Sastra Orba 1

Silahkan cari dan temukan zeitgeist yang menunjukkan bahwa cerpen ini ditulis pada masa orba!

HARGA SEBUAH KEBEBASAN

Oleh:

M. Widiadi

Diambilnya sejumput dupa. Harum mewangi menusuk hidung setelah dupa terbakar bara. Mulutnya yang keriput, komat-kamit. Mantera andalan dirapal. Mata terpejam rapat. Sementara air putih di baskom tenang saja. Kembang telon terapung bisu.

Anam memperhatikan semua tingkah laku dukun tua. Wajahnya tegang penuh asa. Anak kecil disampingnya acuh saja. Sudah biasa.

“Hah…..!” bentak dukun tua. Matanya terbuka lebar memandang baskom

“Hai…..manusia celaka, muncullah…..muncullah wajahmu di permukaan air bening. Sebening kaca. Bwe…..!” Dukun tua menyemprotkan ludah ke dalam baskom.

“Itu dia! Saya melihatnya, pak!” Si anak kecil berkata kepada Anam.

“Mana?” Anam melotot ke dalam baskom. Yang ada disana hanya air putih beriak kecil. Kembang telon terangguk-angguk. Hanya itu.

“Mana…. Aku tidak melihatnya! Teriaknya penasaran.

“Tenanglah anak muda. Air itu hanya bisa menampakkan bayangan kepada anak kecil. Anak kecil adalah cermin bening, ibarat dunia tanpa noda dan dosa” Dukun tua menerangkan penuh wibawa.

“Lalu……bagaimana saya bisa tahu?”

“Anak itu akan mengatakannya”

“Katakan. Cepat katakanlah nak!” Anam mendesak tak sabar. Rupanya dia ingin segera tahu siapa pencuri sapinya.

“Seorang laku-laki……” anak itu berhenti sejenak.

“Ya……lalu bagaimana ciri-cirinya?”

“Sabarlah nak, kalau didesak terus belum habis dia berkata bayangan itu akan lenyap” Dukun tua kembali menengahi.

“Mukanya lonjong……alisnya tebal…..rambut lurus pakai kopyah….ada sedikit kumis….bajunya hitam berbadan kurus……eh……dia membawa cambuk…..dan anunya….. wah gambarnya hilang!”

“Bangsat…..bajingan…..tak salah lagi itu adalah si bangsat Sumo kerempeng!” Sumpah serapah meluncur dari mulut Anam.

Sumo duduk di depan rumah bambunya. Setelah memberi minum dan mengganti rumput di kandang. Dihisapnya rokok keretek, nikmat walau tinggal separoh.

Pikirannya melayang, memikirkan keaadaan ekonomi keluarganya. Timbul dalam pikirannya jika pepatah nenek moyang yang selama ini dipegangnya. Kosong melompong. Bagai slogan kosong, tak bermakna.

“Banyak anak banyak rejeki,” begitu ujar neneknya setiap saat ketika mengasuhnya.

Tapi apa lacur. Begitu dia kawin. Dalam jangka sepuluh tahun anaknya sembilan. Maklum non stop!

Yang Sumo rasakan setiap anaknya bertambah. Keluarganya semakin kembang kempis. Tanpa tanda-tanda rejekinya akan bertambah. Kenyataan dia harus ngebon ke sana ke mari untuk memenuhi tuntutan keluarga.

Seandainya sedari dulu dia sadar akan peranan KB. Nasibnya tak akan seperti ini. Ketika penyuluh KB mengadakan ceramah di Balai Desa pertama kali dulu. Sumolah yang memberi suara sumbang. Menentang!

Kini Sumo menghidupi keluarganya dengan hasil cucuran keringat. Setiap hari pasaran dia harus jalan kaki 10 sampai 19 kilometer. Menuntun sapi-sapi titipan untuk dijualnya di pasar hewan Ranggeh atau Wonorejo.

Isteri dan anaknya turut bekerja pula. Entah di sawah, pembantu rumah tangga, menumbuk padi dan pekerjaan lain yang bisa dikerjakannya. Sampai anaknya yang enam tahun sering juga kerja mengantar makanan ke sawah. Upah sebungkus nasi amat berarti bagi anak-anaknya yang kecil.

Gedung SD Inpres dan TK di sebelah rumahnya. Belum pernah diinjak anaknya. Bagi mereka sekolah merupakan hal mewah. Hidup rasanya lebih berarti diisi dengan kerja. Uang bisa didapat dengan andalkan tenaga bukan encernya otak.

Sebuah suara membangunkan lamunan Sumo, “Mo….Sumo” Anam memasuki halaman rumahnya bersama Joyo Jagabya dan seorang polisi.

“O, pak Joyo…..mari-mari, pak. Silahkan pak Anam dan ..eh…pak Polisi mari masuk, pak!”

“Tidak usah, Mo. Kami hanya ada keperluan sebentar saja”.

“Silahkan, pak. Saya bersedia membantu bila dibutuhkan”.

“Kapan pak Sumo terakhir kali ke pasar?” Polisi sudah mulai menginterogasi.

“Seperti biasa pak. Hari Jumat saat pasaran Ranggeh”. Sumo yang tidak menaruh curiga menjawab. Mata Anam bersinar marah.

“Tepat, pak! Inilah orangnya!” kata Anam.

“Baiklah sebaiknya pak Sumo ikut saya ke kantor saja. Di sana kita beromong-omong santai dan bebas”.

Pintar juga polisi muda berdiplomasi. Tentu saja dia tidak bisa melakukan interogasinya dengan disaksikan orang lain. Sudah biasa Serpice macam begitu banyak berpraktek. Omong santai yang dikatakannya tak lain omongan keras. Memaksa pengakuan.

Sumo pamit kepada isterinya. Si bungsu yang sedang demam lagi menetek mengisap putting yang kering. Sumo meraba dahi si kecil masih panas.

Dengan langkah berat, ditinggalkannya keluarga dan sapi-sapinya.

Seminggu Sumo meringkuk di kamar pengap. Orang kampung banyak mempergunjingkan nasibnya. Benarkah dia mencuri sapi milik Anam? Tetangganya yang kaya raya.

Di hari kelima dia menerima kabar duka. Si bungsu tak tertolong lagi. Anak kecil tanpa dosa berangkat ke alam baka tanpa diiring bapaknya. Sumo terenyuh. Ia tak kuasa pergi ke alam bebas. Semoga si bungsu berjalan sendiri dengan damai.

Tibalah hari kebebasan. Hari ketujuh. Seorang berkaos putih bersarung hitam, menggantikannya. Tubuhnya gempal berotot, matanya bersinar tajam. Jahat. Janggut lebat menutup dagu yang bundar. Rambut berombak panjang.

“Pak Sumo…..boleh keluar!”

Sumo pun keluar tanpa tanya ini itu. Begitu juga saat dia dinyatakan bebas. Hatinya tawar. Tak sebersit jua kegembiraan di wajahnya. Hanya dadanya tak lagi sesak. Bebas. Betapa segar udara alam kebebasan.

Tiba di kampung kabar angin mengatakan bahwa si kaos putih itulah pencuri sebenarnya. Tapi mau apalagi dia? Menuntut? Atau melabarak Anam kaya raya itu? Tidak Tak satu pun yang dia lakukan. Ia lebih baik menerima nasibnya.

Sore hari Anam datang ke rumahnya, “Lho…..pak Sumo sudah datang? Apa kabar, pak?” Ia menyapa ramah dibuat-buat.

Sumo memaki dalam hati, “Bangsat! enak saja menanyakan kabar”, hanya dia berkata, “Baik, pak. Mari silahkan.”

Anam duduk di balai bambu. Diam, sejenak menikmati cerutu.

“Kedatangan saya kemari sekedar menyerahkan ini, pak Sumo”. Kata anam sambil meletakkan lima lembaran Diponegoro.

“Anggaplah itu tanda kekeliruan saya tempo hari. Harapan saya diantara kita tidak ada persoalan lagi. Maklum yang salah adalah dukun tua itu”. Anam menerangkan duduk perkaranya. Sumo tahu jika Anam hanya mencari kambing hitam.

Ketika tetangganya menjenguk, banyak yang menyarankan agar dia menuntut Anam. Sumo menjawab, “tak berguna. Seorang melarat seperti aku tak akan menang melawan dia. Kalian tahu kabarnya di kota besar keadilan dapat dibeli dengan uang. Sedang bagiku perkara ini sudah habis. Biarlah, Tuhan jua yang akan mengadili makhluk-Nya kelak dengan seadil-adilnya.”

Sumo pasrah. Meskipun kepasrahannya amat mahal. Sama halnya dengan menelan segelas empedu. Pahit. Sangat pahit sekali.

Di kubur anaknya, Sumo mengubur dendamnya. Bila dia ingat si bungsu serasa dendam itu diungkit lagi. Dikirimnya doa tulus seorang bapak yang kehilangan, “Anakku, andai bapakmu tidak mengalami musibah itu. Kau pasti masih berkumpul dengan saudaramu. Maafkan bapakmu, nak. Bapakmu tak kuasa mendobrak ketidak-adilan dunia. Tenanglah kau di alam sana. Bapak percaya kuburmu bercahaya terang. Cahaya kasih Tuhan”.

Mirip penyesalan doa itu. Memang Sumo menyesal terhadap tindakan manusia yang tak menghargai kebebasan sesamanya. Juga polah manusia dalam menghadapi kesulitan. Lari ke dukun. Padahal Yang Kuasa menggenggam nasib umat. Termasuk nasib Sumo, bukan?

~ oleh Mr. Aditya pada 1 Desember 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: