ANALISIS BUKU LAMA: Pendekatan Agama dalam Filsafat Sejarah

ANALISIS BUKU:

PENDEKATAN AGAMA DALAM FILSAFAT SEJARAH[1]

A. Pendahuluan

Ketika pertama kali berjumpa dan berkenalan dengan buku yang berjudul “Pendekatan Agama dalam Filsafat Sejarah” karya Mastury ini, yang terlintas dalam pikiran adalah perasaan sinis. Bagaimana mungkin filsafat sejarah yang cenderung mencari kebenaran secara objektif mencoba untuk dipahami melalui perspektif agama yang cenderung subjektif?. Bukankah ilmu dan agama cenderung memiliki prosedur yang berbeda antara pembuktian dengan kepercayaan? Jika ilmu cenderung dibuktikan dulu baru dipercayai kebenarannya vis-a-vis agama yang cenderung percaya dulu, masalah pembuktian atas kebenarannya adalah urusan belakangan!. Dan bagaimana mungkin agama hendak turut campur dalam urusan sejarah?

Perasaan buruk sangka inilah yang menghiasi hati penulis ketika pertama kali berjumpa dengan buku karya Mastury ini. Perjumpaan pertama penulis dengan buku ini terjadi pada 14 Februari 2003, yang konon kata orang merupakan hari kasih sayang—valentine day. Namun yang muncul adalah benih-benih sinis dan kebencian. Bagaimanapun didorong oleh rasa penasaran dan keyakinan “uit de slechte boeken is altijd noch wat te leren!”—bahwa dari buku terjelek sekalipun pasti masih ada yang untuk dipelajari—maka terbacalah semua isi buku ini. Apa yang terjadi? Dari benci tumbuh cinta! Dari buku inilah, penulis tersadarkan bahwa agama dan sejarah memanglah tidak bisa dipisahkan, meski diusahakan untuk dipisahkan. Kalaupun dipisahkan keduanya pada hakekatnya tak terpisah.

Dengan latar belakang yang semacam inilah, maka pada kesempatan ini penulis berusaha untuk memaparkan isi dan analisis terhadap buku karya Mastury ini. Mungkin pada sebagian pembaca buku ini akan terasa absurd dan menolak mentah-mentah apa yang disampaikan oleh Mastury. Namun bagi sebagian orang, buku ini akan menyadarkan pembaca bahwa ada benarnya pula apa yang telah ditulis oleh Mastury.

B. Pendekatan Agama dalam Filsafat Sejarah

Satu pernyataan yang paling berkesan terus dalam jiwa penulis ketika membaca buku ini adalah kutipan Mastury dari Martin Buber—seorang ahli Filsafat Yahudi—yang berkata “All religion is history”. Inilah inti sari dari keseluruhan isi buku ini! Hanya ini, tidak lebih! Selebihnya hanyalah pengembangan dari yang tidak lebih!

Landasan lain, adalah keyakinan bahwa sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan, filsafat dianggap sebagai induk ilmu (mater scientiarum), sedangkan agama merupakan sumber filsafat. Namun dalam perkembangannya semua menjadi terpisah, tercerai, dan berdiri sendiri seolah tak mau menyapa!

Filsafat sejarah merupakan ilmu yang mempelajari serta menyelidiki teori yang berkenaan dengan perkembangan manusia sebagai makhluk sosial, dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Metafisika Sejarah (filsafat sejarah spekulatif) yang mempelajari latar belakang sejarah, dasar-dasar hukumnya, arti dan motivasi dalam sejarah. Kedua, Logika Sejarah (filsafat sejarah kritis) yang disebut juga metodologi sejarah yang menekankan pada studi tentang kebenaran dari fakta dan data sejarah, mencitakan keobjektifan sejarah, dan mengadakan interpretasi dan eksplanasi terhadap peristiwa sejarah.

Filsafat sejarah yang menjadi titik perhatian dalam buku karya Mastury ini adalah pada filsafat sejarah spekulatif, yang menekankan kajian dari segi mempelajari makna dan tujuan dari proses sejarah. Pertanyaan tentang makna sejarah adalah persoalan hidup yang selalu dihadapi oleh manusia; darimana asalnya dan hendak kemana tujuannya dari sejarah hidup manusia ini. Hal ini menyangkut proses sejarah. Dicarinya hubungan antara fakta untuk sampai pada asal dan tujuan; kekuatan apa yang mendorong sejarah ke arah tujuannya. Bagaimanakah akhirnya dari proses sejarah itu?

Filsuf sejarah telah menghasilkan berbagai pemikiran tentang filsafat sejarah. Filsafat sejarah dilihat dari segi strukturnya ada tiga pola. Pertama, pemikiran tentang sejarah yang menggambarkan proses perkembangan sejarah secara linear (garis lurus). Perkembangan sejarah yang menuju ke titik akhir yang konkret (pandangan yang disebut eschaton), bahwa manusia dan dunia/alam berakhir pada hari kiamat/kematian. Kedua, pemikiran yang melihat sejarah sebagai suatu proses perkembangan yang bersifat mekanis dan materialis, seperti yang terlihat dalam aliran materialisme, historis materialisme dari Karl Marx (eschatologis sosial). Ketiga, pemikiran yang melihat sejarah sebagai suatu proses perkemabangan hidup yang bersifat biologis (organisme biologis) atau yang bersifat cyclis morphologis seperti peristiwa biotis yang terdapat sehari-hari.

Telah nyata bahwa hubungan antara filsafat dengan ilmu sejarah terjalin erat, begitu pula hubungan antara agama dan sejarah (dengan sendirinya juga dengan ilmu sejarah) ternyata ada hubungan yang erat, karena semua agama pasti terkait sejarah. Karena demikian eratnya hingga hampir tidak dapat dipisahkan. Lantas bagaimanakah filsafat sejarah bila dilihat dari pendekatan agama?

1. Filsafat Sejarah dalam pandangan Agama Hindu dan Budha

Manusia bagi agama Hindu merupakan gambaran yang kompleks, inti manusia terdapat pada pandangan terhadap atman-atman, yakni jiwa yang diangapnya kekal. Orang Hindu percaya bahwa jiwa itu kekal, sempurna tak akan mati, tak akan menemui ajal. Apabila orang mati karena sakit atau sebab lainnya, jiwa itu tetap abadi. Jiwa itu hanya berpindah dari satu badan ke badan yang lain, sebagaimana orang berganti pakaian. Menurut kitab Bhagavat Gita “Ia (jiwa) tidak pernah dilahirkan, juga tidak pernah akan mati, tidak pernah diciptakan, juga akan tetap ada. Ia tidak dilahirkan dan besifat abadi. Ia tidak terbunuh apabila badan itu dibunuh”.

Menurut pengamatan Prof.Dr.C.J. Bleeker “…Atman sama dengan Brahman. Pada ujudnya manusia sama dengan dunia sendiri. Kebenaran ini disimpulkan secara pokok dalam perumpamaan yang termasyur: tat tvam asi”. Sedangkan dunia sendiri dikatakan maya/illusi.

Kematian menurut agama Hindu adalah berhentinya kerja jiwa yang ada dalam badan manusia, atman/jiwa yang telah pisah itu tetap bekerja diluar tubuh menurut rencana berdasar Karmaphala (hukum karma) dan tak ada seseorang terhindar dari karmaphala itu. Dalam kitab Mahabarata dinyatakan bahwa tiada sesuatupun dapat membebaskan diri dari karmaphala ini. Dewa-dewa pun mesti mengalami akibat-akibat dari perbuatannya. Perbuatan yang dilakukan manusia, dimana perbuatan itu dinilai merugikan orang lain maka pada saat itu juga ia telah terikat oleh karma. Karma atau perbuatan menentukan perpindahan atau kelahiran baru dari pada jiwa.

Kehidupan manusia di dunia berlangsung secara cyclis (lingkaran) artinya lingkaran yang hampir tak ada ujung dan pangkalnya. Proses cyclis itu ialah seperti pengeluaran (kelahiran) dan pralaya (dissolution-penghancuran) ini berlaku kepada semua yang ada dan terjadi sewaktu-waktu. Hidup manusia di dunia ini hampir tidak punya tujuan, tapi merupakan ulangan perkembangan dan kematian yang terus menerus. Dunia ini didiami oleh makhluk yang bermacam-macam termasuk dewa. Manusia hidup di dunia bukan hanya satu kehidupan tetapi melalui banyak eksistensi, karena kehidupannya dikuasai oleh karmaphala. Setelah badannya mati, jiwanya (atman) akan terlahir kembali dalam bentuk baru. Yang baik akan terlahir dengan lebih tinggi kualitasnya, sedang yang jelek akan terlahir dalam kualitas yang lebih buruk. Di sini tampak bahwa kehidupan manusia akan mempunyai arti apabila dalam kehidupannya itu selalu dilatar belakangi dengan moral dan kehidupan spirituil serta keyakinan yang berdasar mythologis.

Pandangan agama Hindu tentang waktu yang merupakan faktor penting dalam sejarah menyatakan waktu itu berlaku secara siklis yang seolah-olah tidak ada awal dan tidak berakhir, bahkan merupakan siklis yang besar yang didalamnya terdapat berbagai siklis individual dalam eksistensi yang beragam.

Masa-masa kehidupan manusia di dunia ini bukan merupakan sesuatu yang harus disyukuri, tetapi merupakan samsarathe passage of the soul in the cycle of births and deaths. Untuk supaya terhindar dari dari tekanan siklis ini dianggap tidak berarti; agar supaya dapat moksa, maka diadakan pelajaran batin dan fisik yang merupakan jalan pemusatan (raja—yoga), Jnana-Yoga adalah jalan melalui latihan fisik.

Adapun proses perjalanan sejarah menurut agama Budha ada kesamaan prinsip yaitu bahwa seluruh kejadian dalam sejarah itu merupakan ulangan belaka yang bersifat siklis. Sebab-sebab adanya ulangan itu adalah karena karma, perbuatan yang baik akan menghasilkan kebaikan dan sebaliknya. Orang dapat lepas dari lingkaran kelahiran yang kemudian ke Nirwana. Lingkaran lahir adalah samsara. Untuk dapat mencapai nirvana dan atau moksa, maka manusia harus melaksanakan ajaran yang dibawa oleh sang Budha Gautama.

Ajaran yang yang dibawa antara lain mengenai aryasatyani, atau empat kebenaran utama, yakni:

a. Hidup adalah menderita (samsara).

b. Samsara ada karena ada kama/trsna.

c. Samsara dapat dihentikan dengan jalan menindas kama.

d. Kama dapat ditindas melalui astavidha (delapan jalan kebenaran): yang meliputi kemauan yang baik, maksud yang baik, ucapan yang baik, perbuatan yang baik, cara hidup yang baik, daya upaya yang baik, merenung yang baik, dan tafakur yang baik.

2. Filsafat Sejarah dalam pandangan Agama Kristen dan Islam

Dalam filsafat sejarah terdapat aliran yang dinamakan “redemptive philosophical viewpoint” terutama berakar pada keyakinan dan dogma agama Kristen, yang menafsirkan segala kejadian di dalam sejarah itu semata-mata sebagai kehendak Tuhan, dimana manusia dalam panggung sejarah itu menjalankan sekedar peranan penebus dosa belaka (“to redeem” artinya menebus), menuju ke arah peningkatan nilai-nilai kemanusian.

Hakekat manusia dalam agama Kristen seperti tercermin dalam kitab Injil, Kejadian I:27 “Maka Allah menjadikan manusia itu menurut gambar-Nya: yaitu menurut gambar Allah dijadikan-Nya dia; laki-laki dan perempuan dijadikan-Nya mereka”. Dari sini dapat disimpulkan bahwa manusia itu selain terbuka untuk dunianya juga terbuka untuk Tuhannya. Manusia adalah manusia dalam kemanusiaannya, tetapi manusia tidak hanya “manusia dalam dunia” juga manusia dalam gambaran Tuhan. Manusia sebagai manusia mencintai sesama manusia, manusia sebagai gambar Tuhan mencintai Tuhan.

Aspek dari “segambar” dengan Tuhan itu juga dapat berarti bahwa manusia itu memiliki/menerima kekuasaan di dunia ini sebagai gambaran dari kekusaaan Tuhan. Manusia dijadikan mempunyai kemampuan menaklukan dan menguasai dunia. Hal ini tercermin dalam kitab Kejadian I:28…..dan penuhilah olehmu akan bumi itu dan taklukanlah dia…..

Pandangan Kristen tentang Tuhan adalah Tuhan itu Esa yang dapat dibedakan dalam tiga cara berbeda: sebagai Bapak, sebagai Putera, dan Roh Suci yang berada dalam satu ikatan kasih dari kekal ke kekal.

Manusia diciptakan segambar tetapi telah jatuh ke dalam dosa sejak Nabi Adam; menurut Agama Kristen dosa itu dilakukan dalam sorga yang abadi, akibatnya hasil dosa itu abadi (dosa waris). Manusia terseret kedalam pemberontakan terhadap Tuhan. Pemberontakan merupakan sumber segala kejahatan manusia, dosa itu demikian radikalnya.

Menurut Kristen untuk keselamatan manusia dari keadaan itu meningkatkan nilai-nilai moralnya, maka Tuhan mengutus Jesus Kristus ke dunia ini. Putera Tuhan menjadi manusia. Ia menebus dosa manusia dan mendirikan kerajaan Tuhan di dunia ini. Di akhir zaman Kristen akan menyempurnakan Kerajaan itu. Dengan demikian Kristus itu Vere Deos dan Vere Humos. Karena dosa itu abadi hanya dapat ditebus dengan yang semisal abadi. Proses sejarah menurut agama Kristen bersifat linear. Makna sejarah terletak pada penebusan dosa. Kristus lebih berat diartikan pada Penebus Dosa dari pada sebagai Nabi yang membawa ajaran, ajaran yang didalamnya terdapat nilai-nilai berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu dalam dunia Kristen, Theologi Kristen lebih berkembang dibanding dengan aspek lain-lainnya.

Hakekat manusia menurut pandangan Islam dapat dijelaskan antara lain seperti yang tersebut dalam Al-Quran surat al-Baqarah:30 yang menyatakan sebagai berikut

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi, orang yang membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dari sini tampak terdapat gambaran jelas dua status manusia. Pertama, manusia dijadikanTuhan—manusia ciptaan Tuhan—manusia hamba Tuhan. Kedua, manusia sebagai khalifah di dunia—manusia bertanggung jawab—manusia pendukung ilmu dan kekuasaan. Dalam ayat itu pula dialog antara malaikat dengan Allah terdapat beberapa pengertian antara lain:

a. Dugaan para malaikat bahwa manusia yang akan diciptakan itu akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi ini, karena yang menduga malaikat, maka hasil dugaannya tidak mutlak benarnya juga salahnya.

b. Malaikat yang termasuk makhluk Allah memiliki intensitas ketaatan dan kejujuran yang tinggi, sehingga apa saja yang diperintahkan Allah tidak ada yang tertinggal dan tidak dilaksanakan.

c. Manusia yang tidak menyadari statusnya secara utuh, manusia hanya sebagai pendukung ilmu dan kekuasaan serta atheist akan berakibat kerusakan dan penumpahan darah.

d. Allah Maha Mengetahui, karena lebih mengetahui sekedar apa yang diduga oleh para malaikat.

e. Manusia yang menyadari betul-betul statusnya kemudia mereka beramal saleh, berperanan sesuai dengan kedudukannya, maka ini berarti telah berfungsi.

Dari status manusia sebagai ciptaan Allah mengandung makna yang dalam, kehidupannya selalu ditandai dengan hubungan antara manusia sebagai hamba Allah, hubungan yang berdasarkan keyakinan bahwa Allah itu Esa. Dalam proses perjalanan sebagai seorang muslim ditandai dengan kesaksian dua kalimat syahadat “Tiada Tuhan melainkan Allah—dan Muhammad adalah utusan Allah”. Hal ini mengandung pengertian bahwa proses perjalanan hidupnya selalu dijiwai ke Tauhidan (meng-Esa-kan Tuhan). Karena dasar keyakinan ke Tahuhidan ini, terpencar dari dasar ini keyakinan penuh bahwa hanya kepada Allah-lah kita menyembah dan kita memohon pertolongan dan kepada Allah kita memohon petunjuk. Allah menurut agama Islam berlawanan dengan konsep dari Deisme. Oleh karena itu terdapat tendensi yang kuat dari pandangan Islam bahwa Allah itu tetap apa yang disebut dengan “cretario continua”. Allah tetap bersama dengan hamba-Nya yang percaya. Allah itu immanent in power, bukan immanent in being atau in essence.

Status manusia yang kedua sebagai khalifah: oleh karena itu segala perbuatan manusia di dunia ini pantas dimintai pertanggungan jawab, mau atau tidak mau—per se—dalam proses perjalanan hidup manusia amal perbuatannya baik atau buruk akan dimintai pertanggungan jawab kelak diakhir zaman. Semua hasil-hasil perbuatannya akan dipertunjukkan, bukan hanya sekedar dipertunjukkan saja tapi lebih berat amal perbuatannya.

Status sebagai seorang khalifah didunia ini menuntut keharusan untuk mempelajari agamanya dan berfikir, merenungkan serta memahami dan mengenal gejala-gejala di dunia ini, tegasnya mengembangkan ilmu, tuntutan ini bukan hanya berlaku pada usia belajar, tetapi sepanjang usianya.

Karena manusia dapat bertanggung jawab dan mempunyai daya kemampuan berfikir yang baik, maka dunia dan isinya ini disediakan untuk kepentingan manusia, maka ciri-ciri seorang muslim ialah: iman (taqwa)—ilmu—amal. Ini bukan berarti bahwa manusia dipaksa untuk beramal yang ia tidak mampu. Tetapi merupakan suatu tuntutan agar manusia berkembang ke arah yang lebih baik untuk hari esok—untuk generasi yang akan datang. Jadi proses sejarah dalam Islam adalah berjalan linear menuju kesempurnaan yang diridhai oleh Allah dimana Islam betul-betul menjadi rahmat seluruh semesta alam.

C. Kesimpulan

Pada hakekatnya antara sejarah dan agama memanglah tidak bisa dipisahkan. Dalam ajaran-ajaran agama seringkali disertai dengan contoh dan gambaran kehidupan di masa lalu. Agama Hindu dalam kitab Mahabarata memberikan sejarah kepahlawanan para perwira yang berisi pesan-pesan moral, semisal yang terdapat dalam Bhagavat Gita. Kitab Ramayana juga memberikan pesan yang tidak jauh berbeda.

Dalam agama Budha diberikan kisah-kisah sejarah perjalanan hidup sang Budha dalam kitab Budhacarita, Lalitawistara, maupun Jatakamala. Semua menceritakan masa lalu Budha yang didalamnya diselipi ajaran agama.

Dalam agama Kristen dan Islam, jelas dalam kitab Injil dan Quran juga berisi tentang kisah-kisah sejarah. Mulai kisah yang bisa manjadi panutan hingga kisah yang bisa menjadi contoh keburukan.

Perjalanan sejarah dalam agama Hindu dan Budha menganut konsep siklis, sedangkan Kristen dan Islam menganut gerak sejarah linear.


[1] Buku yang dianalisis dalam tulisan ini adalah karya Mastury, Pendekatan Agama Dalam Filsafat Sejarah (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1982)

~ oleh Mr. Aditya pada 1 Desember 2008.

Satu Tanggapan to “ANALISIS BUKU LAMA: Pendekatan Agama dalam Filsafat Sejarah”

  1. Sejarah menjelaskan bagaimana agama-agama itu lahir
    Siapa yang menciptakannya, siapa yang menyebarkan bla..bla..dst.
    Filsafat akan memberikan sebuah nilai kebenaran akan sejarah
    Jika kita berfilsafat, Dengan semua alat, data, ilmu dan akal pikiran, kita bisa membenarkan atau menganggap salah sebuah sejarah
    Agama adalah karya spiritual manusia yang diperdagangkan
    Ada yang sukses, ada yang tidak. Ada yang menduduki 5 besar dunia, ada yang hidup matipun segan
    Dilihat dari sejarahnya, ada agama yang sangat tua dan masih ada
    ada yang masih muda dan sukses, ada yang sudah punah dan tidak laku.
    Dengan berfilsafat sejarah, kita akan mendapatkan pencerahan :
    Bahwa agama yang diciptakan manusia, memenuhi rasa ketidakpuasan manusia akan hidup yang hanya sebentar
    Bahwa akan ada kehidupan lain yang menunggu, ada sesuatu yang mengawasi, ada sesuatu yang akan memberikan Pahala dan keselamatan.
    Agama adalah alat legitimasi bagi gereja dan kerajaan, alat motivasi bagi sultan untuk berperang memperluas daerah kekuasaan

    Kita tidak tahu dimana kita akan dilahirkan, oleh siapa, bangsa mana, agama mana, cacat atau tidak, laki-laki atau perempuan dsb.
    Semuanya random, jadi jangan pernah BERPERANG karena agama, suku atau apapun…
    Sebab Sejarah telah membuktikan bahwa itu adalah hal yang sangat sia-sia… bahkan sampai sekarang

    Mandala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: