Sejarah Itu Mitos

MITOS SEJARAH INDONESIA:

Dilema Mitologisasi vis-à-vis Demitologisasi dalam Sejarah Indonesia

Aditya N. Widiadi

Abstrak: Sejarah Indonesia adalah sejarah yang penuh dengan mitos. Kecuali historiografi tradisional yang memang secara sadar memasukkan mitos dalam historiografinya, ternyata sejarah modern dan posmodern yang diusahakan secara rasional ternyata terjebak ke dalam mitos pula. Tulisan ini mengafirmasi pemikiran Max Horkheimer tentang dilema usaha manusia rasional, yang ternyata juga dijumpai dalam usaha manusia ketika mencoba merekonstruksi sejarahnya secara rasional.

Kata kunci: Sejarah Indonesia, Mitologisasi, Demitologisasi,

Sejarah itu bukan mitos!. Demikian salah satu definisi sejarah secara negatif menurut Kuntowijoyo (1999:7). Diktum ini merupakan kata-kata sakti yang harus dipegang teguh oleh para sejarawan profesional. Kelompok ini—yang oleh Sutherland (2008:34) disebut sebagai sejarah profesional modern (modern professional history)—menekankan pada peran penting penggunaan ilmu pengetahuan Barat sebagai metode untuk menyusun sejarah “nyata.” Sejarah “nyata” adalah rekonstruksi dari “apa yang sebenarnya terjadi” yang dipelopori oleh Leopold von Ranke.

Kelompok sejarawan profesional dengan tegas menuntut dipisahkannya mitos dengan fakta, sebagai antitesis atas keberadaan sejarah tradisional yang seringkali mengawinkan mitos dan fakta. Kaum sejarawan profesional tidak mengakui sama sekali hubungan kekerabatan antara mitos dan fakta, dengan berusaha menciptakan “missing link” antara keduanya. Mereka seolah lupa bahwa secara genetikal, sejarah merupakan anak turun mitos setelah melalui berbagai tahap evolusi dalam menghadapi seleksi jaman. Sejatinya, sejarah merupakan hasil evolusi dari mitos yang dirasionalisasi, bahkan gen-gen dalam sejarah dewasa ini masih mengandung unsur mitos.

Tulisan ini sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Max Horkheimer (dalam Sindhunata, 1983) mengenai kegagalan usaha manusia rasional yang macet dan gagal, sehingga terjebak dalam keirasional-irasionalan yang baru. Menurut Horkheimer, mitos yang irasional ternyata merupakan usaha manusia yang rasional, sedangkan usaha manusia yang rasional ternyata mitos yang irasional. Dengan demikian, usaha manusia rasional tidak akan berhasil menghilangkan mitos, malah secara niscaya usaha itu pasti akan mengakibatkan mitos.

Tulisan ini secara afirmatif mencoba untuk membuktikan pemikiran Horkheimer dalam ranah sejarah, khususnya sejarah Indonesia. Sejarah Indonesia adalah sejarah yang penuh dengan mitos. Ketika historiografi tradisional dominan, yang ditandai dengan keberadaan babad, hikayat, tambo, dan sebagainya, mitos tidak diperlakukan sebagai unsur yang najis dalam historiografi mereka. Namun pada masa historiografi modern mengambil posisi sentral, dan historiografi tradisonal terlempar ke periphery, maka historiografi yang disebut pertama memperlakukan mitos sebagai dosa besar yang wajib dihindari dalam penulisan sejarah. Saat ini ketika kemapanan historiografi modern digugat dan didekonstruksi oleh aliran posmodernisme, tampaklah bahwa usaha historiografi modern sebenarnya masih menghasilkan mitos-mitos baru dalam wajah manifestasi yang rasional. Pada titik ini, kelak kita akan melihat bahwa posmodernisme sendiri ternyata akan menghasilkan mitos-mitos baru yang irasional dalam sejarah Indonesia.

Dinamika Mitos dalam Sejarah

Mitos berasal dari bahasa Yunani mythos, yang berarti dongeng (Kuntowijoyo, 1999:7). Lama sebelum manusia menulis sejarah secara ilmiah, mitos telah lebih dulu hadir dan mampu menjawab pertanyaan “wie es eigentlich gewesen,” yaitu bagaimana sesuatu sesungguhnya bisa terjadi (Kartodirdjo, 1982:16). Dengan kata lain, secara historis, sebenarnya mitos adalah nenek moyang sejarah. Keduanya sama-sama berupaya menceritakan masa lalu dengan caranya masing-masing.

Kuntowijoyo (1999:8) membedakan mitos dan sejarah hanya pada dua titik singgung. Pertama, mitos memiliki unsur waktu yang tidak jelas. Berbeda dengan sejarah yang menekankan pada keberadaan unsur waktu yang kronologis, justru mitos mengabaikan peranan waktu sama sekali. Mitos tidak memiliki perhatian pada awal, akhir, kapan suatu peristiwa terjadi, atau suatu urutan masa tertentu yang kronologis. Ia sengaja tidak menjelaskannya secara tegas karena bagi mitos bukan waktu yang terpenting dalam menjelaskan kapan suatu peristiwa terjadi, melainkan lebih mengutamakan apa dan bagaimana sesuatu terjadi. Kartodirdjo (1982:16) menilai, mitos lebih berfungsi untuk membuat masa lalu bermakna dengan memusatkan kepada bagian-bagian masa lampau yang mempunyai sifat tetap dan berlaku secara umum, karenanya dalam mitos tidak ada unsur waktu yang jelas.

Titik singgung yang kedua, terletak pada anggapan bahwa mitos memuat kejadian yang tidak masuk akal—menurut sudut pandang orang masa kini. Pada titik inilah, sejarawan modern dengan arogan menganggap mitos tidak layak menjadi bagian dari sejarah. Sejarah modern mengklaim bahwa ia mampu menjelaskan masa lalu menurut standar rasio yang berlaku di masa sekarang. Mitos yang seringkali menjelaskan masa lalu yang kabur dari pandangan manusia, akhirnya dibalut dengan berbagai takhayul untuk menjelaskan suatu fenomena. Inilah usaha manusia rasional untuk menjelaskan masa lalu. Sebagai contoh kasus, ada mitos dogmatis—yang diimani oleh agama-agama besar saat ini—bahwa manusia pertama yang ada di dunia adalah Adam dan Hawa yang diciptakan dari tanah. Namun kapan Adam dan Hawa diciptakan dan kapan mereka diturunkan ke dunia? tidak terdapat petunjuk waktu yang jelas untuk menjawab pertanyaan ini. Pun pertanyaan, bagaimana tanah bisa menjadi manusia juga tidak akan pernah bisa dijawab oleh rasio manusia dewasa ini. Meski demikian, manusia yang beriman bisa menjelaskan tentang bagaimana mereka diciptakan dan mengapa mereka diturunkan ke dunia secara lengkap dan mendetil walau tanpa disertai penunjuk waktu kapan peristiwa itu terjadi.

Menurut Horkheimer (dalam Sindhunata, 1982:123-124), mitos adalah keirasionalan, takhayul atau khayalan, pendeknya sesuatu yang tak berada dalam kontrol kesadaran dan rasio manusia. Yang perlu dipahami, bahwa mitos sebenarnya merupakan percobaan-percobaan manusia untuk mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya tentang alam semesta, tentang dirinya sendiri. Dalam mitologi Yunani, seperti yang dituturkan dalam syair-syair Heseidos, Pherekydes, dan Homeros, memang mereka sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia tentang alam semesta itu, tapi jawaban yang diberikan justru dalam bentuk mitos yang meloloskan diri dari tiap-tiap kontrol pihak rasio. Baru pada abad enam sebelum Masehi, mitos digebrak oleh rasio, dan sejak saat itu orang mulai mencari-cari jawaban rasional tentang problem-problem yang diajukan alam semesta. Logos (akal budi, rasio) sudah mengemansipasikan diri dari mitos. Horkheimer lebih menunjuk titik ini sebagai awal aufklarung bukan abad kedelapan belas Masehi. Maka otoritas dewa-dewa dalam mitos secara perlahan digusur oleh pengertian rasional manusia. Bagi Anaxagoras, pelangi bukan lagi merupakan titian dewi jelita yang sedang bertugas sebagai duta bagi dewa-dewa lain, tapi pelangi adalah pantulan cahaya matahari dalam awan-awan (Sindhunata, 1982:69-70).

Ketika rasional diutamakan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia akan diri dan alamnya, maka terjadilah revisi total melalui proses demitologisasi. Demitologisasi merupakan upaya-upaya sadar untuk menghilangkan mitos dengan cara memberi jawaban alternatif yang lebih rasional dan diterima oleh logika manusia. Tentu setiap peradaban memiliki periode yang berbeda-beda sebagai titik peralihan tahap mitos ke rasional.

Hubungan mitos dengan sejarah dengan demikian mengalami pasang surut sesuai dengan jiwa zaman yang berlaku. Pada awalnya, mitos dengan sejarah tidak bisa dibedakan dengan tegas karena keduanya berupaya untuk menjelaskan masa lalu sesuai dengan kemampuan dalam eksplanasi yang bisa dijangkau manusia kala itu. Ketika mitos dinegasikan akibat menguatnya posisi rasio dalam menjelaskan masa lalu, mitos akhirnya dicampakkan oleh sejarah. Bahkan sejarah tidak mengakui hubungan kekerabatannya dengan mitos. Sejarah akhirnya memadu kasih secara monogami dengan rasio, untuk menjelaskan masa lalu manusia. Ironisnya, rasio yang dipakai manusia dalam menjelaskan masa lalunya, terkadang—untuk tidak mengatakan selalu—terjebak dalam upaya untuk menciptakan masa lalu sesuai dengan harapannya. Secara tidak sadar, manusia menciptakan mitos-mitos baru dalam penulisan sejarahnya. Mengenai bukti bahwa manusia secara tidak sadar—maupun sadar—menciptakan mitos dalam sejarah yang rasional, akan dibahas pada bagian berikutnya dengan contoh kasus pada sejarah Indonesia.

Kondisi yang semacam ini, adalah sejalan dengan pemikiran Horkheimer. Menurutnya, usaha manusia rasional adalah mitos, sebab usaha manusia rasional tidak dapat berdiri sendiri, tidak otonom, tidak dapat mengenal dirinya sendiri: usaha manusia rasional itu terjadi, ada, dan mengenal dirinya hanya berkat dan di dalam mitos. Dengan kata lain, usaha manusia rasional itu niscaya atau tidak dapat tidak adalah mitos sendiri. Sebaliknya, pada hakekatnya mitos itu adalah usaha manusia rasional, sebab tanpa usaha manusia rasional mitos tidak akan mengenal dirinya sebagai mitos. Baru dengan usaha manusia rasional mitos terjadi, ada dan mengenal dirinya sebagai mitos. Jadi mitos juga tidak otonom, tidak dapat berdiri sendiri, tidak dapat mengenal dirinya sendiri: mitos terjadi, ada, dan mengenal dirinya sendiri hanya berkat dan di dalam usaha manusia rasional. Dengan kata lain, mitos niscaya atau tidak dapat tidak adalah usaha manusia rasional sendiri (Sindhunata, 1982:124).

Bukti yang lain, adalah keberadaan aliran posmodernisme yang mengkritik habis sejarah yang mengklaim dirinya rasional dan terbebas dari mitos, ternyata mengandung berbagai mitos sebagai upaya pengagungan terhadap masa lalu dan dirinya sendiri. Dekonstruksi yang ditawarkan oleh posmodernisme, membawa harapan rasional yang baru untuk menghapuskan mitos dalam sejarah modern. Celakanya, posmodernisme kelak akan terbukti hanya membawa mitos baru belaka.

Mitologisasi dalam Sejarah Indonesia

Pada bagian ini penulis akan mencoba untuk memaparkan bukti-bukti adanya mitos dalam sejarah dengan mengambil kasus pada sejarah Indonesia. Sejarah Indonesia yang dimaksud dalam tulisan ini adalah segala hasil penulisan sejarah yang terkait dengan Indonesia, baik yang dibuat sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka. Tentunya dengan pengecualian terhadap sejarah Indonesia yang dihasilkan historiografi tradisional, karena unsur mitos dalam historiografi tradisional tidak dinegasikan bahkan melebur dengan fakta sejarah. Maka tentu beberapa mitos yang coba diuraikan dalam ruang yang terbatas ini adalah sejarah Indonesia hasil historiografi modern yang mengklaim dirinya telah melepaskan diri dari mitos dan bekerja sepenuhnya dengan fakta.

Untuk memudahkan pembahasan, maka mitologisasi dalam sejarah Indonesia ini dipaparkan dalam tiga bagian berikut:

1. Mitos dalam Sejarah Neerlandosentris

Sejarah Indonesia yang dihasilkan oleh historiografi dengan perspektif Neerlandosentris atau yang yang disebut juga dengan historiografi kolonial adalah sejarah yang dihasilkan oleh sejarawan-sejarawan Barat, khususnya Belanda, yang dihasilkan pada masa pra kemerdekaan mengenai keadaan historis negeri Hindia-Belanda. Para sejarawan ini dapat dikategorikan sebagai sejarawan profesional hasil didikan berbagai universitas ternama di Eropa dan berbagai penjuru dunia, sehingga layak dikategorikan sebagai sejarah profesional modern.

Mereka dengan sadar mengagung-agungkan rasio dan sebagian lagi mengujat habis-habisan mitos dalam historiografi tradisional yang dihasilkan pribumi. Sejarawan profesional ini sama sekali tidak menyadari bahwa usaha rasional mereka ternyata juga menghasilkan mitos-mitos baru dalam historiografinya. Beberapa mitos yang dihasilkan oleh sejarah neerlandosentris ini diantaranya adalah sebagai berikut.

a. Mitos Peranan Bangsa Eropa

Historiografi kolonial bertitik puncak pada karya lima jilid dari Stapel, Geschiedenis van Nederlandsch-Indie, 1938-1940. Dua jilid bercerita tentang kerajaan-kerajaan lama di Jawa yang berdasarkan Hindu dan Islam, lantas situasi berubah dengan tiba-tiba dengan kedatangan Belanda. Jilid ketiga dan seterusnya menjadikan Belanda sebagai pemain utama, sedangkan penduduk pribumi terpinggirkan. Belanda menjadi pelaku utama yang mewakili pencerahan, kemajuan, dan kemampuan melindungi kepentingan penduduk asli (Nordholt, Purwanto, Saptari, 2008:7).

Historiografi kolonial dengan sendirinya selalu menonjolkan peranan bangsa Belanda dan memberi tekanan pada aspek politis, ekonomis, dan institusional. Hal ini merupakan perkembangan secara logis dari situasi kolonial di mana penulisan sejarah terutama mewujudkan sejarah dari golongan yang dominan beserta lembaga-lembaganya. Interpretasi dari jaman kolonial cenderung untuk membuat mitologisasi dari dominasi itu, dengan menyebut perang-perang kolonial sebagai usaha pasifikasi daerah-daerah, yang sesungguhnya mengadakan perlawanan untuk mempertahankan masyarakat dan kebudayaannya (Kartodirdjo, 1982:19-20).

Historiografi Neerlandosentris dengan demikian, sebesar apapun mereka mengaku mengutamakan rasio dan logika dalam penulisan sejarah, ternyata juga terperosok dengan usaha menciptakan mitos dalam sejarah. Upaya mengagungkan diri dan bangsanya untuk kemudian melegitimasi perannya sebagai penguasa di Hindia-Belanda pada hakekatnya adalah upaya mitologisasi dalam sejarah. Hal ini mengindikasikan bahwa usaha rasional mereka terjebak dalam penciptaan mitos.

b. Mitos Peranan Bangsa Pribumi

Berkebalikan dengan pencitraan diri sendiri, maka penggambaran bangsa pribumi dalam historiografi Neerlandosentris selalu diposisikan sebagai warga kelas paling bawah, masih biadab sehingga layak untuk diperintah dan diperadabkan, pencitraan pribumi malas, dan sebagainya. Dalam historiografi Neerlandosentris, pribumi hanya mendapat peran figuran dalam panggung sejarah. Secara sistematis, terstruktur, dan masif sebenarnya pencitraan semacam ini adalah upaya membuat mitos dalam usaha rasional mereka menciptakan historiografi yang mereka cap modern.

c. Mitos Penjajahan 350 Tahun

Mitos yang paling sering didengungkan oleh pihak pemerintah Hindia-Belanda dan mewarnai historiografi Neerlandosentris adalah mengenai “fakta” bahwa Belanda telah menjajah Indonesia selama 350 tahun. Mitos ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh pernyataan Gubernur Jenderal B.C. de Jonge yang pada 1936 menyatakan “Kami orang Belanda sudah berada di sini tiga ratus tahun dan kami akan tinggal di sini tiga ratus tahun lagi.” Ucapan ini secara implisit sebenarnya adalah ucapan yang seakan-akan menantang kaum pergerakan kebangsaan waktu itu (Lapian dalam Resink, 1987:xi).

Pernyataan de Jonge, secara letterlijk, sebenarnya benar apabila yang dimaksud bahwa orang Belanda telah menginjakkan kaki di wilayah tertentu Nusantara semenjak tiga ratus tahun sebelumnya. Ambillah sebagai patokan datangnya armada de Houtman pada 1596 atau pendirian VOC pada 1602. Namun pernyataan tersebut adalah berlebihan bila dimaksudkan sebagai Belanda telah menjajah Indonesia selama 300 tahun. Permasalahan yang muncul adalah berkisar pada realita bahwa semenjak orang Belanda pertama menginjakkan kaki di Nusantara, mereka tidak langsung menjajah tapi hanya mengadakan hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan setempat. Kedua, permasalahan bahwa Belanda tidak menjajah keseluruhan wilayah Nusantara selama tiga ratus tahun. Masih terdapat vorstenlanden tertentu yang belum menyatakan tunduk hingga awal abad keduapuluh.

Menurut Asvi Warman Adam (2007:9-13), peruntuh mitos penjajahan 350 tahun ini adalah Resink. G.J. Resink (1987), berdasarkan studi hukum internasional, telah membuktikan bahwa sesungguhnya Belanda tidak berada di sini selama tiga ratus tahun apabila yang dimaksudkan dengan “di sini” adalah sebagai seluruh kepulauan Indonesia. Resink secara tidak sengaja menemukan sejumlah pernyataan ahli ilmu hukum dari tahun 1870 dan 1910, yang pada masa antara 1910 dan 1950 banyak diabaikan oleh kebanyakan pengarang. Dalam Regeeringsreglement 1854 pasal 44 memberi kewenangan kepada Gubernur Jenderal untuk menyatakan perang, mengadakan “perdamaian dan perjanjian-perjanjian lain” dengan raja-raja dan bangsa-bangsa Hindia dengan memperhatikan perintah-perintah raja. Dari perundingan-perundingan mengenai pasal ini dalam Parlemen Belanda dapat disimpulkan, sebagai mana dinyatakan Menteri Jajahan kala itu, bahwa “di dalam atau berdekatan” dengan Hindia Belanda terdapatlah “raja-raja Hindia yang merdeka,” biarpun jumlahnya “amat sedikit.” Dari pernyataan tersebut sebenarnya sudah mengindikasikan bahwa sampai awal abad keduapuluh sekalipun, Belanda masih tidak menguasai keseluruhan Hindia-Belanda sepenuhnya.

Apapun bantahan Resink dan berapa pun lama penjajahan Belanda di Nusantara, tulisan ini tidak terlalu menaruh perhatian. Penulis lebih berminat untuk menunjukkan bahwa terdapat mitos dalam sejarah Neerlandosentris meski sudah menekankan pada rasio dan ilmu pengetahuan modern. Termasuk dalam pembuatan mitos bahwa Belanda sudah menjajah Nusantara ratusan tahun, untuk itu masih berhak memerintah ratusan tahun lagi.

Mitos ini, terlepas dari benar-tidaknya secara faktual, ternyata juga mempengaruhi dan diyakini oleh bangsa pribumi. Namun dengan semangat yang berkebalikan bahwa penjajahan ratusan tahun itu harus segera dihentikan. Kecuali itu, mitos ini juga sudah bersinergi dengan mitos lokal dari ramalan Jayabaya yang meramalkan bahwa bangsa penjajahan Belanda akan segera berakhir dengan kedatangan “bangsa kulit kuning yang hanya akan menjajah seumur jagung.”

Demikianlah maka sebenarnya dalam sejarah Neerlandosentris masih belum bisa melepaskan dirinya dari mitos dan menggunakan rasio secara murni. Bahkan mereka sengaja menciptakan mitos mengenai superioritas bangsa Belanda dan mitos minderwaardigheid bangsa Indonesia. Mitos yang diciptakan berfungsi membuat masa lalu bermakna dan berguna bagi kepentingan pihak penguasa, adapun mengenai penekanan pada aspek waktu adalah urusan belakangan.

2. Mitos dalam Sejarah Indonesiasentris

Sejarah Indonesiasentris adalah antitesis dari sejarah Neerlandosentris. Apabila versi arus utama Belanda mengenai sejarah Hindia-Belanda mengagung-agungkan pasifikasi dan kemajuan. Sebaliknya, narasi nasionalis berpusat pada perjuangan untuk mewujudkan negara demokrasi sekuler yang berakar dalam identitas bersama (dan baru). Sementara, dari sisi hal yang ditekankan dan struktur, sebenarnya kedua perspektif sejarah itu sebagian besar identik satu sama lain. Hal yang dilukiskan sebagai keburukan (kejahatan atau fanatik) dalam narasi Belanda menjadi kepahlawanan dalam versi nasionalis (perjuangan tanpa pamrih). Namun, fokus utama tetap sama, yakni negara dan pengalaman kolonial (Sutherland, 2008:40). Sebagaimana visi Neerlandosentris, visi Indonesiasentris juga mencari legitimasi dengan cara menjanjikan pembangunan.

Wujud sejarah Indonesiasentris dalam sejarah Indonesia bermetamorfosis menjadi Sejarah Nasional. Sejarah nasional menggunakan dekolonisasi sebagai prinsip dasar dari Indonesiasentrisme untuk membangun wacana sekaligus perspektif yang menjadikan historiografi sekedar sebagai alat penghujat dan menggunakan masa lalu sebagai tameng pembenaran (Purwanto, 2006). Segala yang berbau kolonial adalah salah, dan segala yang bercitarasa nasional adalah kebenaran.

Pada awal kemerdekaan, ketika euforia revolusi masih mewarnai langit Indonesia, sejarah Indonesiasentris menjadi satu-satunya cara untuk mewadahi semangat kemerdekaan dalam sejarah. Tidak boleh tidak, mereka yang dianggap pahlawan pada sejarah Neerlandosentris harus turun kasta menjadi penjahat dan pecundang. Sebagai contoh, sebutlah nama Hendrik Merkus de Kock (1779-1845), sebagai Letnan Gubernur Jenderal dan panglima tertinggi pasukan militer Hindia Belanda selama perang jawa, tentu dimasukkan sebagai pahlawan dalam perspektif Neerlandosentris karena berjasa memadamkan perang jawa. Sebaliknya, ketika Indonesiasentris berjaya, de Kock adalah penjahat perang yang menjajah Indonesia. Gambaran yang serupa juga dialami oleh Diponegoro. Hanya saja yang terjadi sebaliknya, pada perspektif Neerlandosentris Diponegoro dianggap sebagai pemberontak namun perspektif Indonesiasentris menganggapnya sebagai pahlawan.

Kondisi yang semacam ini jelas membuktikan bahwa manusia dalam menuliskan sejarahnya masih belum bisa menggunakan rasionya secara penuh. Ia masih terbelenggu untuk menciptakan mitos dalam sejarah. Manusia menggunakan masa lalu yang dibungkus mitos untuk melegitimasi kondisi masa kini dengan harapan bisa memperoleh keuntungan di masa depan.

3. Mitos dalam Sejarah Orde Baru

Pada masa orde baru, perspektif historiografi dalam sejarah Indonesia masih dalam pola Indonesiasentris. Hanya saja, karena jiwa jaman tidak lagi dipenuhi euforia revolusi pasca kemerdekaan, maka sejarah Indonesia tidak lagi terlalu menghujat segala sesuatu yang berbau Barat pada umumnya, Belanda pada khususnya. Saat itu sejarah sengaja dipakai sebagai alat untuk melegitimasikan posisi penguasa. Penguasa di sini adalah Soeharto beserta militernya. Dalam kondisi yang demikian, lagi-lagi sejarah digunakan digunakan untuk menciptakan mitos-mitos baru melalui penulisan sejarah modern dalam bentuk grand narrative (Sutherland, 2008:34), sebuah narasi dominan yang menampilkan sejarah yang berpuncak pada kejayaan modernitas negara-bangsa atau pada pribadi dan institusi tertentu pada negara-bangsa tersebut.

Mitos dalam sejarah Orde Baru berpusat pada “kesucian” militer sebagai institusi dan Soeharto sebagai pribadi. Menurut Nordholt (dalam McGregor, 2008:xviii), ciri dari historiografi nasional yang dibentuk selama masa Orde Baru Soeharto adalah sentralitas negara yang diejawantahkan oleh militer. Sejarah nasional disamakan dengan sejarah militer dan produksi sejarah dikendalikan oleh negara dan militer. Beberapa dampaknya ialah bahwa, misalnya, cerita tentang revolusi nasional akhirnya memfokuskan pada peran menentukan dari militer dengan menyingkirkan pelaku sejarah yang lain. Menurut pandangan sejarah ini, revolusi kemerdekaan ditentukan militer, dan sepanjang periode tahun 1950an militerlah yang menyelamatkan bangsa dari “disintegrasi,” dengan mengabaikan fakta bahwa militer memainkan perang penting dalam pemberontakan-pemberontakan di daerah. Pada akhirnya versi militer tentang kejadian di tahun 1965 mendominasi historiografi periode tersebut dan melegitimasi naiknya rezim Orde Baru.

Menurut Katharine E. McGregor (2008), upaya mitologisasi sejarah yang dilakukan pemerintah Orde Baru telah berlangsung sejak awal berdirinya rezim sampai jatuhnya Soeharto, dan peran sentral dalam pembuatan sejarah yang semacam ini adalah tanggung jawab Nugroho Notosusanto dan Pusat Sejarah ABRI. Terdapat beberapa hal yang menunjukkan bahwa militer—khususnya Angkatan Datar—berusaha untuk mencitrakan dirinya sebagai pihak yang paling benar dan tidak pernah salah. Pertama, mengeluarkan berbagai penulisan sejarah terkait peristiwa percobaan kudeta 1965 (McGregor, 2008:119-132). Salah satu tulisan Nugroho Notosusanto (1968) yang ditulis bersama Saleh, dijadikan versi resmi negara sekaligus sebagai buku putih—terlepas dari warna sampulnya yang memang putih—adalah “The Coup Attempt of the ‘September 30 Movement’ in Indonesia.” Berdasarkan bukti di persidangan, buku ini menyimpulkan bahwa semua yang terlibat dalam Gerakan 30 September adalah anggota PKI atau dikelola PKI.

Usaha kedua adalah melalui usaha mengabadikan peristiwa sejarah—versi militer tentunya—dengan cara membuat berbagai monumen dan museum. Sebagai contoh, adalah pendirian Museum Monumen Pancasila Sakti, yang secara ironis mengabadikan Lubang Buaya untuk membuktikan kekejaman-kekejaman PKI sekaligus jasa militer dalam menumpas gerakan tersebut (McGregor, 2008:168-173). Di samping itu adalah pembuatan diorama dan relief dalam berbagai monumen dan museum, yang diciptakan sesuai dengan tafsiran militer atas masa lalu. Ketiga, memanfaatkan film untuk memitoskan diri militer dan Soeharto, seperti dalam film Pengkhianatan Gerakan 30 September (McGregor, 2008:173-179), Janur Kuning, Serangan Fajar, Mereka Kembali, Bandung Lautan Api, dan Pangsar Soedirman.

Keempat, untuk mengabadikan mitos-mitos yang telah dibuat rezim Orde Baru maka diperlukan sarana pendidikan untuk mewariskan sejarah yang telah diciptakan kepada generasi muda. Usaha ini dilakukan melalui penyusunan buku babon Sejarah Nasional Indonesia dalam enam jilid, dimana upaya mitologisasi sejarah sangat terasa pada jilid terakhir. Kecuali itu, pewarisan mitos peran militer ini juga mendapat porsi besar dalam pendidikan dengan menciptakan mata pelajaran baru yang bernama Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Upaya-upaya ini dilakukan dengan peran dan tanggung jawab besar di tangan Nugroho Notosusanto.

Asvi Warman Adam (2008: 118-124) juga mengakui terjadinya proses militerisasi dalam sejarah Indonesia. Namun Asvi lebih menunjuk Jenderal A.H. Nasution daripada Nugroho Notosusanto sebagai “aktor intelektual” dibalik proses militerisasi sejarah Indonesia. Asvi menunjukkan bahwa meski Nugroho Notosusanto mengetuai berbagai proyek militer atas sejarah, namun inisiator utamanya adalah Nasution. Pendapat Asvi mungkin ada benarnya, terlebih tokoh Nasution sendiri juga mulai dimitoskan dewasa ini, terbukti dari didirikannya Museum Nasional Nasution yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla pada 3 Desember 2008 (Jawa Pos, 4 Desember 2008). Namun tulisan ini tidak terlalu memusingkan siapa penanggung jawab utama dari mitologisasi militer dalam sejarah Indonesia. Tulisan ini cukup membuktikan bahwa masih terdapat mitos dan mitologisasi dalam sejarah Indonesia, termasuk pada masa Orde Baru dimana penguasa memanfaatkan sejarah sebagai penopang kekuasaannya.

Demitologisasi dalam Sejarah Indonesia: Angin Surga Posmodernisme

Melalui uraian diatas, terlihat nyatalah sekarang bahwa sejarah Indonesia dipenuhi mitos dan mitologisasinya pun dilakukan secara struktural, sistematis, dan masif. Kecuali historiografi tradisional yang memang secara jujur dan terang-terangan mencampurkan mitos dalam sejarah untuk diakui sebagai fakta sejarah, upaya mitologisasi ini justru semakin menemukan bentuknya oleh historiografi modern yang mengklaim diri telah melepaskan mitos dari fakta, namun ternyata justru terperosok dengan upaya penciptaan mitos-mitos baru.

Harapan akan berakhirnya mitologisasi dalam sejarah ini datang dari aliran baru yang menamakan diri posmodernisme. Istilah posmodernisme ini sangat susah untuk didefinisikan secara tunggal, karena ia selalu mengelak untuk bisa difenisikan secara memadai sebab ia sendiri selalu menyuarakan ketidakpercayaan terhadap segala bentuk grand narratives (Sugiharto, 1996: 23-28). Menurut Arief Budiman (1999:21), posmodernisme lebih merupakan aliran pemikiran sekaligus menjadi gerakan yang bereaksi terhadap kegagalan manusia menciptakan dunia yang lebih baik, dan didasarkan pada rasa kecewa terhadap janji kosong yang diberikan oleh peradaban modern yang mendasarkan diri pada pengetahuan rasional. Istilah ini memiliki keluasan wilayah dan bertebaran di mana-mana, mulai dari bidang seni musik, seni rupa, fiksi, film, drama, fotografi, arsitektur, kritik sastra, antropologi, sosiologi, geografi dan filsafat (Sugiharto, 2008:23), tentu tidak mau ketinggalan dalam bidang sejarah.

Posmodernisme dalam sejarah, dengan tegas membedakan masa lalu (the past) dengan sejarah (history), karena masa lalu (res gestae) tidak sama dengan cerita sejarah (historum rerum gestarum). Maka masa lalu sebenarnya tidak pernah memasuki historiografi yang berupa teks kecuali secara retoris atau teoritis saja (Syamsuddin, 2007:343-343). Posmodernisme benar-benar mendekonstruksi segala kemapanan grand narratives yang dibangun sejarah modern. Ia menganggap bahwa interpretasi dari masa lalu hanya diciptakan berdasar apa yang ditemukan, sehingga tidak ada sejarah yang benar-benar faktual atau mutlak benar karena sejarah diimajinasikan dan kiasan. Akhirnya posmodernisme dalam sejarah, menurut Sjamsuddin (2007:346), cenderung mengarah kepada metahistory dan puisi sejarah.

Sejarawan yang mengusung posmodernisme dalam sejarah di Indonesia, adalah Bambang Purwanto. Ia menggugat konstruksi sejarah Indonesia yang telah dibangun selama ini dan menilai historiografi Indonesia telah berada di ujung tanduk (Purwanto & Adam, 2005:1). Salah satu persoalan yang melingkupi historiografi Indonesia adalah mitos kandungan penting dari masa lalu untuk dapat disebut sebagai sejarah dan mitos objektivitas sejarah (Purwanto & Adam, 2005:43). Kebenaran sejarah, sama halnya dengan kebenaran karya sastra, adalah kebenaran relatif. Kebenaran sebagai realitas, maka sejarah sebenarnya hanya ada di masa lampau dan tidak mungkin dijangkau oleh sejarawan yang ada di masa kini (Purwanto, 2006:3-4).

Purwanto mendekonstruksi kemapanan sejarah modern yang bertumpu pada grand narratives. Melalui kesadaran dekonstruktif, maka kehidupan sehari-hari seharusnya juga merupakan bagian integral dari proses sejarah (Purwanto & Adam, 2005:49). Oleh karena itu, sejarah bukan hanya milik dan monopoli para great man namun untuk semua “ukuran” manusia. Dalam sejarah modern, banyak orang baik sebagai individu maupun kelompok tidak memiliki sejarah atau dianggap tidak berhak memiliki sejarah, walau mereka semua memiliki masa lalu. Sejarah menjadi elitis dan formal yang tidak memberi ruang pada keseharian, kemanusiaan, dan sesuatu yang terpinggirkan. Bahwa hanya segala sesuatu yang memiliki kandungan penting yang berhak menjadi sejarah, adalah mitos yang diciptakan oleh sejarah modern.

Mitos lain yang tercipta dalam sejarah modern adalah klaim bahwa dirinya paling objektif. Dengan keyakinan posmodernisme bahwa kebenaran itu relatif (Purwanto, 2006:4), maka otomatis keobjektivitasan dalam sejarah adalah mitos. Dalam mencitrakan diri sebagai objektif, sejarah modern melakukannya melalui penggunaan teori sekaligus metodologi yang dipinjam dari ilmu sosial yang lain. Sayangnya, teori dan metodologi itu tidak lebih dari sekedar pajangan daripada alat analisis untuk menjelaskan berbagai dimensi yang terkandung dalam suatu peristiwa (Purwanto & Adam, 2005:40).

Kritik Bambang Purwanto yang paling tajam adalah serangannya terhadap historiografi Indonesiasentris, sekaligus menunjukkan mitos-mitos yang dikandungnya. Berlagak objektif, historiografi Indonesiasentris ternyata justru cenderung menjauh dari prinsip-prinsip objektif karena berkembangnya prinsip dekolonisasi historiografi yang bersifat ultra nasionalis dan lebih mementingkan retorika (Purwanto, 2006:11). Mitos yang muncul ini lahir dari upaya untuk mencitrakan bangsa sendiri sebagai pihak yang paling benar dengan mencela pihak penjajah. Lahirlah pahlawan-pahlawan yang selama hidupnya tidak pernah mengenal entitas Indonesia, diklaim sebagai tokoh yang telah berjuang demi Indonesia. Untuk menggantikan Indonesiasentris dalam sejarah Indonesia, Purwanto menawarkan paradigma baru yang ia sebut sebagai neo-Indonesiasentris atau post­-Indonesiasentris (Purwanto & Adam, 2005:51).

Demikianlah, aliran posmodernisme mengacak-acak segala kemapanan sejarah modern melalui dekonstruksi terhadap grand narrative yang telah tersusun mantap. Posmodernisme telah menunjukan segala kemunafikan sejarah modern yang mengklaim diri sebagai “sejarah suci” yang berjubahkan kebenaran, karena telah membuang mitos dari fakta. Namun ternyata, disadari atau tidak, sejarah modern di Indonesia—baik itu dengan visi Neerlandosentris maupun Indonesiasentris—ternyata secara sistematis, terstruktur, dan masif menciptakan mitos-mitos baru untuk melegitimasikan dirinya sendiri sebagai pihak yang paling benar.

Dilema: Mitologisasi Posmodernisme

Kehadiran posmodernisme merupakan pencerahan baru bagi penulisan sejarah Indonesia untuk lepas dari mitos. Ia benar-benar membabat habis sejarah modern dengan menunjukkan segala kebobrokannya. Namun, lagi-lagi usaha manusia rasional menemui jalan buntu dan terjerumus ke lembah mitos baru. Horkheimer (dalam Hardiman, 1993:197) sudah mengigatkan “mitos sudah merupakan pencerahan, dan pencerahan berbalik menjadi mitologi.” Jalan buntu ini juga ditemui oleh posmodernisme dalam sejarah yang rupanya juga menyajikan mitos-mitos baru belaka.

Terjadinya mitologisasi posmodernisme ini sebenarnya dipicu oleh faktor internal dalam tubuh posmodernisme itu sendiri yang berupa cacat bawaan sejak lahir. M. Arief Hakim (1999:306-307) menunjukkan beberapa cacat bawaan posmodernisme. Pertama, watak posmodernisme yang penuh dengan paradoks, kontradiksi, inkonsistensi, ambivalensi, sikap dilematik dan sebagainya. Misalnya saja, posmodernisme mendewakan relativitas dengan mengatakan bahwa yang pasti adalah “ketidakpastian” itu sendiri, tetapi pada sisi lain posmodernisme memproklamasikan dirinya sebagai suatu alternatif yang “pasti”. Dalam kasus sejarah Indonesia, posmodernisme selalu menggugat visi Neerlandosentris maupun Indonesiasentris yang berwujud grand narratives. Ironisnya berbagai alternatif yang ditawarkannya secara “asal beda” dianggap sebagai alternatif yang niscaya harus ada sebagai pengganti tradisi historiografi sebelumnya.

Cacat kedua yang terdiagnosis dalam tubuh posmodernisme adalah sikap eklektisismenya yang ternyata tidak sesuai dengan sikap lain yang tekankannya: “biarkan masing-masing nilai bergerak menurut jalur dan arahnya sendiri-sendiri!” Pada sisi lain, ketika ia memproklamasikan kematian rasio dan akal budi manusia, namun ternyata dengan penuh keyakinan ia sendiri mengumumkan produk pemikiran rasio dan akal budi manusia yang bernama: posmodernisme (Hakim, 1999:306). Dalam kasus sejarah Indonesia, bukan rahasia lagi kalau posmodernisme menuduh perspektif sejarah modern tidak mampu menggunakan rasionya yang telah “mati” dalam menyusun historiografi, dengan bukti merebaknya bau mitos dalam sejarah Indonesia. Namun ia sendiri berusaha secara “sok rasional” dalam menafsirkan sejarah menurut seleranya sendiri.

Cacat ketiga, adalah sikap posmodernisme yang dalam batas tertentu bisa menuju kutub ekstrem. Sikap relativismenya yang berlebihan misalnya, bisa menggiringnya menuju nihilisme, dengan ungkapan apologis “apa saja boleh, pokoknya terserah anda! Yang penting kita saling menghargai nilai-nilai yang kita anut masing-masing!”. Dengan membiarkan masing-masing nilai bergerak menurut arahnya sendiri, sembari berlindung dalam slogan anti-dominasi, posmodernisme kelihatan apriori (anti) dialog (Hakim, 1999:306). Padahal melalui dialog, masing-masing aliran sejarah akan benar-benar teruji keabsahan, keefektifan dan kebenarannya secara argumentatif. Hal ini bisa kita lihat pada sikap posmodernisme yang enggan berdialog dengan sejarah modern, kecuali mengkritik habis tanpa ampun.

Cacat terakhir yang disebutkan di sini—yang berarti masih banyak cacat lain—adalah upaya dekonstruksi mereka terkesan retorika belaka. Ibarat lempar batu sembunyi tangan. Posmodernisme menghujat habis sejarah modern, baik yang berperspektif Neerlandosentris ataupun Indonesiasentris, namun ia tidak bisa menunjukkan alternatif konkret yang seperti apa yang diharapkan posmodernisme dalam penulisan sejarah. Tuduhan ini bisa saja kita tujukan pada Bambang Purwanto misalnya, dimana ia menggugat historiografi Indonesiasentris, lalu ia menawarkan post-Indonesiasentris. Namun sayangnya seperti apa post-Indonesiasentris itu tidak dijelaskan secara detil dan tidak dicontohkan secara langsung melalui penulisan sejarah Indonesia dengan perspektif alternatif ini.

Penutup: Refleksi Diri

Sebagai penutup dalam tulisan ini, penulis menyimpulkan bahwa terjadi mitologisasi dalam sejarah Indonesia, baik oleh sejarah modern maupun posmodern. Meski dilakukan secara rasional, namun usaha mereka kembali menciptakan mitos baru secara berulang-ulang. Hal ini sesuai dengan pemikiran Horkheimer bahwa usaha manusia rasional adalah mitos.

Penulis mencoba untuk menutup tulisan ini dengan merendah hati, sembari mengingatkan bahwa tulisan ini mungkin juga merupakan sekedar mitos belaka.

Daftar Rujukan

Adam, Asvi Warman. 2008. Militerisasi Sejarah Indonesia: Peran A.H. Nasution. Dalam Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto, & Ratna Saptari (eds), Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (hlm.111-124). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KITLV-Jakarta, & Pustaka Larasan

Adam, Asvi Warman. 2007. Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Anonim. “SBY-Kalla Resmikan Museum Pak Nas,” Jawa Pos, 4 Desember 2008, p.3

Budiman, Arief. 1999. Posmo: Apa Sih?. Dalam Suyoto (eds), Posmodernisme dan Masa Depan Peradaban (hlm.21-24). Yogyakarta: Aditya Media

Hakim, M. Arief. 1999. Sinyal ‘Kematian’ Posmodernisme. Dalam Suyoto (eds), Posmodernisme dan Masa Depan Peradaban (hlm.303-309). Yogyakarta: Aditya Media

Hardiman, Budi. 1993. Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu, Masyarakat, Politik, dan Posmodernisme menurut Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius

Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia: suatu alternatif. Jakarta: Gramedia

Kuntowijoyo. 1999. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya

McGregor, Katharine E. 2008. Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia, terjemahan oleh Djohana Oka. Yogyakarta: Penerbit Syarikat

Nordholt, Henk Schulte; Bambang Purwanto, dan Ratna Saptari. 2008. Memikir Ulang Historiografi Indonesia. Dalam Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto, & Ratna Saptari (eds). Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (hlm.1-31) Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KITLV-Jakarta, & Pustaka Larasan

Notosusanto, Nugroho & Ismail Saleh. 1968. The Coup Attempt of the ‘September 30 Movement’ in Indonesia. Jakarta: Pembimbing Masa

Purwanto, Bambang & Asvi Warman Adam. 2005 Menggugat Historiografi Indonesia. Yogyakarta: Ombak.

Purwanto, Bambang. 2006. Gagalnya Historiografi Indonesiasentris!?. Yogyakarta: Ombak

Resink, G.J. 1987. Raja dan Kerajaan yang Merdeka di Indonesia 1850-1910, terjemahan KLTIV dan LIPI. Jakarta: Djambatan

Sindhunata. 1983. Dillema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyrakat Modern oleh Max Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt. Jakarta: Gramedia

Sjamsuddin, Helius. 2007. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Ombak

Sugiharto, I. Bambang. 1996. Posmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat. Yogyakarta: Kanisius

Sutherland, Heather. 2008. Meneliti Sejarah Penulisan Sejarah. Dalam Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto, & Ratna Saptari (eds), Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (hlm.33-66) Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, KLTIV-Jakarta, & Pustaka Larasan

~ oleh Mr. Aditya pada 9 Desember 2008.

3 Tanggapan to “Sejarah Itu Mitos”

  1. nice job

    keep writing, your writing is very usefull to me.
    great job

    diana

  2. mas… bagus nih pembahasannya…
    boleh aku copas yach…? please

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: