia, maka ciri-ciri seorang muslim ialah: iman (taqwa)—ilmu—amal. Ini bukan berarti bahwa manusia dipaksa untuk beramal yang ia tidak mampu. Tetapi merupakan suatu tuntutan agar manusia berkembang ke arah yang lebih baik untuk hari esok—untuk generasi yang akan datang. Jadi proses sejarah dalam Islam adalah berjalan linear menuju kesempurnaan yang diridhai oleh Allah dimana Islam betul-betul menjadi rahmat seluruh semesta alam.

C. Kesimpulan

Pada hakekatnya antara sejarah dan agama memanglah tidak bisa dipisahkan. Dalam ajaran-ajaran agama seringkali disertai dengan contoh dan gambaran kehidupan di masa lalu. Agama Hindu dalam kitab Mahabarata memberikan sejarah kepahlawanan para perwira yang berisi pesan-pesan moral, semisal yang terdapat dalam Bhagavat Gita. Kitab Ramayana juga memberikan pesan yang tidak jauh berbeda.

Dalam agama Budha diberikan kisah-kisah sejarah perjalanan hidup sang Budha dalam kitab Budhacarita, Lalitawistara, maupun Jatakamala. Semua menceritakan masa lalu Budha yang didalamnya diselipi ajaran agama.

Dalam agama Kristen dan Islam, jelas dalam kitab Injil dan Quran juga berisi tentang kisah-kisah sejarah. Mulai kisah yang bisa manjadi panutan hingga kisah yang bisa menjadi contoh keburukan.

Perjalanan sejarah dalam agama Hindu dan Budha menganut konsep siklis, sedangkan Kristen dan Islam menganut gerak sejarah linear.


[1] Buku yang dianalisis dalam tulisan ini adalah karya Mastury, Pendekatan Agama Dalam Filsafat Sejarah (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1982)

RESENSI BUKU: LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU

•1 Desember 2008 • 1 Komentar

MITOS LEKRA TAK MEMBAKAR BUKU

Oleh

Aditya N. Widiadi

I. Identitas Buku

· Judul Buku : Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965

· Penulis : Rhoma Dwi Aria Yuliantri & Muhidin M Dahlan

· Penerbit : Merakesumba, Yogyakarta

· Cetakan : Pertama, September 2008

· Tebal : 580 halaman

II. Isi Resensi

Provokatif dan Agitatif. Itulah kata yang pas untuk menilai judul buku ini. Namun, justru disinilah letak kekuatan buku ini untuk menarik mata pembaca agar memelototi kata demi kata dalam setiap halaman, dengan pertanyaan yang senantiasa membebani kepala “benarkah lekra tak pernah membakar buku?”

Terlebih, tema bakar-membakar buku adalah trend kekinian bagi pihak-pihak yang merasa berkuasa untuk melenyapkan buku-buku yang dianggap mengganggu “ketertiban umum” dan kelanggengan kekuasaan. Pembakaran, atau minimal pelarangan buku bukanlah dominasi kebijakan orde lama, orde baru, ataupun masa reformasi sekarang. Hampir di sepanjang sejarah umat manusia sejak mengenal budaya tulis, selalu terdapat pihak yang keblinger untuk membakar “puncak-puncak peradaban” demi melanggengkan posisinya dalam panggung sejarah. Dan apapun alasannya, membakar buku adalah “dosa besar.”

Buku ini disusun dengan menggunakan sumber tunggal dari Harian Rakjat, sebuah surat kabar harian yang pertama kali terbit 31 Januari 1951 dan menjadi corong Partai Komunis Indonesia (PKI). Harian yang terakhir terbit pada 3 Oktober 1965 ini, memiliki edisi khusus hari minggu yang dinamakan Lembar Kebudayaan. Melalui wadah inilah para budayawan Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) menuangkan berbagai kerja budayanya dalam bentuk cerita pendek, sajak, dan sebagainya.

Penulis bekerja dengan memanfaatkan data-data yang terdapat dalam edisi Harian Rakjat yang selamat dari “pembantaian massal,” namun “terpenjara” dalam ruang khusus perpustakaan yang berlabel “bacaan terlarang” dan telah menjadi santapan lezat rayap selama 30 tahun lebih. Hanya dengan ketekunan, penulis bisa merekam hampir seluruh artikel berita kebudayaan yang menjadi konsens Lekra. Hasilnya tidak mengecewakan, selain menghasilkan buku ini, mereka juga menyusun dan menyunting buku “Gugur Merah” yang merupakan himpunan 450 puisi dari 111 penyair Lekra, serta buku “Laporan dari Bawah” berisi 100 cerita pendek yang termuat dalam lembar kebudayaan Harian Rakyat dalam kurun 15 tahun. Maka buku ini sangat tepat dikatakan sebagai trilogi tuntas mengenai sejarah dan hasil karya Lekra sebelum lembaga ini disemayamkan secara paksa dalam liang sejarah.

Meski mengandalkan satu sumber utama, dua orang penulis muda ini mampu menyajikan seluk beluk Lekra secara lengkap. Lekra sebagai organisasi dikupas tuntas dari sudut ideologi, genesis, asas, karya, dan geraknya dalam sejarah. Organisasi yang lahir 17 Agustus 1950 ini menyatukan “seniman2 pedjuang” atau “pedjuang2 seniman” dalam satu keyakinan saat berkarya, bahwa politik sebagai panglima. Ruang kerja Lekra meliputi bidang susastra, film, senirupa, seni pertunjukan, seni tari, musik, dan perbukuan yang kesemuanya diabdikan untuk tujuan politik. “Politik tanpa kebudayaan masih bisa jalan, tapi kebudayaan tanpa politik tidak bisa sama sekali.”

Sempurna bukan berarti tanpa celah. Kelemahan yang nampak pada buku ini, meski bukan dikategorikan sebagai kesalahan metodologi, adalah keputusan penulis untuk menggunakan sumber tunggal utama yang berasal dari Harian Rakjat. Sartono Kartodirdjo, sudah sejak lama mengingatkan agar penggunaan surat kabar sebagai sumber sejarah dilakukan secara kritis. Peringatan ini terkait dengan unsur subjektivitas, kekurangtelitian, ketergesahan, kedangkalan, dan kecenderungan pemuatan sensasi dalam pemberitaan surat kabar. Lebih-lebih telah jelas sikap Harian Rakjat sebagai corong politik PKI. Maka penggunaan sumber ini hanya bisa disiasati dengan kritis melalui penggunaan sumber-sumber lain sehingga bisa memperlebar pandangan dalam melihat masa lalu.

Keputusan penulis untuk tidak memanfaatkan para budayawan Lekra yang masih hidup sebagai sumber data juga patut disesalkan. Dengan apologi penulis bahwa tokoh-tokoh Lekra yang masih hidup “boleh jadi ingatan mereka sudah tak terlalu bersih-jernih” dan “dicuci oleh penyiksaan,” maka mereka tidak dijadikan informan. Padahal para pelaku sejarah ini lebih tahu banyak segala tentang Lekra, karena mereka adalah pelaku yang hidup sejaman dan merasakan langsung menjadi anggota Lekra.

Penulis mungkin memang telah menyelamatkan berbagai data dan informasi penting dalam lembaran koran tua Harian Rakjat yang dimakan rayap. Sayang sekali penulis tidak berminat menyelamatkan data dan informasi penting dalam ingatan para pelaku, yang boleh jadi segera dimakan waktu. Koran langka mungkin bisa diselamatkan dengan cetak ulang, tapi pelaku sejarah tidak akan pernah bisa dicetak ulang!

Lantas, benarkah Lekra tak pernah membakar buku? Pertanyaan yang senantiasa terngiang dalam telinga sejak membaca judul buku, baru terjawab pada bagian akhir buku ini. Secara tertulis, memang tidak terdapat bukti—setidaknya berdasar informasi yang termuat dalam Harian Rakjat—bahwa Lekra pernah menginstuksikan untuk membakar buku lawan-lawanya, seperti karya Manifes Kebudayaan (Manikebu).

Secara organisasi, mungkin Lekra tidak pernah menginstruksikan untuk membakar buku. Tapi secara perseorangan, mungkin ada anggota-anggota Lekra yang membakar buku. Membakar buku dan semua karya mereka sendiri yang bisa dijadikan bukti untuk mengeksekusi penulisnya. Untuk yang satu ini, membakar buku tidak dikategorikan dosa besar!