Sejarah itu Berulang: kajian atas pengulangan pengalaman dalam kepanikan

SEJARAH ITU BERULANG:
Kajian Atas Pengulangan Pengalaman dalam Kepanikan

Secara etimologis mungkin kita semua bisa mendefinisikan apa itu “panic” melalui kamus bahasa Inggris-Indonesia. Tapi pernahkah kita memikirkan, mengapa suatu situasi tertentu yang rumit bisa disebut dengan satu kata sederhana saja, panik!
Melalui tulisan ini, saya bisa mengungkapkan mengapa kata panik itu bisa muncul. Pengalaman ini terjadi dua kali dengan sebab yang sama dan menimbulkan suasana yang sama pula, serta sangat susah untuk diungkapkan dengan sekedar kata-kata untuk mendefinisikan apa itu panik. Sehingga menimbulkan dugaan bahwa sejarah tidaklah einmaliq!
Pertama, terjadi beberapa tahun yang lalu ketika masih kelas 5 SD, sekitar tahun 1994 silam. Kejadian bermula dari keikutsertaanku dalam rombongan tour ziarah wali songo. Sebagai anak-anak dan sebagai pengalaman pertama, maka otomatis kesempatan ini tidak kusia-siakan sebagai petualangan sekaligus wahana bersenang-bersenang.
Ikut ziarah? Jangan tanya, secara fisik memang aku mengikuti rombongan untuk menziarai makam-makam wali namun secara rohani yang ada di otak dan hatiku adalah bagaimana caranya untuk mencari kesempatan lepas dari rombongan yang melakukan ritual membosankan, karena melakukan prosesi yang sama di setiap makam.
Kesempatan kabur itu baru aku dapatkan di Tuban, tempat makam Sunan Bonang. Kala itu, tempat parkir bus masih belum dibuat khusus di sekitar 1 kilometer selatan alun-alun Tuban, dan bus masih bisa diparkir di sekitar alun-alun. Kebetulan, bus kami parkir di sebelah utara alun-alun tepatnya di jalan menuju ke pantai.
Bagiku, daripada menziarahi makam lebih baik menikmati pemandangan alam pantai tuban nan elok itu. Ketika semua rombongan menuju makam, aku malah menuju pantai. Pikirku, tak perlulah mendatangi makam sunan sebab yang lebih penting adalah napak tilas sejarah sunan. Dengan dalih, mencari tempat Sunan Bonang menancapkan tongkatnya ke pantai sehingga “metu banyu” (baca: keluar air) tawar yang menjadi dasar munculnya nama Tuban yang legendaris itu, maka berangkatlah aku dengan seorang kerabat yang masih seumuran tapi memiliki derajat kenakalan kanak-kanak yang sama.
Selang beberapa lama menikmati keindahan pantai, semilir angin, birunya air laut (yang kami jarang—bahkan gak pernah—kami dapati di pantai kota kelahiranku, Pasuruan), dan putihnya pasir, maka kami memutuskan untuk kembali ke bus. Tentunya dengan estimasi waktu bahwa pasti rombongan telah selesai berziarah dari makam.
Alangkah terkejutnya kami, ketika mendapati bus telah berjalan keluar dari sarang parkir semula menuju jalan raya. Panik, itulah kata yang pas untuk mewakili perasaan kami kala itu. Bayangan kami, dalam usia sekecil itu harus tertinggal di kota yang baru pertama kali kami kunjungi, haruskah kami menjadi gelandangan yang terlantar di kota santri ini, haruskah kami tidak jadi menikmati lokasi lain yang akan kami kunjungi, karena selain makam para wali ada satu lokasi kunjungan yang menjadi motif utama dan penambah semangatku untuk mengikuti ziarah ini, yakni stupa Borobudur. Celaka, kunjungan perdana ke Borobudur harus gagal karena sebab yang memalukan, ketinggalan bus!
Sambil berlari sekuat tenaga kami mencoba mengejar bus yang sebenarnya sudah aku yakini tidak akan terkejar lagi oleh kami, mengingat jarak antara kami dengan bus yang jauh sekaligus beda kecepatan kaki kami dengan mesin bus. Tidak lupa, kami berteriak—entah sampai berapa oktaf—menyebut kata “hoiii….bis….bis…bis!. Dalam hati, tega-teganya rombongan bisa meninggalkan kami sebatang kara tanpa kata perpisahan, bukankah diantara mereka ada anggota keluarga kami pula. Jangan-jangan mereka sengaja karena kami telah “murtad” melarikan diri dari rombongan.
Ketika semua telah menjadi jelas bahwa bus tak terkejar lagi, semua kepanikan menjadi kepasrahan. Kecepatan lari kami kurangi berganti menjadi jalan kaki. Sudahlah, toch kami masih bisa pulang ke rumah walau entah bagaimana caranya.
Kepasrahan akhirnya berbuah kebahagiaan. Ketika kami sampai di ujung jalan, tepatnya di pertigaan antara jalan raya Tuban dengan jalan menuju pantai. Pandangan mata kami mengobati segala gundah, bus ternyata hanya pindah parkir ke depan masjid Agung Tuban agar rombongan tidak perlu berjalan jauh.
Kejadian kedua dan lebih menegangkan, adalah sejarah kontemporer dalam periodisasi sejarah hidupku, karena berlangsung beberapa jam lalu ketika tulisan ini dibuat. Celakanya, diktum yang kuagung-agungkan dan kuanggap benar secara apriori adalah salah besar. “Sejarah itu einmaliq” tak lebih dari sekedar doktrin dari para dosen sejarahku, dan sempat menambah keyakinanku atas kebenarannya ketika membaca tulisan A. Sartono Kartodirdjo.
Nyatanya sejarah itu berulang! Meski dalam manifestasi yang berbeda. Kejadian ini terjadi tepat pada hari pahlawan tahun 2008. Siang itu, muncul kabar dari seorang teman bahwa kuliah Dr.Anhar Gonggong kosong karena beliau masih di Yogyakarta. Tak pikir panjang karena memang telah direncanakan dengan matang, aku segera pulang kampung akibat rindu yang tak tertahankan. Secepat kilat aku segera menuju terminal Rawamangun, Jakarta Timur. Diantara pinangan tiga agen bus, akhirnya kuterima lamaran untuk menggunakan jasa bus Kramat Djati.
Awal dari petaka ini adalah saat bus memasuki rumah makan langganan bus Kramat Djati yang bersebelahan dengan rumah makan Taman Sari (langganan Lorena) di daerah Pamanukan. Kulirik jam tanganku, masih menunjukkan 17.20 padahal berdasarkan catatan di My Chronicle (nama buku harianku) rekor paling cepat yang tercatat adalah tiba pukul 17.35. Perkiraanku meleset. Padahal waktu maghrib di Jakarta adalah 17.49, sementara aku dalam keadaan puasa sunnah. Hendak kubatalin namun sayang. Akhirnya, selama di rumah makan itu kerjaanku hanya buang air kecil dan wudhu.
Pukul 17.47 adalah awal dari menit-menit yang menegangkan. Dengan pertimbangan selisih jarak Pamanukan-Jakarra, aku putuskan untuk berbuka puasa meski tak terdengan adzan maghrib. Dengan lahab aku menghabiskan nasi yang menumpuk di piring. Klimaks berlangsung 17.55 ketika kulihat bus meninggalkan pelataran rumah makan dan telah menyentuh bibir aspal jalan raya. Tuh kan apa kubilang, sejarah memang berulang!
Perasaan yang sama persis dengan yang terjadi 14 tahun yang lalu muncul. Dan kata yang bisa mewakili perasaan ini adalah….. PANIK. Aku segera menghampiri petugas kontrol yang salah menghitung jumlah penumpang. Dia beralasan “karena tadi di dalam bus ada banyak anak-anak, sehingga kukira sudah genap.” Memang dia gak patut disalahkan, yang salah adalah aku sendiri karena justru asyik makan ketika penumpang sudah pada naik bus. Petugas kontrol menawarkan agar aku menumpang bus berikutnya. Kubilang gak bisa karena di bus ada barang berhargaku!. Entah apa yang ada dipikiran petugas itu ketika aku menyebut “barang berharga”, mungkin dia mengalami perasaan yang sama dengan skala richter kepanikan yang lebih kecil karena bagaimanapun dia membuat salah perhitungan penumpang, hal ini terlihat dia sibuk menelepon sambil mengabarkan ada penumpang yang tertinggal. Yang pasti bukan menelepon kru bus, karena dia mengatakan tidak memiliki nomor kru yang bisa dihubungi. Solusi yang ditawarkannya agar aku naik bus berikutnya akhirnya mentah dengan alasan ada barang berhargaku di dalam bus. “Wah kalau gitu susah, jadi gak enak kalau pakai bus berikutnya” ujarnya.

Aku memaksa dia agar mengantar aku mengejar bus pakai motor, toch bus baru berangkat. Pengalaman adalah guru yang baik, pengalaman historisku mengajarkan bahwa mengejar bus sambil berlari adalah sia-sia. Kali ini kucoba mengejar pakai motor. Ternyata, petugas itu hanya mengantarku pada seorang tukang ojek yang masih muda, kira-kira seusia denganku. Dengan kecepatan penuh ditambah dengan jiwa muda yang masih membara, jadilah kami melesat dengan kecepatan penuh yang bisa dicapai oleh motor sekelas Honda Supra Fit. Lagi-lagi, aku menggunakan kata sakti “ada barang berhargaku didalam bus, tolong tambah kecepatan” untuk membujuk tukang ojek tadi. Ketika dia mulai terlihat agak menyerah seraya berujar, “kalau bus baru keluar pasti bisa terkejar, tapi ini…!!!.” Kata saktiku keluar lagi “tolong bang, di dalam bus ada barang berhargaku.” Aku memang tidak berbohong ketika menyebut kata ini, karena di dalam bus memang ada tas kerja merk eiger yang berisi celana dalam, charger notebook, dan beberapa buku. Dan memang buku itulah hartaku yang paling berharga, apalagi buku itu masih baru dan belum selesai kubaca. Yang paling aku syukuri adalah notebook, my chronicle, dan beberapa dokumen penting lain tetap kumasukkan dalam tas punggung eigerku yang tetap nangkring di punggungku.
Perjuangan mencapai antiklimaks ketika motor kami kehabisan bensin, padahal adegan ini lebih menegangkan daripada film. Petualangan yang berlangsung selama 20 menit itu berakhir di tepi jalan daerah Eretan, Indramayu, sambil mendorong motor mencari kios bensin. Mas tukang ojek agaknya masih bersemangat untuk mengejar setelah bensin terisi, namun aku sudah pasrah. Kuputuskan untuk putar balik!

Namun, sekali lagi perlu ditekankan di sini bahwa sejarah itu berulang meski dalam manifestasi yang berbeda. Justru pada titik kepasrahan inilah segalanya menemui berkah. Beberapa tahun lalu kepasrahan telah menyadarkan kami bahwa ternyata bus hanya pindah parkir, sedang kali ini kepasrahan baru menyadarkan kami ketika putar balik bahwa bus telah menungguku di agen daerah Patrol. Kami tidak menyadari sebelumnya bahwa bus telah terparkir di tepi jalan, karena kami fokus mengejar bus yang berjalan ditambah kenyataan kondisi jalan yang ramai ketika melewatinya. Ternyata petugas kontrol tadi menghubungi agen bus Kramat Djati daerah Patrol untuk menghentikan bus Jakarta-Denpasar.
Nah, pembaca yang budiman silahkan menyimpulkan apakah sejarah itu einmaliq atau tidak dengan merenungkan pengalaman ini atau pengalaman pribadi anda sendiri. Kesimpulan hakekat waktu yang linear. Tetapi substansinya tetaplah sama dalam manifestasi yang berbeda.
Selamat merenung!

~ oleh Mr. Aditya pada 1 Desember 2008.

Satu Tanggapan to “Sejarah itu Berulang: kajian atas pengulangan pengalaman dalam kepanikan”

  1. Itu hanya suatu kebetulan dan bersifat randomize…
    Terkadang kita melakukan sama dengan apa yang pernah kita lakukan sebelumnya…
    Faktor di luar kita benar-benar di luar kontrol kita

    Mandala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: