Sastra Orba 3

Silahkan cari dan temukan zeitgeist yang menunjukkan cerpen ini ditulis pada masa Orba!

CERPEN SEBELUM RAPAT

Oleh:

M. Widiadi

Balai desa tampak temaram. Meskipun sebuah petromaks telah kugantungkan di tengah ruangan sjak usai maghrib tadi. Masih sepi.

Memang sudah menjadi kebiasaanku untuk datang paling awal setiap ada pertemuan pengurus dan anggota Karang Taruna. Aku harus menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari susunan acara rapat sampai tempat duduk undangan. Aku tidak ingin bila setiap pertemuan mengalami kegagalan. Bukannya aku sok penting. Tapi kedudukanku sebagai penulis itulah taruhannya.

Untuk mengusir rasa sepi, kubuka-buka Anggaran Dasar Karang Taruna yang baru. Kemarin AD ini baru kuterima dari Pembimbing Sosial Kecamatan. Sebagai penulis aku harus menguasai semua yang tertera didalamnya.

“Sendiri saja, mas…..”

Kudengar suara lembut menyapa. Ah, hati ini tiba-tiba berdesir hangat. Mengapa? Apa sebabnya?

“Hm, ya…..” sahutku singkat.

“Yang lain kemana, mas?”

“Belum datang dong! Kan sekarang masih jam setengah tujuh”.

Percakapan tadi terhenti sampai disini. Dia, gadis ayu itu duduk di depanku. Kutatap sejenak. Sederhana sekali, rambutnya diekor kuda dan bedak diusapkan tipis diwajahnya yang bulat telur. Bibirnya resik, merah asli. Walau demikian dia tetap ayu menawan.

Kulihat dia asyik membaca susunan acara yang tadi kutulis di papan. Menatap gadis itu, tiba-tiba saja mengingatkan pertemuanku dengannya. Dua bulan yang lalu.

Siang yang terik aku berdiri di teras pasar Kraton. Tidak seperti biasanya, hari itu sepi sekali. Tempat parkir, yang biasanya berisi jajaran dokar-dokar kini lengang. Yang ada hanya kotoran kuda, yang kadang-kadang terbang bersama debu. Menerpa wajahku membawa udara panas. Setengah jam menanti datangnya dokar, amat membosankan. Hendak kutempuh dengan jalan kaki, jarak 3 km pada saat panas begini terasa jauh sekali.

Membuang rasa bosan, kupandang jalan raya. Kendaraan bermotor saling adu cepat berpacu dengan waktu. Sebuah bis berhenti disana. Pintu belakang terkuak, seorang gadis meloncat, lincah. “Dandanan remaja kota besar”, pikirku.

Kuamati gadis itu, t-shirt berwarna merah muda dan jeans yang dikenakan serasi sekali. Ditangannya yang mungil tergenggam koper yang cukup besar. Tas sekolah tergantung dipundaknya. Alangkah manisnya.

Ketika sudah berada di depanku, “Mau narik, kang?”. Sejenak aku terpukau. Sambil kutarik makin ke dalam topi bututku aku menjawab, “Ya. Non mau kemana?”. Dalam hati aku tertawa geli.

“Krapyakrejo. Berapa ongkosnya kalau hanya seorang?”

“Tentu saja lebih mahal, Non”.

“Berapa kang, dua ratus?”

“Kalau hari terik begini seribu lima ratus, mau?”

“Ah, yang bener kang!” Serunya.

“Lho, Non mau apa tidak? Kalau nggak mau kan saya tidak memaksa!”

“Ya…..mau deh!” Jawabnya dengan kesal, “Ngomong-ngomong dokarnya mana kang?”

Dengan tersenyum kusorongkan kedua tanganku dihadapannya.

“Lho…….???” Rasakan, heran dia.

“Non tadi kan tanya pada saya, apakah saya mau narik,…ya, saya mau menarik nona. Yang saya pergunakan narik tentu saja tangan ini. Benarkan?” Jawabku sambil kubuka topi bututku. Kulihat dia terpana. Kemudian rona merah terbias di pipinya yang putih, ketika memandangku. Tapi, kemudian bibirnya tersenyum manis. Kini giliranku, tiba-tiba saja jantung ini berdetak semakin kencang melihat senyum itu.

“Ah……..mas nakal sekali!”

“Salah sendiri, mengapa orang segagah ini disangka kusir.” Aih senyumnya makin lebar, meledaklah tawanya, yang merdu. Hatiku makin tak keruan. Ketika di atas dokar yang membawa kami pulang senyumnya belum menghilang jua.

Aku dilahirkan dan dibesarkan di desa Krapyakrejo, yang kuherankan mengapa belum pernah tau gadis ini. Ataukah dia sedang berkunjung kepada kerabatnya? Tapi mustahil aku tak mengetahuinya sama sekali. Hm, pusing.

“Nona ke Krapyakrejo, kalau boleh saya tahu hendak berkunjung ke rumah siapa?.” Tanyaku untuk menghilangkan pusing. Daripada susah-susah.

“Tidak berkunjung koq mas, mau pulang.”

“Pulang, memangnya orang sana?” tanyaku keheranan.

“Ya, mas. Saya tidak akan pulang ke Krapyakrejo kalau rumah saya tidak di sana!”

“Krapyakrejo sebelah mana nona?” Tanyaku penasaran.

“Sebelah selatan mas, tepatnya di pedukuhan Jolodaran.”

“Ngg…..putrinya pak Prayitno, ya?”

“Bukan mas, pak Haji Sapii.”

“Apa?” Sentakku kaget.

Dia tersenyum bijak agaknya mengerti mengapa aku tersentak tadi. Memang janggal sekali bila pak haji punya puteri seperti ini keindahannya.

“O ya, mas. Nama saya Hanifah, panggil saja Aan.” Kembali aku terpana, alangkah agresifnya dia.

“Aku Widi.” Jawabku.

Bermula dari kejadian yang lucu itu kami kemudian akrab. Aku sering berkunjung ke rumahnya. Santai bersamanya sungguh asyik. Ternyata ia puteri pak Haji Sapii yang bungsu. Sejak kecil ikut pamannya di Malang. Bersekolah di sana. Dia pulang sebab telah berhasil lulus SMEA dengan baik. Dia ingin ikut serta memajukan usaha ayahnya, berdagang dan bertani.

Selain santai di rumah, kami sering menyusuri bulak panjang dan pematang sawah. Berkejaran sepanjang tepi kali. Saling melempar bunga turi dan putik-putik randu yang terjatuh sepanjang bulak. Ketika kami sedang menengok sawah masing-masing.

Sewaktu seksi keputrian Karang Taruna ditinggalkan Endang, atas usahaku dalam rapat yang lalu lowongan itu diisi Aan.

“Koq belum ada yang datang mas?”

“E….hmm, ya Anggaran Dasar yang baru.” Dan meledaklah tawanya.

“Mas melamun ya?,” aku terdiam saja, bibir ini keluh untuk mencari jawaban yang bisa mengelakkan aku dari perasaan malu.

“Habis apa dong, kalau begitu?” lagi-lagi dia mengajukan pertanyaan yang menyudutkan posisi harga diriku.

“Berpikir!.” Jawabku sekenanya, berusaha mempertahankan harga diri melalui muslihat diplomatis.

“Mikir apa mas?.”

Setan, dia memojokkan aku terus. Awas ku skak nanti. Kucoba secepat mungkin menemukan strategi untuk menjatuhkan pertahanan hatinya.

“Ehm, mikir anu. Kira-kira pemuda mana yang kira-kira sedang Aan pikirkan saat ini.”

Nah, dia diam. Rona merah terbias di pipinya. Aku berdiri, kemudian duduk di sampingnya.

“Marah ya? Maaf saja deh kalau begitu.”

“Mas mau tahu siapa yang kupikirkan?”

“Kalau Aan nggak keberatan.”

“Nggak, ah!”

“Kenapa?”

“Malu!”

“Siapa?”

“Mas sendiri!”

“Koq…………saya?”

Dia tersenyum manis. Mimpi apa aku semalam, bahagia sekali. O dewa, aku tak bertepuk sebelah tangan.

Ketika sang ketua datang kusambut dia dengan ceria. Sangat ceria. Ketuaku heran. Kubiarkan saja. Hatiku ringan, melambung tinggi. Mulutku menyiulkan lagu kuno, Cintanya Bimbo. Sang ketua makin melongo. Biarin, rasain deh.

Hari-hari selanjutnya bulak panjang makin indah. Walau pohon turi tak lagi berbunga. Dan randupun kini meranggas. Tapi hati kami semakin mekar dalam rimbunan cinta.

~ oleh Mr. Aditya pada 1 Desember 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: