Sastra Orba 2

Silahkan cari dan temukan zeitgeist yang menunjukkan cerpen ini ditulis pada masa Orba!

TEMPE

Oleh

M Widiadi

Makan angin sore hari begini memang menyenangkan. Pikiran yang lalah karena kerja bisa terhibur. Segar. Esok dapat kerja lebih giat. Ya, walau itu hanya sekedar jalan-jalan. Atau pun duduk-duduk di serambi sambil ngobrol bersama keluarga.

Seperti yang kulakukan pada sore hari ini. Hati ini amat bahagia. Betapa tidak, menyaksikan anak laki-lakiku disuapi ibunya. Tubuhnya gemuk, pipinya montok. Melonjak-lonjak meraih piring yang dipegang ibunya. Sambil merengek, “Maem……… maem,,,,,” Ibunya repot menahannya, “Nah…..Agung diam, awas kalau nakal tidak ibu suapi…..”

Rupanya mengerti juga si kecil. Lalu dia duduk dengan tenang di pangkuan ibunya. Secara lahap disambutnya suapan demi suapan. Tiba-tiba meraih piring, dan seiris tempe digenggamnya. Tempe.

Memandang tempe di tangan Agung. Aku ingat kembali riwayat hidupku. Bermula dari makanan itulah, kemudian aku bisa hidup bersama ibunya Agung. Dan menjadi juragan tempe yang terkenal sekecamatan.

Sejak lulus SMP aku bercita-cita menjadi pegawai negeri. Untuk itu aku ke kota. Bersekolah di SMEA yang kuanggap melancarkan cita-cita. Kost di kota dan jarang pulang ke desa.

Aku berjuang keras agar studiku sukses. Pulang kampung jika libur semester saja.

Pada tahun ketiga, semester lima sudah kujalani dengan tekun. Saat itu raport sudah kuterima. Usai sekolah aku pulang.

“Hore kak Wid datang…….” Teriak adik-adikku. Mereka berebut tas yang kubawa.

“Mana oleh-olehnya kak?”

“Sabar……..Sabarlah nanti semua dapat bagian. Dita buku bacaan, Andri kotak pensil, dan Alit karena masih nol besar dapat sekotak kue. O ya…serta masing-masing sebatang permen cokelat. Bagaimana kalian senang?”

“Hore…..senang! Kak Wid baik……!.” Adik-adikku yang lucu, mereka bersama-sama membawa tasku ke dalam, tak lagi berebut seperti tadi.

Saat makan siang. Mereka menunggu aku membagikan oleh-oleh. Nikmat sekali makan di rumah sendiri. Walau lauk pauknya tak mewah, tapi bergizi. Kugigit sepotong tempe. He….begini gurih. Kuamati tempe itu. Rupanya tempe asli. Murni kedelai.

Biasanya jarang di kampungku ada tempe murni. Orang kampung bila membuat tempe pasti dicampur jagung dan pepaya muda diiris kecil-kecil.

“Bu….. Ibu, beli dimana tempe ini?” Tanyaku.

“Kenapa? Enak ya? Habiskan saja, untuk lauk malam nanti bisa dibeli lagi.” Ibu tidak menjawab melainkan menyuruhku menyikat habis tempe di piring.

“Tanggung deh…… tapi terangkan beli dimana, bu?”

Adikku Dita yang duduk di bangku SMP kelas I menjawab, “Pak Mul, kak. Tetangga baru di pertigaan sana. Oya….penjualnya manis kak, cocok deh….. kalau berpasangan dengan kakak.”

“Hust……!” Bentak Ibu.

Aku tertawa sampai tersedak. Kuhabiskan sisa nasi di piring. Sambil membasuh tangan aku bertanya, “Memangnya Dita kenal dia?”

“Tentu saja kak. Tiap hari kami ke sekolah bersama.”

“Lho……dia sekolah?”

“Ya…….di SMP, sekarang masih kelas tiga.”

“Namanya siapa Dit?”

“Ah……..kak Wid. Kenalan sendiri kan lebih seru, tunggu saja besok pagi kak!”

Sebelum subuh aku sudah bangun. Kebiasaanku di kota sehabis mandi dan sholat aku belajar. Tapi hari pertama di desa kugunakan menghirup udara segar pedesaan. Aku berjalan-jalan ke pertigaan. Aku penasaran terhadap ucapan Dita kemarin. Seperti apa gadis penjual tempe itu. Apakah seperti Susi yang secara agresif menarik simpatiku?

Rumah pak Mulyo sederhana saja. Tapi bersih. Heran aku, pendapatku akulah yang bangun paling pagi. Ternyata halaman rumah pak Mul sudah resik dan asri. Rupanya baru saja ada tangan trampil membersihkannya. Gadis itukah?

Ketika aku menikmati the manis buatan Ibu. Di luar kudengar teriakan merdu, “Bi……tempe, bi!” Cepat kuletakkan galas. Aku bergegas keluar. Terngangalah aku melihat gadis yang berdiri di hadapanku. Gadis itu tertunduk, kaget melihat aku keluar.

Rambut hitam panjang sebahu. Alisnya indah bak rembulan tanggal satu. Kedua pipinya ranum bagai sepasang apel. Tubuhnya semampai hampir ceking. Tak kukira gadis ini demikian manisnya.

“Hai……mbak Muji, koq diam saja biasanya panggil-panggil.” Suara Dita tiba-tiba meledak di belakangku, “Oya mbak….Ini kakakku yang baru tiba dari kota……”

“Stop……Dita ini bagaimana sih. Kemarin aku kamu suruh kenalan sendiri. Sekarang koq kamu akan memperkenalkannya.” Aku memprotes tindakan adikku.

“Habis kalian pada bengong gitu sih. Baiklah…..kenalan sendiri tuh. Cepat kak, mbak Muji masih banyak tugas lho!”

Kudekati gadis itu, kuulurkan tangan dia menyambut ragu-ragu. Kusebut namaku, “Widi…kakak Dita nomor dua.”

“Mujiasih……..” jawabnya lirih.

“Asih, sungguh nama yang indah.”

Tapi dia tidak menanggapi komentarku.

“Beli berapa, Dit?”

“Empat mbak.”

“Tidak tambah satu Dit, kalau aku sudah tahu penjualnya manis sekali. Pasti tempenya semakin gurih rasanya.” Godaku.

Hari-hari liburku makin ceria. Setiap sore aku bertandang ke rumahnya. Sambutannya ramah tamah tak malu-malu lagi.

Kejadian pagi hari itu berkesan bagiku. Sejak itu aku punya kebiasaan baru. Aku kembali ke desa setiap sabtu siang. Tidak lagi enam bulan sekali.

Aku lulus SMEA, Asih pun lulus SMP. Tapi sayang Asih lebih memilih membantu orang tua daripada sekolah. Adik-adiknya masih menunggu kesempatan lebih baik darinya. Kesempatan beaya.

Setahun aku menanti kabar lamaranku. Tapi satu pun dari berpuluh lamaran yang kubuat mendapat jawaban. Nasibku terkatung-katung. Daripada nganggur aku membantu bapak di sawah.

Lucunya lamaran orang tuaku kepada pak Mul malah disambut dengan gembira. Begitulah. Aku kawin muda. Masih dua puluh dua. Sedang Asih delapan belas. Aku tak mampu menolak tradisi orang kampung. Kawin muda. Walau aku pernah hidup di kota. Tragis bukan?

Keahlian pak MUl mertuaku diwariskan kepada Asih. Ditopang ilmu Management Perusahaan dan Ilmu Ekonomi lainnya, dari SMEA dahulu. Usaha kami maju pesat. Kini, Asih isteriku yang manis tidak perlu keliling kampung menawarkan dagangannya.

Langgananku banyak, mereka gilir berganti datang ke rumah. Aku membuat pula keripik tempe yang gurih dan renyah. Sambal goreng tempe yang awet lama. Soal rasa, goyang lidah! Semuanya laris tak ada barang tersisa sedikit jua.

Harapanku adik-adik dan anak-anak kami kelak tidak seperti aku dan Asih. Aku ingin mereka bernasib lebih baik lagi. Tidak kawin muda, dan punya kedudukan yang nyaman.

“Mas ambilkan minum……!”

“Eh…….apa ‘yang?”

“Hayo melamun! Ada simpanan ya, mas?” gurau Asih manja.

“Memang, aku punya simpanan kau mau apa……!” bentakku garang.

“Benar, mas? Kalau begitu pulangkan saja aku!”

“Lihat!” kataku sambil menunjukkan buku Tabanas yang sejak tadi kupegang, “simpananku ada di Bank.” Isteriku tertawa tergelak-gelak karena gurauanku.

“Oya, Pemda menerima pegawai baru, mas tidak melamar?”

“Tidak aku sudah puas hidup seperti ini.”

Aku puas. Siapa pula yang akan jadi wiraswasta bila semua pemuda menjadi pegawai negeri. Aku hendak menunjukkan kepada generasi muda. Bahwa dengan tempe kita bisa hidup lebih baik.

Sore sudah lenyap. Adzan terdengar merdu, menyentuh kalbu. Aku segera ambil wudlu. Untuk kesekian kalinya, kusyukuri nikmat Allah terhadapku dan keluargaku.

~ oleh Mr. Aditya pada 1 Desember 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: